Oleh: R. K. Ariyandi (Praktisi Perbankan, Banjarmasin)
BANJARMASINPOST.CO.ID- Tahun ini, ulang tahun Banua memilih suasana yang lebih sederhana dan khidmat. Puncak peringatan Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan direncanakan berlangsung di Masjid Raya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, disertai peresmian masjid, salat berjemaah, dan doa bersama. Rangkaian lainnya hadir melalui kegiatan sosial, olahraga, pameran UMKM, perlombaan inovasi, serta layanan transportasi bagi masyarakat.
Pilihan itu membawa pesan yang patut direnungkan. Ulang tahun sebuah daerah tidak selalu harus ditandai oleh suara yang paling meriah. Kadang-kadang, makna justru tumbuh dalam suasana yang lebih tenang: ketika rasa syukur mendapat tempat, kebersamaan dipelihara, dan pertanyaan tentang manfaat berani diajukan. Setelah rangkaian acara selesai, apa yang tetap tinggal dalam kehidupan masyarakat?
Hari Jadi ke-76 mengangkat tema "Tugul Maharagu, Bagawi Laju, Banua Maju". Tugul maharagu mengingatkan kita untuk menjaga lingkungan, budaya, dan keharmonisan sosial. Bagawi laju membawa semangat bekerja cepat, tepat, dan sungguh-sungguh. Banua maju menjadi tujuan bersama, tetapi kemajuan itu perlu ditempuh tanpa membuat Kalimantan Selatan kehilangan watak dan ingatannya sendiri.
Menjaga bukan berarti menahan perubahan. Nilai-nilai Banua justru perlu dibawa masuk ke dalam perubahan agar pembangunan tetap memiliki arah. Kemajuan tanpa akar dapat membuat sebuah daerah tumbuh secara fisik, tetapi perlahan kehilangan rasa. Di sinilah kayuh baimbai dan badingsanakan menemukan makna yang lebih nyata: pembangunan dikerjakan bersama, pelayanan tidak membeda-bedakan, dan kemajuan satu wilayah ikut membuka jalan bagi wilayah lainnya.
Nilai tersebut sejalan dengan visi "Kalsel Bekerja": berkelanjutan, berbudaya, religi, dan sejahtera menuju Gerbang Logistik Kalimantan. Namun visi besar selalu menghadapi ujian yang sederhana: apakah ia hadir dalam keseharian warga? Kemajuan yang hanya terbaca dalam angka, tetapi belum sepenuhnya terasa hingga ke kampung dan desa terpencil, berisiko menjadi kemajuan yang sunyi—tercatat dalam laporan, tetapi belum cukup hadir bagi warga yang masih menempuh jarak jauh untuk memperoleh layanan publik.
Karena itu, pembangunan manusia tidak cukup dibaca dari jumlah sekolah, fasilitas kesehatan, atau program sosial. Maknanya terasa ketika anak-anak dapat terus belajar, keluarga memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, generasi muda mempunyai keterampilan yang sesuai dengan perubahan dunia kerja, dan warga yang sedang menghadapi kesulitan menemukan jalan untuk kembali berdaya. Rencana penyaluran 5.000 paket sembako dalam rangkaian Hari Jadi merupakan bentuk kepedulian yang penting. Kepedulian itu akan semakin kuat ketika terhubung dengan pengurangan kemiskinan, pelatihan kerja, serta pemberdayaan ekonomi keluarga.
Dari sudut pandang perbankan, keluarga yang ingin kembali berdaya juga membutuhkan akses keuangan yang sehat. Bagi pelaku usaha kecil, pembiayaan perlu berjalan bersama pencatatan usaha yang tertib, pemisahan keuangan keluarga dan usaha, serta kebiasaan bertransaksi secara aman. Pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan bayar dan siklus usaha dapat membantu UMKM bertumbuh tanpa terjebak pada sumber dana berbiaya tinggi. Pada titik itu, inklusi keuangan tidak lagi berhenti sebagai angka statistik, tetapi menjadi jalan yang nyata bagi keluarga untuk naik kelas.
Hal serupa berlaku pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas. Jalan, jembatan, pelabuhan, dan transportasi publik memang menghubungkan tempat. Namun makna terdalamnya adalah menghubungkan manusia dengan kesempatan. Konektivitas menjadi bernilai ketika petani lebih mudah membawa hasil panen ke pasar, nelayan memperoleh jalur distribusi yang lebih baik, pelaku UMKM menekan biaya pengiriman, anak-anak lebih mudah menjangkau sekolah, dan masyarakat di pelosok merasa lebih dekat dengan pusat pelayanan.
Cita-cita menjadikan Kalsel sebagai Gerbang Logistik Kalimantan perlu diterjemahkan sampai ke tingkat yang paling dekat dengan kehidupan warga. Banjarbakula dapat terus diperkuat sebagai pusat pelayanan, mobilitas, perdagangan, dan inovasi. Banua Enam memiliki kekuatan pada pertanian dan agroindustri. Sementara Saijaan Bersujud dapat mengambil peran strategis dalam hilirisasi, pelabuhan, dan jaringan logistik. Ketiganya tidak seharusnya tumbuh sebagai pulau-pulau pembangunan, melainkan sebagai satu ekosistem yang saling menghidupkan.
Kalsel Expo dan Kalsel Innovation Award juga dapat menjadi ruang penting bagi tumbuhnya usaha dan kreativitas Banua. Nilainya tidak hanya terletak pada ramainya pameran atau banyaknya gagasan yang dihimpun. Manfaat yang lebih panjang lahir ketika UMKM menemukan pasar dan kemitraan baru, sedangkan inovasi terbaik memperoleh kesempatan untuk diuji, diterapkan, dan dipakai menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.
Di sinilah ukuran pembangunan perlu dibuat lebih manusiawi. Bus yang diluncurkan adalah hasil kegiatan; mobilitas warga yang menjadi lebih mudah adalah dampaknya. Pameran yang ramai adalah hasil kegiatan; UMKM yang memperoleh pelanggan tetap adalah dampaknya. Penghargaan inovasi adalah hasil kegiatan; pelayanan yang menjadi lebih sederhana karena inovasi itu adalah dampaknya. Kegiatan penting untuk dicatat, tetapi perubahanlah yang membuat masyarakat merasa ikut memiliki pembangunan.
Di tengah semangat pertumbuhan, Banua juga perlu menjaga daya dukung alamnya. Sungai, kawasan pertanian, hutan, Pegunungan Meratus, dan lingkungan permukiman bukan sekadar latar kehidupan, melainkan bagian dari masa depan ekonomi dan sosial Kalimantan Selatan. Budaya sungai dapat dirawat melalui festival dan cerita antargenerasi, sekaligus dijadikan sumber pengetahuan dalam menata permukiman, transportasi, pengendalian banjir, serta kehidupan ekonomi. Pembangunan yang baik bukan hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menjaga ruang hidup generasi berikutnya.
Kalimantan Selatan memasuki usia ke-76 dengan pijakan yang cukup kuat. BPS mencatat ekonomi Kalsel pada triwulan pertama 2026 tumbuh 5,67 persen secara tahunan, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia Kalsel pada 2025 mencapai 76,10. Angka-angka itu penting, tetapi angka selalu membutuhkan wajah manusia agar benar-benar bermakna. Pertumbuhan terasa ketika pendapatan keluarga membaik. Infrastruktur terasa ketika perjalanan menjadi lebih mudah. Kebudayaan tetap hidup ketika generasi muda tidak hanya mengenalnya, tetapi juga diberi ruang untuk membawanya menuju masa depan.
Hari Jadi akhirnya bukan sekadar kesempatan menoleh ke perjalanan yang telah ditempuh. Ia juga menjadi saat untuk menentukan warisan seperti apa yang hendak ditinggalkan. Warisan itu tidak selalu berupa bangunan besar. Ia dapat hadir sebagai pelayanan yang semakin dipercaya, UMKM yang semakin kuat, generasi muda yang semakin terampil, lingkungan yang semakin terjaga, budaya yang tetap hidup, dan masyarakat yang merasa menjadi bagian dari arah pembangunan.
Mari bersama menjaga Banua agar tidak kehilangan jati diri, seraya terus bekerja memperluas manfaat pembangunan hingga menjangkau lebih banyak warga. Sebab Hari Jadi terbaik bukan hanya yang perayaannya dikenang, tetapi yang manfaatnya masih dirasakan ketika seluruh rangkaiannya telah lama selesai. (*)