Idolakan Courtois, Kiper 16 Tahun Asal Gunungkidul Ini Dipromosikan PSIM Yogyakarta ke Tim Senior
Yoseph Hary W August 13, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mimpi menjadi pesepak bola profesional mulai menemukan jalannya bagi Athaullah Daib. Kiper muda asal Gunungkidul itu kini mendapat kesempatan berharga setelah dipromosikan PSIM Yogyakarta dari skuad Elite Pro Academy (EPA) ke tim senior.

Menariknya, penjaga gawang kelahiran 9 April 2010 tersebut memiliki sosok idola yang menjadi inspirasinya dalam bermain di bawah mistar. Dia adalah Thibaut Courtois, kiper asal Belgia yang kini memperkuat Real Madrid.

Kesempatan penting

Di usia 16 tahun, Daib sudah mendapat kesempatan berlatih bersama tim senior PSIM selama satu musim. Kesempatan tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan kariernya sekaligus mendekatkannya dengan mimpi yang selama ini hanya ada dalam bayangan.

“Dahulu hal ini selalu terbawa ke dalam mimpi. Saya sering bermimpi bisa bermain di tim senior, dan alhamdulillah sekarang mimpi tersebut sudah menjadi kenyataan,” ujar Daib, Kamis (13/8/2026).

Pelajar kelas XI SMA Negeri 2 Playen itu mengaku bersyukur bisa mendapatkan kepercayaan untuk bergabung dengan skuad utama Laskar Mataram.

“Pertama-tama, saya mengucapkan alhamdulillah karena sudah bisa masuk ke dalam tim senior pada usia 16 tahun ini,” katanya.

Pantauan van Gastel

Promosi tersebut bukan sekadar keputusan mendadak. Pelatih kepala PSIM, Jean-Paul van Gastel, melihat langsung potensi yang dimiliki Daib selama menjalani latihan bersama tim senior.

Pelatih asal Belanda itu memang memiliki perhatian terhadap perkembangan pemain muda. Pengalamannya membina pemain di Akademi Feyenoord Rotterdam selama sembilan tahun turut membuatnya antusias melihat talenta muda yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

“Saya sangat senang bekerja dengan talenta-talenta muda. Kami mengundang anak ini berlatih bersama kami karena ia baru berusia 16 tahun dan performanya cukup baik. Jadi, kami memutuskan untuk mempertahankannya dan mencoba mengembangkan potensinya,” kata Van Gastel.

Program latihan khusus

Daib juga mendapat program latihan khusus dari pelatih kiper PSIM, Mario Capece. Tim pelatih memberikan perhatian lebih untuk melihat sejauh mana kemampuan sang kiper muda.

“Tim pelatih merekomendasikannya kepada kami. Kemudian, Mario melatihnya secara khusus dan saya sempat memantau beberapa kali. Saya melihat anak ini memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Van Gastel.

Bagi Daib, kesempatan berlatih bersama pemain senior dan pelatih asal Eropa memberikan pengalaman baru. Ia mengaku senang bisa belajar langsung dari lingkungan sepak bola profesional.

“Bagi saya pribadi, saya cukup senang bisa dilatih oleh pelatih asing asal Eropa yang membawa budaya sepak bola Eropa ke Indonesia,” ucapnya.

Pengalaman Daib sebelumnya juga tidak hanya berasal dari kompetisi domestik. Pada 2023, ia sempat mendapat kesempatan bertanding di Swedia bersama Tim Barati. Pengalaman tersebut ikut memperbesar ambisinya untuk mencapai level yang lebih tinggi.

Target masuk timnas

Salah satu target yang kini mulai dibidiknya adalah Timnas Indonesia.

“Iya, kalau target untuk masuk tim nasional itu pasti ada,” tegasnya.

Meski sudah didaftarkan ke tim senior, perjalanan Daib bersama kelompok usia PSIM belum sepenuhnya berakhir. Ia masih diperbolehkan memperkuat tim EPA apabila dibutuhkan.

“Saya didaftarkan di tim senior, tetapi tetap bisa bermain untuk tim EPA juga,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.