Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Kebijakan efisiensi anggaran membuat proses rekrutmen calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) tahun 2026 berbeda dari pelaksanaan sebelumnya.
Tahun ini, calon Paskibraka hanya direkrut dari pelajar sekolah yang berada di wilayah Kota Bula.
Diantaranya SMA Negeri 1 Seram Bagian Timur, SMK Negeri 1 Seram Bagian Timur, SMK Negeri 3 Seram Bagian Timur, MAN 2 Seram Bagian TimurSMA Negeri 1 Bula, SMA Alia, SMK Negeri 1 Bula dan SMK Negeri 3 Bula.
Baca juga: Belasan Warga Demo di Kantor Bupati Maluku Tengah, Tolak Pelantikan Raja Negeri Waru
Baca juga: Pelaku Pembakaran dan Pembacokan Belum Ditangkap, Warga Waipirit Ancam Blokade Jalan Lintas Seram
Padahal, pada pelaksanaan sebelumnya, rekrutmen dapat menjangkau pelajar dari seluruh kecamatan lain di Kabupaten SBT.
Kepala Bidang Bina Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Kesbangpol SBT, Rahcman Sibualamo mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah pemerintah daerah membahas kondisi pelaksanaan Paskibraka dalam rapat bersama Sekretaris Daerah (Sekda) dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
"Karena kita diperhadapkan dengan efisiensi, maka dalam rapat bersama Pak Sekda dan semua OPD, kita finalkan peserta kita ambil dari dalam Kota Bula saja," ujarnya kepada Tribunambon.com, Jumat (14/8/2026).
Rahcman menjelaskan, pada tahap awal masing-masing sekolah mendapatkan kuota untuk mengirimkan calon peserta.
Namun, komposisi tersebut kemudian mengalami perubahan setelah proses seleksi berjalan.
"Awalnya kita bagi kuota. Tapi setelah seleksi, ternyata ada yang tidak memenuhi syarat, terutama PBB-nya bermasalah. Ada juga yang mengundurkan diri," katanya.
Kondisi tersebut membuat panitia harus mencari solusi agar kebutuhan Paskibraka tetap terpenuhi dengan waktu yang tersedia.
Rahcman mengatakan, perubahan komposisi peserta bukan ditentukan berdasarkan keinginan untuk mengutamakan sekolah tertentu, melainkan menyesuaikan kondisi nyata selama proses seleksi.
Ia menegaskan, meskipun rekrutmen tahun ini dibatasi hanya dari Kota Bula, standar seleksi tetap diberlakukan kepada seluruh peserta.
Kemampuan PBB dan sejumlah kriteria lainnya tetap menjadi dasar dalam menentukan siapa yang dapat bertahan hingga tahap akhir.
Rahcman mengatakan, kebijakan tersebut merupakan langkah penyesuaian agar pelaksanaan Paskibraka tetap berjalan di tengah kondisi efisiensi dan keterbatasan waktu.
"Seiring waktu berjalan, kita mencari solusi yang terbaik. Yang penting peserta yang akhirnya ada di lapangan memang mereka yang siap," tutupnya.(*)