TRIBUN-PAPUA.COM, TOLIKARA – Kemeriahan mewarnai Festival Budaya Religi yang digelar Kementerian Agama di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu (12/8/2026).
Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Distrik Karubaga yang merupakan ibu kota Kabupaten Tolikara ini, diikuti ratusan pelajar di kabupaten setempat.
Baca juga: Link Live Streaming Sidang Isbat Idulfitri 2026 yang Digelar Kemenag Hari Ini
Kabupaten Tolikara terletak di Provinsi Papua Pegunungan, Indonesia, dengan ibu kota kabupaten di Distrik Karubaga.
Jarak dari Karubaga yang merupakan ibu kota Kabupaten Tolikara ke Kota Wamena yang menjadi ibu kota Provinsi Papua Pegunungan sekitar 96 kilometer dengan waktu tempuh perjalanan darat sekitar 4 jam.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari dengan mengusung tema Lestarikan Budaya dan Perkuat Iman untuk Tolikara yang Maju, Damai, dan Beridentitas ini dihadiri para pejabat di lingkungan Pemkab Tolikara dan Forum Kepala Daerah, Tokoh Adat, Tokoh Agama dan masyarakat di Kabupaten Tolikara.
Festival Budaya Religi ini menjadi upaya pemerintah dalam menyelaraskan nilai-nilai agama dan kearifan lokal budaya sebagai pondasi utama pembangunan karakter, perdamaian, serta pelestarian lingkungan di Tanah Papua.
Kegiatan tersebut juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Baca juga: Kemenag Raih Penghargaan Kategori Lembaga Penggerak Pemberdayaan Ekonomi Umat
Selain itu juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama, dalam memperkuat cinta kemanusiaan, kerukunan umat beragama, moderasi beragama, dan ekoteologi.
Hal itu dikatakan Direktur Urusan Agama Kristen Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, Luksen Jems Mayor saat memberikan sambutan dalam pembukaan Festival Budaya Religi Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan.
Pada kesempatan itu, pria yang pernah menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua Barat ini juga memberikan apresiasi kepada Pemkab Tolikara, pimpinan gereja, tokoh adat, serta seluruh elemen masyarakat yang telah menempatkan agama dan budaya sebagai program unggulan daerah.
“Agama dan budaya hendaknya tidak dipertentangkan. Agama memberikan arah moral, sementara budaya adalah ruang mengekspresikan nilai-nilai luhur. Ketika keduanya berjalan secara harmonis, ini menjadi kekuatan luar biasa untuk membangun masyarakat yang damai, bermartabat, dan sejahtera,” ujar Luksen Jems Mayor
Lebih lanjut dia mengatakan, kehadiran Injil dan sejarah pekabaran agama Kristen di kawasan Pegunungan Tengah Papua tidak bertujuan untuk menghapus identitas maupun adat istiadat setempat.
Sebaliknya, transformasi nilai imaniah harus dapat berdialog dengan kebudayaan lokal tanpa menghilangkan akar tradisi masyarakat Papua.
Baca juga: Kakanwil Kemenag Papua: Moderasi Beragama adalah Jalan Tengah Demi Menyatukan Perbedaan
Lebih lanjut, Luksen Jems Mayor menyampaikan pesan penting mengenai ekoteologi turut disuarakan.
Masyarakat diimbau untuk tidak hanya memanfaatkan alam Papua, tetapi juga memikul tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawat kekayaan hutan, gunung, dan sungai demi generasi mendatang.
Pembangunan fisik di Tolikara diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pembangunan manusia.
Melalui festival ini, ia juga menekankan peran penting generasi muda Papua agar tidak kehilangan identitas di tengah era modernisasi.
Baca juga: Kakanwil Kemenag Papua Dorong Kolaborasi Pers Bangun Moderasi dan Kepercayaan Publik
Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi pemuda untuk mengenal sejarah, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat persaudaraan.
“Mari kita jadikan festival ini sebagai panggung persaudaraan, tempat kita saling menghargai dan menguatkan. Kita boleh berbeda dalam budaya, tetapi kita satu dalam kemanusiaan dan kecintaan kepada Tanah Papua serta NKRI,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos secara resmi selain menyampaikan smabutan, juga membuka kegiatan tahunan ini.
Baca juga: Kantor Kemenag Jayawijaya Digeruduk, Massa Tuntut Terbitkan Surat Sakti
Acara semakin meriah dengan pertunjukan kolosal Ukulele Pelajar yang dibawakan secara massal oleh siswa-siswi SD, SMP, hingga SMA/SMK se-Kabupaten Tolikara.
Penampilan ini memadukan petikan musik rohani dengan gerakan koreografis sebagai lambang kontinuitas pewarisan iman dan budaya kepada generasi muda.
Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara 2026 menyuguhkan berbagai rangkaian kegiatan utama, di antaranya Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil (Menggambarkan perjalanan masuknya ajaran Injil dan transformasi sosial di Lembah Toli).
Baca juga: Kemenag Papua : Kalau Pimpinan Agama Sudah Rukun, Akan Menular ke Umat
Kemudian Tradisi Lendawi (Seni tuturan ratapan dan syair perjumpaan adat khas masyarakat Tolikara), dan Atraksi Tandem Paralayang (Promosi wisata olahraga dirgantara yang menampilkan keindahan panorama alam Pegunungan Tolikara). (*)