TRIBUNMANADO.CO.ID – Apa itu hernia? Apa penyebabnya? Dan benarkah penyakit yang sering disebut "usus turun" tersebut bisa sembuh hanya dengan dipijat?
Pertanyaan tersebut dibahas dalam Tribun Podcast bersama dokter spesialis bedah, dr Nathaniel Elizer Pali, SpB, di Studio Podcast Tribun Manado, Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara, Selasa (11/8/2026).
Dalam sesi tanya jawab, dr Nathaniel menyebut kasus hernia cukup banyak di Sulawesi Utara.
Sebagian pasien baru berobat setelah mengalami komplikasi karena sebelumnya memilih dipijat atau diurut.
Lantas, apa penyebab hernia dan siapa yang paling berisiko mengalaminya?
Apakah hernia pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa?
Benarkah benjolan akibat hernia bisa sembuh jika dipijat?
Bagaimana penanganannya dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah hernia?
Berikut petikan wawancara dengan dr Nathaniel Elizer Pali, SpB.
Carrol Tanod:
Halo Tribuners, selamat pagi. Kembali lagi bersama saya Carol Tanod di program Tribun Podcast. Dan pada pagi hari ini saya tentunya tidak sendiri. Saya ditemani oleh rekan saya Kak David Kusuma. Halo, Kak David, selamat pagi.
David Kusuma:
Halo, selamat pagi, Carrol.
Carrol Tanod:
Jadi, Tribuners, pada sesi kali ini kita akan membahas mengenai hernia. Jadi, bagaimana kita mengenali gejala dan penanganan hernia dan tentunya bersama dengan narasumber kita yang sudah hadir pada pagi hari ini, yaitu dr Nathaniel Elizer Pali, SpB. Halo, dokter, selamat pagi.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya, selamat pagi.
David Kusuma:
Sehat-sehat ini, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya.
Carrol Tanod:
Dokter, sebelum kita membedah lebih jauh lagi bagaimana itu soal hernia, mungkin dokter boleh berkenalan dulu dengan para Tribuners yang ada di rumah, mulai dari nama, spesialis dan kegiatan sehari-hari juga, dan saat ini bekerja di RS mana.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Oke, ya. Selamat pagi. Saya dengan dr Nathaniel Elizer Pali, SpB. Saya saat ini bekerja sebagai dokter spesialis bedah di RS Budi Mulia Bitung dan juga di RS MMC Paal Dua. Untuk keseharian saya, biasanya saya praktik itu setiap hari, dari Senin sampai Sabtu. Tapi kebanyakan praktiknya di Bitung.
Carrol Tanod:
Oke. Nah, dokter, mungkin biar lebih dekat lagi dengan para Tribuners di rumah ini, mungkin dokter ini aslinya kelahiran di mana dan dibesarkan di mana, Dok?
David Kusuma:
Mungkin dokter bisa cerita juga pengalaman sekolah dari SD hingga kuliah di mana dan tantangan saat dokter bersekolah hingga kuliah mungkin bisa dibagikan ke Tribuners.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Oke. Saya lahir di Manado, tahun 1990. Terus saya besarnya di Kota Kotamobagu, itu sekitaran 200–300 km dari sini. Kemudian, dari kecil itu memang dari sana, sekolah sampai SMP. Kemudian SMA saya di Tomohon, di SMA Lokon, kemudian kuliah di Unsrat dari tahun 2008 sampai 2014. Kemudian, lanjut spesialis bedah juga di Unsrat, tahun 2016 sampai 2022.
David Kusuma:
Apakah ada tantangan selama kuliah sampai mengambil S2?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Ya, untuk tantangan memang selain kita belajar, kita harus juga jaga kondisi kesehatan. Karena memang untuk menjadi dokter harus tetap fit dalam kondisi apa pun, selama 7 x 24 jam harus tetap fit. Kemudian, selain menjaga kesehatan, ya harus memang banyak belajar. Karena memang untuk jadi dokter itu bukan cuma belajar selama kuliah, tapi belajarnya itu lifelong learning. Kalau nggak belajar ya memang akan tertinggal.
Carrol Tanod:
Tadi kan dokter bilang kalau jenjang pendidikannya dokter bisa dibilang pindah-pindah kota ya, walaupun masih di Sulawesi Utara. Nah, untuk kesuksesan dokter ini yang sekarang pastinya kan nggak lepas dari orang tua ya, Dok. Mungkin bisa diceritakan sedikit orang tuanya asli dari mana dan mungkin punya latar belakang juga di dunia medis atau justru profesinya berbeda.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Ayah saya dokter di Kota Kotamobagu. Beliau seorang dokter spesialis penyakit dalam. Kenapa bisa jadi dokter? Ya, memang karena mencontohi beliau. Cuma kenapa nggak ambil penyakit dalam? Ya karena memang minatnya berbeda.
David Kusuma:
Apa cita-cita dokter sewaktu kecil?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Memang dari kecil ada cita-cita untuk jadi dokter. Cuma setelah menjalani pendidikan memang kalau dilihat ketertarikan memang ke arah dokter spesialis bedah. Makanya ambilnya bedah.
David Kusuma:
Berarti kalau dokter spesialis bedah ini tidak takut darah ini, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Ya, harusnya.
David Kusuma:
Kalau hobi apa, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk hobi, ya mungkin karena memang dari awal kuliah memang diharuskan untuk olahraga ya. Memang hobi olahraga. Cuma olahraganya paling yang paling ringan itu jogging atau lari biasa. Lari 5 atau 10 km. Kemudian kalau olahraga lainnya basket sama sepak bola.
David Kusuma:
Kalau klub favorit ada, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Klub favorit mungkin baru bertanding di Jakarta. Klub favoritnya Chelsea.
David Kusuma:
Kalau dokter kalau sudah berkeluarga?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya, saat ini saya sudah berkeluarga. Anak dua. Yang satu umur 9 tahun, yang satu umur 7 tahun.
David Kusuma:
Keluarga di Manado juga?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya, keluarga di Manado.
David Kusuma:
Apakah istri dokter juga?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau istri sekarang lagi fokus untuk jaga anak.
Carrol Tanod:
Sebelum kita masuk ke sesi selanjutnya ini saya penasaran nih, Dokter. Apa sih, Dok, momen atau pertimbangan utama yang bikin dokter itu mantap memilih spesialis bedah? Apakah karena orang tua atau?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau mungkin orang tua kayaknya jauh karena orang tua penyakit dalam, spesialis penyakit dalam. Kalau untuk bedah saya sendiri ambil bedah karena memang dokter bedah itu beda dengan yang lain. Jadi selama ini di rumah sakit itu kalau dokter penyakit dalam, dokter anak, dokter saraf itu masih bisa ditangani oleh dokter umum. Tapi masalah bedah itu memang cuma dokter bedah yang harus tangani. Mungkin karena ingin lebih mendalami hal itu, saya lebih tertarik arah bedah karena memang cuma dokter bedah yang bisa menangani hal semacam itu.
Carrol Tanod:
Selama dokter bertugas atau melayani masyarakat, ada nggak sih pengalaman yang paling berkesan atau bermakna yang pernah dokter alami?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Yang paling bermakna kalau pasien datang itu harus dioperasi tanpa adanya bantuan dari BPJS atau apa. Nah, itu memang apalagi kerja di rumah sakit yang swasta itu memang agak susah, cuma tetap torang (kita) harus membantu tanpa memandang bulu apakah dia memang ada BPJS atau nggak, tetap harus torang tindakan. Karena memang secara kode etik atau secara nurani kalau pasien datang minta tolong nggak bisa itu orang tolak, harus torang bantu. Nah, di saat itu memang torang harus dengan ikhlas membantu walaupun memang ya kondisi karena kondisi darurat harus membantu. Itu yang memang saat itu waktu itu bermakna sekali karena memang dia nggak bisa, mau bikin apa-apa nggak bisa, ya dengan apa adanya tolong bantu dengan ikhlaslah.
Carrol Tanod:
Kalau di ruang lingkup praktik dokter sehari-hari ini, apakah kasus hernia ini termasuk penyakit yang sering dokter temui di Sulawesi Utara?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Ya, untuk di Sulawesi Utara kasusnya ini banyak. Dan yang paling banyak itu yang sudah komplikasi karena memang kebanyakan orang kalau berbicara mengenai usus turun atau hernia, itu orang datang bukan ke dokter dulu, tapi ke tukang urut dulu. Nanti kalau sudah tidak tertangani baru datang ke dokter.
Carrol Tanod:
Nah, Dok, di masyarakat itu di Manado itu hernia itu kan sering dibilang "baholo". Secara medis itu seperti apa, Dok? Dan penyebab utamanya itu apa?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Hernia itu definisinya dari kamus kedokteran namanya protrusi isi perut keluar. Artinya protrusi itu dia dari dalam keluar dan menonjol di luar. Jadi entah apakah itu usus atau lemak perut. Nah, itu yang keluar dari isi perut sehingga menonjol di luar. Kalau pada pria biasanya di buah zakar. Kalau pada wanita jarang memang, tapi kebanyakan di samping paha atau ada juga di sekitar pusar.
David Kusuma:
Pada wanita juga bisa terjadi hernia?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya. Pada pria itu paling sering karena memang lokasi untuk yang apalagi di daerah lipat paha sampai di buah zakar itu karena kan adanya kelemahan dinding dan tekanan yang kuat dan terutama laki-laki kan kerjanya memang ada yang kebanyakan angkat berat. Nah, sehingga bisa menyebabkan hernia. Dan paling sering memang pada pria.
David Kusuma:
Jadi apa penyebabnya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Penyebab hernia itu kalau pada orang dewasa, apalagi pada pria itu kebanyakan karena kelemahan dinding otot atau dinding perut atau tekanan yang besar dari dalam. Nah, biasanya tekanan yang besar itu berasal dari saat kita bekerja dan mengedan, saat kita mengedan terlalu kuat, saat mengangkat berat gitu. Makanya sering pada pria karena pria kan sering bekerja angkat berat.
David Kusuma:
Jadi itu beda dengan usus buntu.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Beda. Kalau usus turun itu dia keluar. Jadi masih bisa masuk-keluar, masuk-keluar. Kalau usus buntu kan ada peradangan, beda. Jadi memang dua-duanya harusnya dioperasi, cuma kalau pada kasus buntu begitu kena langsung jadi emergency atau darurat. Jadi nggak bisa ditunda. Kalau usus turun kan ada, kadang dia masuk-keluar, masuk-keluar. Nah, itu yang sering bikin orang, "Oh, nanti saja, nanti saja dioperasi," karena masih bisa direncanakan begitu.
Carrol Tanod:
Dok, apakah itu juga berisiko untuk anak-anak dan lansia?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk anak-anak memang ada. Kalau untuk teorinya anak-anak sedikit berbeda dengan orang dewasa. Kalau anak-anak itu biasanya dari janin, dari perkembangan. Jadi, saat perkembangan janin, buah zakar itu kan dia akan turun melalui celah. Nah, celahnya itu pada anak-anak tidak menutup. Makanya usus itu atau isi perut keluar dari celah itu. Nah, di situ kita harus menutup lubangnya itu, gitu.
David Kusuma:
Rata-rata umur berapa paling sering terkena hernia ini, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau umur paling sering memang kebanyakan pada usia tua, lansia. Karena memang kelemahan dinding otot. Kalau pada anak-anak memang didapat dari lahir. Tapi biasanya dapat saat orang tua melihat kalau anak sering menangis baru kelihatan dia keluar. Tapi kalau jarang menangis atau jarang dievaluasi mungkin dapatnya sekitar pada 1 tahun atau 2 tahun. Jadi tergantung kalau pada anak-anak tergantung orang tuanya lihat, oh ini munculnya muncul nggak. Nah, ada juga saat anak-anak menangis waktu umur 2 bulan, 3 bulan sudah mulai kelihatan.
David Kusuma:
Nah, menyambung yang tadi yang kata dokter ada pasien yang nanti datang sudah komplikasi karena sudah lebih dulu ditangani tukang pijat atau tukang urut. Nah, kalau dipijat dia bisa sembuh nggak?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau namanya usus turun atau hernia itu dia kan kondisinya isi perut keluar. Nah, kalau dia misalnya ada benjolan, kalau dia masih bisa masuk dia akan masuk sendiri. Makanya kan kadang orang bilang dipijat langsung masuk, tapi namanya sudah ada lubang, sudah ada celah.
David Kusuma:
Lubangnya itu apa maksudnya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Nah, itu tempat ususnya pertama keluar. Nah, di situ dia akan jadi celah di situ. Apabila celah itu nggak ditutup, walaupun dia mau dipijat, mau diapa, itu tetap akan ada lubangnya itu. Dia akan tetap keluar dari situ. Jadi, masalah mau dibilang dipijat itu sebenarnya tidak disarankan dokter karena ada risiko begitu dia tercekat dan dipijat itu bisa rusak yang benjolannya. Entah itu usus atau lemaknya bisa sampai, ya, ada risiko sampai meninggal. Kalau dibiarkan.
Carrol Tanod:
Kalau dipakaikan korset bisa?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau pada laki-laki ada yang dijual namanya penyangga. Memang tujuannya supaya dia nggak makin keluar. Tapi kembali lagi ke teori, apabila dia sudah keluar dan ada celah, tanpa celahnya ditutup begitu penyangganya dikeluarkan atau dicabut itu pasti akan keluar lagi.
David Kusuma:
Hernia itu usus atau apa sih sebenarnya yang keluar itu?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Hernia itu istilahnya organ dalam perut bisa usus atau bisa saja lemak perut. Lemak perut itu namanya omentum.
David Kusuma:
Berarti kita mesti lagi olahraga supaya jangan banyak berlemak juga ya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Bukan masalah lemaknya sebenarnya. Masalahnya di kekuatan dinding dan tekanan itu, kalau pada hernia. Untuk mencegah memang paling gampang memang harus latihan dari muda. Latihan ringan, beban ringan, olahraga yang rutin.
David Kusuma:
Jadi pekerjaan-pekerjaan apa sebenarnya, Dok, yang berisiko ini?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Yang berisiko itu memang orang yang sering mengangkat beban berat, terutama yang begitu mengangkat dia pasti akan mengedan. Semakin sering mengedan memang kalau masih muda mungkin umur 30–40 masih jarang, tapi kalau sudah mulai masuk ke 50, begitu dia mengedan sudah mulai lemah dinding otot itu pasti akan muncul celah di situ. Jadi munculnya hernia gitu.
Carrol Tanod:
Kalau misalnya mengedannya karena BAB, Dok, itu gimana?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau mengedan karena BAB itu kan nggak sampai lama. Jadi untuk mengedan paling butuh untuk BAB sekitar 30 detik sampai 1 menit paling lama. Tapi kalau mengangkat berat itu kan bisa sampai kalau misalnya diangkat dari gudang A ke gudang B saja sampai 20 menit, 15 menit. Nah, itu kan berisiko gitu.
David Kusuma:
Dok, itu hanya bisa dengan dioperasi untuk penyembuhan totalnya?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk penanganan hernia, tujuannya untuk menutup celah. Jadi banyak macam. Ada dengan operasi, ada juga dengan yang dibilang laser atau laparoskopi. Untuk laparoskopik dia masuk tutup dari dalam. Tapi kalau operasi kita buka dari luar, tutupnya dari luar juga dari atas. Nah, itu dengan cara ada dua macam. Dengan cara kalau di istilah kita dengan cara tension yaitu dijahit, dikeraskan, dirapatkan atau tidak tanpa tekanan (no tension) yaitu pakai jala atau mesh. Nah, tujuannya untuk memperkuat dinding yang bocor itu. Jadi setelah kita jahit itu kita tambah lapisan di atas untuk memperkuat dinding itu.
David Kusuma:
Nah, kalau laser itu bagaimana?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Laser juga tujuannya menutup. Tapi dia dari dalam. Dari lapisan, dari dalam, kita tutup pakai alat laparoskopik.
David Kusuma:
Bedanya apa itu, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Tujuannya sebenarnya sama. Cuma untuk laparoskopi insiden terjadi ulang (rekurensi) itu lebih jarang dan angka keberhasilannya lebih tinggi gitu.
David Kusuma:
Cuma dia tergantung fasilitas lagi ya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya. Karena perlu fasilitas laparoskopik.
Carrol Tanod:
Oke. Oke. Oke. Nah, Dok, tadi kan dokter bilang juga kepada anak-anak juga itu berisiko kan, Dok? Untuk dapat tindakan itu layaknya itu di umur berapa, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk anak-anak bukan berisiko, tapi anak-anak itu memang kalau misalnya saat lahir celah untuk keluarnya buah zakar itu tidak menutup sendiri, kita harus tutup. Nah, kapan itu kita operasi pada anak-anak? Pertama ada syarat, namanya rule of ten. Minimal berat badan anak itu 10 pound atau 5 kilo. Kemudian dia harus periksa darah. Hb-nya itu harus 10. Kemudian, dia tidak boleh ada batuk atau flu saat dioperasi gitu. Kapan kita operasi tanpa mengikuti aturan itu? Begitu terjadi kondisi darurat. Di mana daruratnya? Saat dia sudah tercekat. Apabila perut anak sudah kembung atau buah zakarnya sudah mulai memerah, atau perutnya mulai keras, itu kita harus tindakan tanpa memandang syarat itu. Berapa pun usianya, berapa pun beratnya harus dilakukan karena itu darurat.
Carrol Tanod:
Setelah dapat tindakan itu biasanya berapa lama untuk pemulihannya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk pemulihan, selama ini diedukasi ke pasien untuk kurangi mengedan selama sekitar 6 bulan. Karena itu perlu waktu untuk membuat dindingnya menjadi lebih keras gitu.
David Kusuma:
Apakah ada pengalaman unik dokter selama menangani pasien hernia?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Pengalaman sih selama ini kebanyakan yang sudah didapat itu kalau hernia kan biasanya pasien datang, "Dok, ini ada benjolan keluar masuk." Sering datang ke polikliniknya. Yang paling unik itu kalau di Sulawesi Utara datang sering ke gawat darurat. Perut sudah kembung, benjolan sudah nggak bisa masuk, sudah teriak-teriak, sudah kesakitan.
David Kusuma:
Itu sudah parah?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya. Karena sudah tercekat. Nah, itu yang paling unik itu sampai ada yang ususnya sudah menghitam, sudah mati dan harus dipotong sambung ususnya. Pas ditanya, "Kapan dapat?", "Oh, ini sudah 10 tahun sering keluar masuk dan baru habis dipijat." Nah, biasanya pasti jawabannya, "Oh, dulu dipijat masuk kok." Nah, gitu. Sekarang kok dipijat nggak masuk malah makin parah. Nah, itu kan pertanyaan yang sering muncul. Kenapa begitu? Karena memang pijat itu nggak disarankan. Sering dapat karena sehabis dipijat benjolannya nggak masuk.
David Kusuma:
Apakah mungkin ada juga yang merasa malu untuk berobat ke dokter?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau malu sih bukan ya. Kebanyakan, kalau orang tua, mungkin langsung datang mungkin ke poli. Kalau orang tua bisa kita edukasi dengan mudah. Tapi kalau pada orang usia produktif yang masih kerja jawabannya pasti satu, "Dok, kalau sudah operasi masih bisa nggak saya kerja lagi?"
David Kusuma:
Nah, bagaimana kondisi pasien setelah operasi?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Nah, itu dia yang sering tantangan sering dihadapi itu. Jadi harus diedukasi 6 bulan pertama itu jangan dulu banyak aktivitas mengangkat berat. Karena kalau kita paksakan jahitannya itu atau yang kita tutup itu pasti akan jebol lagi. Ya, nantinya recovery dulu sampai jahitannya mengeras, yang kita tutup itu jadi keras sehingga walaupun angkat berat dia nggak akan jebol gitu.
David Kusuma:
Kalau dokter sering dapati juga ada pasien yang wanita di Sulawesi Utara?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Jarang. Kalau wanita pun kalau dari 100 kasusnya cuma dapat paling satu. Satu atau dua.
David Kusuma:
Kalau di wanita apakah sama penyebabnya? Angkat berat juga atau apa?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB
Secara teori begitu. Cuma untuk perempuan untuk operasinya memang agak beda karena lokasinya sedikit berbeda.
David Kusuma:
Tapi penanganannya sama juga ya?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya, sama.
David Kusuma:
Kalau makanan, Dok, ada nggak pantangan kalau hernia?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau pantangan sih sebenarnya nggak ada, cuma memang kalau sudah pernah kena hernia, kita harus edukasi untuk kurangi waktu mengedan. Nah, apabila kalau memang pasien susah buang air besar, ya harus diedukasi banyak makan buah, sayur, banyak minum air putih gitu.
David Kusuma:
Nah, ini, Dok, sebelumnya kalau seperti saya kan dengan teman-teman rekan yang kerja di media ini terutama yang di kantor-kantor sering duduk itu risikonya lebih kecil atau bagaimana, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau untuk duduk sih tidak ada hubungan dengan hernia. Dan untuk masalah hernia selain di paha juga ada di pusar. Sering juga itu muncul biasanya pada orang yang obesitas.
David Kusuma:
Untuk orang yang obesitas keluarnya apa, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB
Keluar dari perut itu usus, lemak, sama. Karena saat pasien dengan obesitas itu dinding bagian pusatnya kan nanti jadi lemah sehingga gampang apabila mengedan, gampang jebol dan dia di pusatnya itu.
Carrol Tanod:
Itu bentuk benjolan ya, Dok?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya, seperti benjolan. Jadi benjolan di pusat, benjolan masuk keluar.
Carrol Tanod:
Bagaimana membedakan benjolan karena hernia dengan benjolan biasa?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Kalau pada pria itu yang paling sering kan kalau benjolan di buah zakar itu banyak, lipat paha hingga buah zakar ya. Kalau itu hernia. Kalau untuk membedakan dia dengan misalnya ada cairan di buah zakar atau ada benjolan di buah zakar itu dilihat dari batas atasnya. Jadi kalau hernia itu dari lipat paha sampai buah zakar, dia membenjol dari lipat paha hingga buah zakar. Batas atasnya tidak jelas. Tapi kalau benjolan di buah zakar atau yang diagnosis bandingnya itu terlihat memang ada batasnya karena memang benjolannya cuma di bawah situ gitu.
David Kusuma:
Adakah mungkin tips-tips pencegahan hernia yang bisa dibagikan untuk Tribuners yang mendengar ini?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Untuk mencegah hernia memang paling masuk akal itu dengan latihan. Memang latihan beban atau olahraga rutin. Nah, untuk kalau pada pekerja yang sering angkat beban berat memang kita anjurkan untuk mengurangi kerjaan. Cuma kan sebenarnya nggak bisa karena kerjanya begitu. Jadi memang selain angkat beban harus latihan lain juga, jaga kesehatan, jaga pola makan, banyak makan buah, sayur, banyak minum air putih gitu.
David Kusuma:
Jadi, Dok, yang paling krusial yang harus diketahui, kalau sudah ada benjolan seharusnya segera berobat ya, Dok, ya?
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Iya. Begitu muncul benjolan sebaiknya berobat sebelum terjadi komplikasi gitu. Kalau sudah terjadi komplikasi, operasinya semakin rumit dan bisa berisiko hingga meninggal kalau tidak ditangani dengan cepat.
David Kusuma:
Sebelum kita mengakhiri podcast ini, mungkin ada closing statement dari dokter terkait apa mitos dan fakta seputar hernia ini dan edukasi-edukasi singkat mungkin kepada Tribuners yang mendengar ini.
dr Nathaniel Elizer Pali, SpB:
Oke, untuk para Tribuners. Untuk masalah hernia, pertama apabila mulai muncul benjolan harap segera datang berobat ke dokter. Kemudian untuk mitos apabila dipijat bisa masuk kembali, itu mitos. Karena memang itu harus ditindaki, karena itu sudah terbentuk saluran dan saluran itu harus ditutup, jadi tidak bisa kita pijat terus. Memang kalau hernia ada yang bisa masuk kembali, tapi kalau misalnya dia setelah dipijat itu dia akan keluar lagi gitu. Dan hati-hati apabila masih percaya dengan mitos itu, sering terjadi kejadian pasien datang dengan komplikasi, setelah dipijat benjolannya makin parah dan bisa berakibat operasinya menjadi lebih rumit dan bisa berisiko menjadi lebih parah. Kemudian untuk mencegah agar tidak terjadinya hernia, paling dari saya itu rajin olahraga, olahraga ringan, kemudian banyak makan buah, sayur, dan banyak minum air putih. Itu saja mungkin take home message-nya dari saya.
David Kusuma:
Oke. Nah, Dok, terima kasih banyak ya, Dok. Di sela-sela kesibukan masih menempatkan diri menjadi narasumber edukasi hernia ini. Karena banyak mitos yang mungkin orang Manado belum ketahui bahwa "itu mitos" kan seperti itu faktanya ya. Ini dari dokter tadi. Oke, kita mengakhiri podcast ini ya.
Carrol Tanod:
Terima kasih banyak dokter dan untuk Tribuners di rumah, itu saja untuk sesi kita pada hari ini dan sampai jumpa di sesi Tribun Podcast selanjutnya.