14 Agustus, Gereja Katolik Memperingati Santo Maximilian Maria Kolbe, Martir Kasih
Cristin Adal August 14, 2026 05:47 PM

 

TRIBUNFLORES.COM- Setiap 14 Agustus, Gereja Katolik memperingati Santo Maximilian Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan asal Polandia yang dikenang karena pengorbanan hidupnya untuk menyelamatkan seorang tahanan di kamp konsentrasi Auschwitz pada masa Perang Dunia II.

Seorang murid Santo Fransiskus dari Assisi, ia mengabdikan seluruh hidupnya kepada Imakulata dan tetap setia kepada Kristus hingga akhir hayatnya. Ia bahkan menyerahkan hidupnya untuk menyelamatkan seorang pria yang dijatuhi hukuman mati di kamp pemusnahan Auschwitz.

Dialah Santo Maximilian Maria Kolbe, yang lahir dengan nama Raymond Kolbe di Polandia pada 8 Januari 1894, di kota Zduńska Wola, dekat Łódź. Sejak usia muda, ia dikenal sebagai anak yang hidup, cerdas, serta memiliki ketertarikan yang mendalam terhadap iman dan kasih kepada Maria yang Dikandung Tanpa Noda.

Pada 4 November 1910, ia masuk Ordo Saudara Dina Konventual dan mengambil nama Maximilian. Dua tahun kemudian, pada 1912, ia berangkat ke Roma untuk melanjutkan studi di Universitas Kepausan Gregoriana. Ketika berada di Roma, pada 16 Oktober 1917, bersama enam rekannya, ia mendirikan Militia Immaculata, sebuah gerakan kerasulan Maria yang bertujuan menyebarkan devosi kepada Perawan Maria dan melawan sikap acuh tak acuh terhadap agama.

Baca juga: Dua Relikui dari Basilika Santo Petrus di Lewouran Flores Timur, Apa Maknanya bagi Umat Katolik?

Pada 28 April 1918, ia ditahbiskan menjadi imam di Gereja Sant’Andrea della Valle.

Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke Polandia dan memulai karya misioner yang intensif melalui penerbitan Katolik. Salah satu inisiatif terpentingnya adalah menerbitkan majalah The Knight of the Immaculata atau Ksatria Maria Imakulata, yang kemudian memiliki jumlah pembaca yang sangat luas.

Pada 1927, ia mendirikan Niepokalanów, yang juga dikenal sebagai “Kota Imakulata”, sebuah biara besar yang dilengkapi percetakan dan pusat penerbitan. Seluruh karya tersebut didedikasikan kepada Perawan Maria.

Pada 1930, ia berangkat ke Jepang. Dengan belajar bahasa Jepang secara otodidak dalam waktu singkat, ia mendirikan sebuah biara lain yang dilengkapi percetakan di Nagasaki, bernama Mugenzai no Sono, yang berarti “Taman Imakulata”. Ia kembali ke Polandia pada 1936 dan terus mengembangkan Niepokalanów hingga menjadi salah satu pusat keagamaan dan penerbitan terbesar di Eropa.

Ketika Nazi menduduki Polandia, Kolbe menjadi sasaran penganiayaan. Pada 28 Mei 1941, ia ditangkap dan dideportasi ke kamp konsentrasi Auschwitz. Di sana, ia diberi nomor tahanan 16670.

Baca juga: Santo Dominikus de Guzmán, Pewarta Injil yang Abdikan Hidup bagi Kebenaran dan Kemiskinan

Beberapa bulan kemudian, setelah seorang tahanan melarikan diri, Nazi memutuskan untuk menghukum seluruh blok. Sepuluh orang dipilih untuk mati di bunker kelaparan. Salah seorang dari mereka, Franciszek Gajowniczek, menangis dan putus asa karena memikirkan istri serta anak-anaknya.

Pada saat itulah Pastor Maximilian maju dan berkata:

“Saya adalah seorang imam Katolik Polandia. Saya ingin mati menggantikan orang ini.”

Tindakannya membuat semua orang terdiam. Di dalam bunker, ia mengubah hari-hari penuh penderitaan itu menjadi masa yang penuh rahmat. Ia memimpin doa, menyanyikan himne, dan menguatkan para tahanan lainnya hingga akhir.

Setelah sekitar dua minggu mengalami penderitaan, ketika ia menjadi satu-satunya tahanan yang masih hidup, seorang petugas mengakhiri hidupnya dengan suntikan mematikan.

Para anggota SS kemudian menemukan Kolbe dalam keadaan duduk, dengan wajah tenang dan mata terbuka.Hingga hembusan napas terakhirnya, ia tetap menghayati keyakinannya:

“Hanya kasih yang menciptakan!”

(sumber.vaticanstate.va)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.