Merah Putih Semu Dan Nasionalisme Top-Down
Sudirman August 14, 2026 11:19 AM

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Ada fenomena yang menarik hari-hari ini, menjelang 17 Agustus 2026.

Saya berjalan menyusuri ruas kota, seperti biasanya mengamati pedagang kaki lima, para pendorong gerobak dengan anak-anak kecil menenteng karung berisi botol dan gelas plastik.

Melihat dan menjalani hari-hari ini yang tak ada ubah-ubahnya, nampaknya memang situasi kota selalu akan terasa timpang dari era ke era, entah kenapa, dan ini selalu diabaikan.

Sambil menyusurinya, mata ini tiba-tiba terfokus pada fenomena menjelang peringatan hari kemerdekaan. Nampaknya rumah-rumah tak benar merata mengibarkan “bendera merah putih.” Ada apa?

Refleksi dan momentum hari kemerdekaan setiap 17 Agustus adalah hal penting bagi kita semua.

Selain sebagai sebuah pengingat juga agar makna kemerdekaan tak pudar dan makin mendarah daging pada diri setiap individu. 

Hal mana, agar selalu memicu diri kita untuk berbuat, bergerak, mengabdi dan terdorong untuk terus menciptakan kehidupan yang maju dan sejahtera. 

Momentum peringatan kemerdekaan pada setiap Agustus juga adalah upaya serius untuk mengukuhkan rasa nasionalisme dan kecintaan kita pada tanah air ini. 

Upaya-upaya itu tergambar melalui semarak dan rangkaian kegiatan yang bernuansa perjuangan, pengorbanan, patriotisme dan seterusnya melalui baris-berbaris, gerak jalan yang pesertanya terdiri banyak unsur lembaga termasuk dari tingkatan sekolah.

Semarak Agustusan seperti beberapa lomba-lomba, antara lain lari karung, lomba balap kelereng, panjat pinang dan rangkaian lomba lainnya, bukan hanya menjadi agenda seremonial belaka tapi juga dipandang selalu menghidupkan ruh dan semangat kita dalam berbangsa dan bernegara.

Sehingga, menjadi momen istimewa yang selalu ditunggu-tunggu tiap tahunnya.

Semua kalangan ikut memperingati, lorong-lorong kota pun kadang-kadang tak bisa diakses karena digunakan dengan beberapa rangkaian lomba yang diinisiatif oleh masyarakat dan pemerintah setempat untuk  memperingati hari kemerdekaan.

Tergambar suasana yang menggembirakan dengan muatan nilai-nilai mulia seperti memupuk rasa nasionalisme kita, membangun kerja sama, membangun kekompakan, mendorong semangat gotong royong.

Puncaknya dengan adanya hadiah-hadiah menarik sehingga membuat setiap kalangan yang memperingati makin merasa antusias.

Menjelang hari peringatan ini, kegiatan demi kegiatan makin padat. Seiring dengan itu bendera merah putih sebagai suatu simbol kuat peringatan hari kemerdekaan terlihat tak nampak.

Yang seharusnya sudah berkibar di tiap-tiap rumah ternyata belum sepenuhnya merata.

Pertanyaan ini makin memenuhi pikiran saya, sampai-sampai saya berdiam sejenak, mematikan motor dan mencoba mengurai apa penyebabnya bendera itu tidak berkibar, saat di mana seharusnya semua telah serentak memasang sang saka merah putih.

Rupanya dari hasil bincang-bincang singkat saya dengan beberapa orang. Hal serupa hampir persis sama dengan respon akan fenomena ini.

Respon-respon yang tajam dan menohok itu berupa “ini adalah bentuk kekecewaan pada negara”, “Indonesia telah merdeka tapi kita belum merdeka”, “merdeka tapi hidup saya begini-begini saja”, “bukan saya yang merdeka tapi hanya mereka yang memiliki jabatan” kekayaan alam kita hanya dirasakan oleh segelintir orang” dan terakhir “apakah memang kita sudah merdeka seluruhnya”. 

Rupanya, ada maksud inti di balik tak berkibarnya bendera merah putih kita secara merata. Mari kita renungkan.

Fenomena ini sebagai simbol perlawanan

Kalau kita melihat fenomena menjelang hari kemerdekaan ini, bendera yang tidak serentak dinaikkan oleh sejumlah masyarakat adalah sebuah penanda penting.

Kalau bendera dipandang sebagai simbol negara, maka bendera yang tidak dikibarkan bisa juga dimaknai sebagai sebuah simbol perlawanan kepada negara, dalam hal ini pemegang otoritas yang tidak menunaikan peran dan tanggung jawabnya dengan baik.

Dalam masyarakat kita hari-hari ini telah menjalar sebuah keresahan bersama, rasa kecewa, rasa ketidakadilan, para koruptor yang merajalela dan kehadiran pemimpin yang hanya makin membuat gaduh situasi tanpa memecahkan inti masalah.

Hal itu tergambar dari tiga program prioritas Presiden antara lain, koperasi merah putih, makanan bergizi gratis hingga sekolah rakyat adalah program ambisius Presiden yang banyak memakan anggaran.

Imbasnya, pemangkasan anggaran terjadi di banyak bidang termasuk sekali pada program prioritas dan kebutuhan dasar kita seperti pendidikan gratis, kesehatan, dan infrastruktur dasar belum merata.

Dari fenomena ini, timbul pertanyaan.

Kemerdekaan hari ini sejatinya milik siapa?

Milik pejabat atau kelompok tertentu?

Karena rasa-rasanya hal itu tidak dirasakan oleh semua kalangan masyarakat hari ini.

Sambil melanjutkan perjalanan, hal-hal itu kembali menjadi sebuah perenungan mendalam bagi saya. Kemerdekaan kita memang seutuhnya belum mengakar.

Era Prabowo-Gibran ini, seperti fenomena pemasangan bendera merah putih yang tidak merata menjadi sebuah penanda penting bagi rezim hari ini bahwa semangat nasionalisme mengalami fase top-down, yakni naik turun, sesuatu yang dipaksakan dari atas ke bawah. 

Artinya, ada sebuah masalah yang tengah terjadi sehingga fenomena itu muncul.

Pengukuhan rasa nasionalisme akan makin menguat seiring ketika pemimpin kita menjawab semua persoalan bangsa dari tingkat pusat hingga daerah.

Hal mana di dalamnya, ada pemerataan pada akses pendidikan, pemerataan pemenuhan kebutuhan hidup, mengatasi ketimpangan yang makin akut antara yang kaya dan miskin, termasuk memberi hukuman yang berat pada para koruptor yang selalu merugikan negara. 

Ringkasnya, pemimpin kita harus dengan tulus bekerja dan menciptakan kesejahteraan pada semua kalangan, tanpa terkecuali.

Sehingga, pemihakan Presiden hari ini menjadi sangat berarti bagi kita semua.
Hal itu penting, untuk membangkitkan rasa nasionalisme kita yang tampaknya makin hari makin memudar.

Seharusnya nasionalisme, rasa kebangsaan dan cinta tanah air memang mesti tumbuh dari bawah bukan sesuatu yang dipaksakan dari atas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.