TRIBUN-BALI.COM – Liburan semester di Bali yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi tiga mahasiswa Universitas Mataram (Unram) justru berakhir tragis. Mereka menjadi penumpang KMP Putri Yasmin yang terbakar di perairan Sekotong, Lombok Barat, Rabu 12 Agustus 2026 dini hari.
Ketiganya yakni Haula Dwi Juliyatri Hasibuan, Rahdatul Aisy Putri Salsabilla, dan almarhumah Indah Dwi Setyani.
Mereka merupakan mahasiswa semester 3 Unram yang hendak kembali ke Lombok setelah menikmati liburan semester di Bali dengan menggunakan sepeda motor.
Haula menjadi salah satu korban selamat dalam insiden tersebut.
Ia menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya bersama kedua rekannya berusaha menyelamatkan diri dengan melompat dari kapal yang terbakar.
Haula menuturkan, suasana di atas kapal mulai panik ketika kebakaran terjadi sekitar pukul 04.00 WITA.
Di tengah kepulan asap dan situasi yang membingungkan, para penumpang berusaha mencari arahan untuk menyelamatkan diri.
Baca juga: I Made Sutarjana Salah Satu dari 5 Orang Masih Dicari, Total 173 Korban KMP Putri Yasmin Terdata
Namun, menurut Haula, saat itu sulit membedakan instruksi dari kru kapal dengan teriakan penumpang.
"Kita bingung mana arahan dari kru kapal, mana yang dari penumpang. Ada yang teriak minta semua melompat. Akhirnya kita melompat dari tangga kapal. Urutannya almarhumah Indah duluan, baru saya, lalu Aisy," ujar Haula saat memberikan kesaksian di rumah duka, Kamis 13 Agustus 2026 seperti dilansir dari Tribun Lombok.
Ketiganya kemudian terjun ke laut dengan menggunakan jaket pelampung.
30 Menit Saling Menguatkan di Tengah Gelombang
Setelah berada di laut, Haula sempat berusaha meraih tangan Indah. Namun, kuatnya hempasan gelombang membuat pegangan tersebut terlepas.
Arus laut kemudian perlahan memisahkan ketiganya. Dalam kondisi gelap dan berada di tengah laut, Haula dan Indah masih berusaha saling memastikan kondisi masing-masing.
Selama kurang lebih 30 menit, keduanya saling memanggil nama untuk memberikan semangat.
"Saya panggil namanya, 'Indah!'. Dia jawab, 'Iya!'. Dia juga panggil nama saya, 'Ula!'. Kita saling jawab untuk menguatkan. Tapi lama-lama tenaga habis untuk ngomong. Akhirnya kita ikut arus saja. Setelah itu sudah tidak ada kontak lagi karena kondisi sangat gelap," tuturnya dengan nada sedih.
Empat Jam Terombang-ambing di Laut
Haula dan rekannya harus bertahan di laut selama kurang lebih empat jam sebelum bantuan datang.
Sekitar pukul 08.00 WITA, sebuah speedboat milik wisatawan asing (WNA) yang melintas di sekitar lokasi datang memberikan pertolongan.
Haula kemudian dievakuasi ke atas speedboat tersebut. Namun, ia kembali dikejutkan ketika melihat Indah ternyata juga berhasil dievakuasi oleh speedboat yang sama.
Sayangnya, kondisi Indah saat itu sudah tidak sadarkan diri.
"Saya lihat teman saya langsung di situ. Saya histeris sampai tidak bisa berkata apa-apa. Biar mental kami tidak semakin down, warga dan bule yang menolong memindahkan kami ke bagian depan speedboat agar tidak melihat langsung kondisi Indah, sebelum akhirnya kami dipindahkan ke kapal asing yang lebih besar," jelasnya.
Kejadian tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Haula. Ia mengaku tidak pernah menyangka perjalanan pulang setelah menikmati liburan semester di Bali bersama teman-temannya justru berakhir dengan tragedi.
"Dari semalam saya tidak bisa tidur. Tidak expect sama sekali bakal ada kejadian seperti ini," ungkapnya terpukul.