Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia Naik pada 2026, Lampaui Target RPJMN 2029
faridmukarrom August 14, 2026 04:48 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI – Tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia kembali mengalami peningkatan pada 2026. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan menembus 93,61 persen.

Capaian tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025 yang mencatat indeks literasi keuangan sebesar 66,64 persen dan indeks inklusi keuangan 92,74 persen.

Peningkatan ini sekaligus menjadi kabar positif karena telah melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Dalam RPJMN, target literasi keuangan pada 2029 ditetapkan sebesar 69,35 persen, sementara target inklusi keuangan sebesar 93 persen.

Hasil survei tersebut diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS).

Baca juga: Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Machado Garry Perebutan Sabuk Juara Welterweight Live di Mana?

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyebut capaian tersebut menunjukkan bahwa berbagai program peningkatan literasi dan akses layanan keuangan telah memberikan hasil yang positif.

"Pencapaian ini menunjukkan bahwa berbagai program edukasi dan perluasan akses keuangan yang dilakukan bersama oleh pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan telah memberikan hasil yang positif bagi masyarakat," kata Friderica dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).
SNLIK 2026 Jangkau 38 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota
SNLIK 2026 menjadi survei pertama yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh OJK, LPS, dan BPS dengan cakupan yang lebih luas dibandingkan survei sebelumnya.

Survei ini menjangkau seluruh 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia. Sebanyak 75.000 responden berusia 15 hingga 79 tahun dilibatkan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Menurut Friderica, data yang dihasilkan melalui SNLIK 2026 akan menjadi dasar penting dalam penyusunan berbagai kebijakan sektor jasa keuangan pada masa mendatang.

"Data SNLIK memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi masyarakat sehingga dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran," terangnya.
OJK Perkuat Edukasi dan Akses Keuangan
Meski target nasional telah terlampaui lebih cepat dari jadwal, OJK menegaskan upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan akan terus dilakukan.

Program edukasi keuangan serta perluasan akses terhadap layanan jasa keuangan akan diperkuat bersama berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

"Ini supaya peningkatan literasi dan inklusi dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia," ujarnya.

(Lutfi Husnika/Tribunmataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.