Warga Natuna Keluhkan Harga Minyakita Jauh di Atas HET Rp15.700 per Liter, Bulog Ungkap Penyebabnya
Dewi Haryati August 14, 2026 05:42 PM


NATUNA, TRIBUNBATAM.id
- Harga minyak goreng kemasan merek Minyakita di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali dikeluhkan warga.

Minyak goreng bersubsidi yang seharusnya menjadi pilihan masyarakat karena harganya lebih terjangkau itu, kini justru dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Pantauan TribunBatam.id, Jumat (14/8/2026), harga Minyakita kemasan 1 liter di sejumlah toko dan pedagang di kawasan Ranai berada di kisaran Rp21.000 hingga Rp23.500 per liter.

Padahal, HET Minyakita yang ditetapkan pemerintah hanya Rp15.700 per liter.

Artinya, harga di tingkat konsumen Natuna saat ini bisa lebih mahal sekitar Rp5 hingga Rp7 ribu dari harga yang seharusnya.

Kondisi ini membuat masyarakat harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

“Ya harga minyak rata-rata naik, termasuk Minyakita. Biasanya Minyakita kan lebih murah, sekarang cukup berat karena harganya sudah Rp20 ribu lebih, sebelumnya juga di atas HET sih, tapi masih sekitar Rp17 ribu sampai Rp19 ribu,” kata Sara, warga Ranai.

Kenaikan harga Minyakita juga diungkapkan pedagang di Pasar Ranai.

Yanto, seorang pedagang, mengatakan Minyakita yang dijualnya saat ini diperoleh dari distributor swasta dengan harga yang sudah berada di atas HET.

Sementara pasokan dari Bulog yang dapat dijual sesuai HET masih terbatas.

“Yang kami jual ini stoknya kami ambil dari distributor swasta. Kalau stok dari Bulog, kalaupun masuk, jumlahnya terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pedagang tidak memiliki banyak pilihan.

“Jadi kami pedagang ini jual sesuai dengan harga yang kami beli. Kami beli saja sudah di atas HET, jadi terpaksa jual menyesuaikan,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperindagkopum) Kabupaten Natuna, Abdul Karim, mengatakan tingginya harga Minyakita di Natuna tidak terlepas dari persoalan distribusi.

Sebagai wilayah kepulauan, biaya transportasi menjadi salah satu komponen yang cukup besar dalam mendatangkan kebutuhan pokok ke Natuna.

“Untuk wilayah Natuna itu setiap bahan pokok sangat dipengaruhi oleh biaya transportasi. Sementara untuk membawanya dari Tanjungpinang ke Natuna, ada biaya tambahan lagi,” ujarnya.

Menurut Karim, biaya transportasi dan akomodasi tersebut masuk dalam rantai distribusi, sehingga membuat harga Minyakita sulit ditekan hingga sesuai HET.

Di sisi lain, pemerintah daerah saat ini belum memiliki anggaran untuk menanggung biaya tambahan distribusi Minyakita dari Tanjungpinang ke Natuna.

“Tidak semua pedagang atau distributor di Natuna mampu membawa Minyakita kemudian menjualnya di bawah HET,” katanya.

Persoalan harga tersebut juga berkaitan dengan keterbatasan pasokan Minyakita dari Bulog.

Kepala Perum Bulog Natuna, Pencius Siburian, mengatakan kebutuhan Minyakita khusus di Pulau Bunguran Besar saja mencapai sekitar 2.000 kardus setiap bulan.

Namun, pasokan yang diterima Bulog Natuna masih bergantung pada alokasi dari Bulog Tanjungpinang.

“Minyakita yang masuk ke Natuna selama ini atas kemurahan hati dari Bulog Cabang Tanjungpinang, karena Natuna sudah di luar wilayah kerja mereka,” ujar Pencius.

Ia melanjutkan, ketika Bulog Tanjungpinang tidak mendapatkan pasokan atau tidak mengalokasikan kuota, maka Natuna juga tidak memperoleh stok Minyakita.

Bahkan, waktu pengiriman minyak goreng ini juga tidak menentu, tergantung ketersediaan stok.

“Tapi selama ini sekali kirim biasanya 800 kardus atau 9.600 liter. Itulah yang kami kelola dan hanya disalurkan ke lima kios SP2KP di Pasar Ranai,” katanya.

Minyakita dari Bulog kemudian disalurkan secara bertahap kepada pengecer, yakni dua kali dalam sepekan.

“Seminggu dua kali, kita drop Senin dan Kamis. Ketika stok Bulog masuk, relatif cepat habis karena harga jual sesuai HET dan jauh dari harga yang diambil dari distributor swasta,” ungkapnya.

Bulog Natuna menyalurkan Minyakita kepada pengecer dengan harga maksimal Rp14.500 per liter, sehingga masyarakat dapat memperoleh minyak goreng tersebut sesuai HET Rp15.700 per liter.

Pencius menyebut, sebagian besar Minyakita yang beredar di Natuna saat ini justru berasal dari distributor swasta.

“Jadi Minyakita yang beredar di Natuna sebagian besarnya masih berasal dari distributor swasta, sedangkan sisanya berasal dari Bulog,” ujarnya.

Ia memastikan Minyakita yang disalurkan Bulog dijual sesuai HET.

Namun, ketika stok Bulog habis, pedagang terpaksa kembali mengambil pasokan dari distributor swasta yang memiliki harga lebih tinggi.

“Kita sedang mencari solusi agar stok Minyakita di Natuna tercukupi dari Bulog dan bisa dijual sesuai HET, sehingga dapat meringankan beban masyarakat,” pungkasnya. (Tribunbatam.id/birrifikrudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.