Renungan Harian Kristen 14 Agustus 2026 - Kasih Karunia yang Cukup
Suci Rahayu PK August 13, 2026 06:11 PM

Renungan Harian Kristen 14 Agustus 2026 - Kasih Karunia yang Cukup

Bacaan ayat: 2 Korintus 12:9 (TB)  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 

Oleh Pdt Feri Nugroho

 

Tindakan mengkultuskan ada dalam banyak budaya dan kepercayaan. Mengkultuskan berarti tindakan penghormatan yang berlebihan, bahkan bisa mengarah pada tindakan penyembahan.

 Hal-hal yang rentan dikultuskan ialah orang, dalam hal ini para pemimpin, atau benda, atau tempat.

Pemimpin yang dianggap berkarisma dapat saja dihormati secara berlebihan sehingga apapun yang diucapkannya akan dinilai sebagai kebenaran.

Jika yang dikultuskan adalah benda atau tempat maka benda atau tempat tersebut akan memiliki kekhususan disandingkan dengan yang lain.

Ini biasanya terkait dengan ritual; bahwa jika berdoa di tempat tersebut dengan benda tertentu maka doanya akan lebih diperhatikan Tuhan daripada jika dipanjatkan di tempat lain. 

Pengkultusan orang,  bisa ditandai dengan keengganan menegur ketika mereka melakukan kesalahan.

Apalagi terkait hal-hal tertentu yang terhubung langsung dengan hak istimewa dan keahliannya. 

Hal ini penting disadari agar orang yang dikultuskan tidak hanyut dalam perlakukan pengkultusan dan orang-orang tidak jatuh pada pemujaan berlebihan.

Paulus adalah orang besar pada masanya. Ia disebut rasul bagi orang-orang non Yahudi. Ketigabelas surat pastoralnya ditujukan kepada jemaat yang tersebar karena aniaya.

Ia tahu persis bahwa jemaat Tuhan telah mengalami perkembangan yang signifikan; melintasi budaya dan antar bangsa. 

Menjadi masuk akal jika ada banyak orang atau jemaat yang menghormatinya. Kemampuannya dalam menjawab persoalan-persoalan jemaat menjadi bukti kecerdasannya. 

Ini wajar sebab ia mantan ahli Taurat, murid dari Gamaliel, guru besar pada masanya.

Meskipun demikian, Paulus menyebut tentang duri dalam daging yang menggocoh dia sedemikian rupa. Itu olehnya disebut sebagai utusan Iblis. Beberapa penafsir menyebut tentang sakit mata yang parah dialami oleh Paulus. 

Ia telah berdoa mohon kesembuhan. Namun faktanya ia tetap mengalami sakit yang parah. Ini menarik. Bagaimana mungkin orang hebat sekaliber Paulus ternyata mengalami kelemahan fisik yang parah? 

Dalam pikiran banyak orang, seharusnya tidak demikian harus terjadi. 'Orang-orang yang dekat dengan Tuhan harusnya tidak perlu sakit dan hidup lebih baik daripada yang lain.' demikian kiranya pendapat mereka. 

Haruskah demikian? Jika benar, lalu bagaimana dengan Yesus sendiri yang mengalami penderitaan bahkan mati di kayu salib?

Paulus menolong kita dengan pencerahan yang ia dapatkan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." 

Ini pemaknaan yang brilian. Alih-alih menyesali diri atas keadaan buruk, sebaliknya dalam keadaan buruk justru menjadi kesempatan untuk menemukan kasih Tuhan yang dinyatakan. 

Kasih yang cukup sehingga tidak perlu mngeluh dan protes atas keadaan buruk yang terjadi. Namun tentu bukan berarti keadaan buruk itu dicari atau dengan sengaja diciptakan; ini salah!

Keadaan buruk tidak perlu dicari atau diciptakan. Keadaan buruk harus diterima sebagai kenyataan dalam kehidupan; sebagai realita kehidupan dan dimaknai secara benar 

Kasih karunia Allah selalu cukup bagi setiap kita. Itu sebabnya waspada dengan pengkultusan. Keadaan buruk bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu.

 Itu sebabnya diperlukan sikap cerdas untuk menemukan kasih karunia Allah dalam setiap peristiwa buruk tersebut. Amin.

   Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.