TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Bentrokan antarkelompok Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Merangin, melibatkan kelompok Temenggung Jon dan Temenggung Pak Jang.
Pekerja Sosial (Peksos) Ahli Muda Bidang Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PUKS) DSPPPA Merangin, Azrul Affandi, mengatakan kedua kelompok tersebut memiliki ikatan keluarga dengan sejumlah kelompok SAD lainnya.
Bentrokan itu terjadi Senin (10/8/2026) sore.
Azrul menjelaskan kelompok Temenggung Pak Jang saat berdomisili di Desa Sungai Ulak, sedangkan kelompok Temenggung Jon berada di kawasan Mentawa.
Menurutnya, hubungan kekerabatan membuat persoalan yang terjadi kemudian diketahui oleh keluarga dari masing-masing kelompok.
"Jon punya ikatan keluarga ke keluarga Suku Anak Dalam yang ada di Bukit Tambang Emas, Sialang dengan Lantai Seribu," ujar Azrul dalam wawancara bersama Tribun Jambi.
Keluarga dari kelompok lain, termasuk dari Nalo, kemudian mendapat kabar mengenai persoalan tersebut.
Namun, tidak seluruh anggota kelompok dari keluarga yang dihubungi datang untuk bergabung.
Hal serupa juga terjadi pada kelompok Temenggung Pak Jang.
Pak Jang menghubungi keluarganya yang berasal dari Teboh dan Air Hitam.
Menurut Azrul, mereka datang dengan tujuan membantu menyelesaikan persoalan, tetapi hanya sebagian perwakilan yang hadir.
"Tujuannya datang untuk menyelesaikan masalah. Namun, sampai saat ini titik permasalahan belum bisa didapat," katanya.
Pemerintah Upayakan Mediasi
Azrul mengatakan pihak pemerintah melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kabupaten Merangin berupaya meredam konflik tersebut.
Dia bersama timnya akan kembali melakukan pendekatan dan mediasi terhadap kelompok-kelompok yang terlibat.
"Kami akan terus berupaya, support kami dengan tim saya, dengan Nurul, dengan Otim agar masalah ini bisa clear hari ini," ujarnya.
Azrul mengatakan pihaknya akan berupaya mencari jalan penyelesaian dengan berbagai cara, sembari menjaga situasi di Merangin tetap aman dan kondusif.
"Bagaimanapun caranya saya akan berusaha clear, menjaga supaya Merangin ini tetap aman dan kondusif," katanya.
Selain melibatkan tim dari pemerintah, Azrul juga berencana berkoordinasi dengan pemerintah desa.
Salah satu pihak yang akan dihubungi adalah Kepala Desa Sungai Ulak karena Temenggung Pak Jang berdomisili di wilayah tersebut.
"Mungkin saya akan hubungi Pak Kades sementara. Nanti coba saya hubungi untuk melakukan mediasi," ujarnya.
Libatkan Pemerintah Desa
Menurut Azrul, pemerintah desa sebenarnya sejak awal telah ikut dalam upaya penyelesaian persoalan tersebut.
Kepala Desa Sungai Ulak, yang disebut Azrul dengan nama Acang, juga telah hadir dalam proses pembahasan sebelumnya.
"Pak Kades Acang sudah hadir juga. Waktu malam itu desa dari Sungai Ulak juga sudah datang," katanya.
Azrul menilai keterlibatan pemerintah desa penting apabila persoalan tersebut terus berlarut.
Terlebih, masyarakat akan memasuki momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik IndonesDia pada 17 Agustus 2026.
Dia berharap tidak ada konflik yang mengganggu suasana peringatan kemerdekaan, khususnya di wilayah yang menjadi tempat tinggal kelompok SAD yang berselisih.
"Kalau ini berlarut-larut, mengingat kita akan mengingat 17 Agustus, kalau dapat zero masalah, kita tidak ada konflik," ujarnya.
Azrul mengatakan pihaknya akan menyampaikan arahan kepada keluarga-keluarga yang berada di Sungai Ulak maupun kelompok yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka.
Dia berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan bersama-sama menjaga situasi agar tetap kondusif.
"Karena ini akan 17 Agustus, kalau dapat kita sama-sama merayakan hari kemerdekaan kita," pungkasnya. (Tribun Jambi/Frengky Widarta/Asto)
Baca juga: Kronologi Bentrokan Suku Anak Dalam di Merangin, Situasi Memanas di Jalan Lintas Sumatera
Baca juga: Jokowi Buka Suara Soal Hubungan Prabowo-Gibran usai Rapat Viral