Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya dikejar target penanaman padi dengan sistem modern. Hal ini diungkap usai melakukan tanam benih langsung di wilayah Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (12/8/2026).
"Ini kan namanya pertanian modern yakni Advance Agriculture System ini adalah pertanian tabela (tanam benih langsung). Namun, memang secara biaya produksi itu lebih tinggi, tapi hasilnya diharapkan nanti 6,7 menjadi 10 ton per hektare," ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya Ely Suminar kepada TribunPriangan.com,
Ely menjelaskan, untuk jumlah benih yang ditebar seberat 80 kg setiap satu hektare dengan target 19 hektare tersebar di beberapa kecamatan.
"Untuk sistem penanamannya juga bisa kita lihat perbedaannya menggunakan drum seeder langsung ditabur per hektare itu yang awalnya membutuhkan kurang lebih 35 kg sekarang menjadi 80 kg per hektare," jelas Ely.
Bahkan sistem tabela ini memang yang dibutuhkan populasi yang padat. Kalau dulu yang dibutuhkan itu pertumbuhan anakan.
Tapi sekarang karena populasi padat, sehingga dengan populasi padat diharapkan produksinya lebih tinggi.
"Untuk segi waktu penanaman hingga panen tidak ada perbedaan, sama dengan penanaman padi biasa. Namun, populasinya lebih padat," pungkasnya.
Selain itu, untuk sistem pengairan sama dan yang membedakan tata cara penanaman dengan jumlah benih lebih banyak.
"Sistem air pun biasa, yang berbeda cara pola tanam dan jumlah benih, pupuk lebih tinggi, dari urea 250 kg menjadi 300 kg, dan NPK dari 300 menjadi 400 kg per hektare," ucap Ely.
Cara inilah sebagai antisipasi di musim kemarau supaya tetap kaya air dan peningkatan produksi padi lebih padat.
"Ya itu kita pilih di lahan memang sumber airnya sangat tersedia. Karena, tanaman padi awal itu membutuhkan air yang banyak. Jadi ini bukan untuk mengubah pola air, tapi pola tanam sama, pola budidaya sama, hanya populasinya memang dipadatkan," ungkapnya.
Kelebihannya pun cukup kuat terhadap serangan hama, karena sebelum ditanam, benih padi dilakukan proses perendaman selama dua hari.
"Ini karena si benih dari awal kita sudah rendam dengan pestisida, dan kita sebelum tanam sudah semprot dengan pestisida pra tumbu, untuk meminimalkan serangan hama pengganggu," tuturnya.
Untuk di kota Tasikmalaya masih tahap awal tanam, tapi kalau menurut metode yang dilakukan oleh kementerian minimal menghasilkan 10 ton per hektare.
"Dari keseluruhan lahan ada 19 hektare, dan kami sudah melakukan proses tabela ini di lahan 8 hektare, mudah-mudahan terkejar targetnya," jelas Ely.(*)