76,5 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Curah Hujan Rendah Ancam NTT hingga September
Cristin Adal August 14, 2026 05:47 PM

 

TRIBUNFLORES.COM, KUPANG - Fenomena El Nino semakin menguat di tengah musim kemarau yang kian meluas di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi membuat curah hujan semakin terbatas dan meningkatkan ancaman kekeringan, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Pada periode yang sama, curah hujan di Indonesia didominasi kategori rendah yang mencakup 90,79 persen wilayah. Sementara curah hujan kategori menengah mencakup 8,28 persen wilayah dan kategori tinggi hanya 0,93 persen.

Dari sisi sifat hujan, sebagian besar wilayah Indonesia juga berada pada kondisi bawah normal dengan persentase mencapai 87,28 persen. Adapun sifat hujan normal mencapai 4,35 persen, atas normal 2,77 persen, dan jauh di atas normal 5,60 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi relatif kering, meskipun hujan dengan intensitas yang beragam masih terjadi secara lokal.

Baca juga: Indonesia Masuk Fase El Nino Kuat, BMKG Minta Masyarakat Hemat Air dan Hindari Bakar Lahan

BMKG menyebut perkembangan musim kemarau tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi iklim global. Dalam sepekan ke depan, Indonesia masih dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat serta kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Kombinasi kondisi tersebut berpotensi mengurangi suplai uap air sehingga atmosfer Indonesia cenderung lebih kering. BMKG memperkirakan kondisi curah hujan rendah hingga menengah masih berlangsung pada Agustus Dasarian II hingga September Dasarian I 2026.

Wilayah dengan potensi curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian, diprakirakan masih meliputi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk NTT.

Hujan Masih Berpotensi Terjadi

Meski kemarau semakin dominan, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan terbebas dari hujan.

Pada periode 10-13 Agustus 2026, hujan dengan intensitas sedang masih tercatat di sejumlah wilayah, antara lain Kepulauan Nias dengan curah hujan 44 milimeter per hari, Sumatera Utara 28 milimeter per hari, dan Papua Pegunungan 23 milimeter per hari.

BMKG menjelaskan, hujan tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) di sekitar Sumatera bagian utara dan Papua bagian barat.

Baca juga: BMKG: El Nino Menguat, Kemarau Meluas, tetapi Hujan Masih Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah

Selain itu, perlambatan dan belokan angin di wilayah utara Kalimantan dan Papua turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Dengan demikian, hujan masih berpeluang terjadi secara lokal meskipun secara umum Indonesia berada dalam periode yang lebih kering akibat musim kemarau dan pengaruh El Niño.

Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diprediksi berada di sebagian besar wilayah Sumatera serta sebagian Kalimantan bagian utara dan timur. Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif di sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Aktivitas tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, terutama pada wilayah yang mendapat dukungan konvergensi angin dan kondisi atmosfer lokal yang labil.

NTT Waspada Angin Kencang

Untuk periode 14-16 Agustus 2026, BMKG memprakirakan cuaca di Indonesia umumnya didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan.

Namun, sejumlah wilayah tetap perlu mewaspadai peningkatan hujan lebat, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pada periode yang sama, angin kencang berpotensi terjadi di Aceh, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan NTT.

Sementara pada 17-20 Agustus 2026, cuaca Indonesia masih didominasi cerah berawan hingga hujan ringan. Potensi hujan lebat perlu diwaspadai di Sumatera Barat dan Papua Pegunungan.

Untuk angin kencang, BMKG memasukkan NTT sebagai salah satu wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, bersama Aceh, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Warga Diminta Hemat Air

Menghadapi musim kemarau yang semakin dominan, BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering.

BMKG juga mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan.

Selain kekeringan, kondisi yang semakin kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah yang mudah terbakar seperti semak belukar, hutan, dan lahan gambut.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api atau hotspot. Di sisi lain, hujan lokal masih berpotensi terjadi dan dapat disertai kilat, petir, maupun angin kencang. Kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir.

(sumber: bmkg.go.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.