TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Aroma sangit karet dan oli yang terbakar masih menusuk hidung pekat-pekat.
Asap tipis sesekali membubung dari celah-celah puing yang masih menyimpan hawa panas. Jumat siang itu (14/8/2026), di bawah langit yang terik bertempat di ruko bengkelnya Jl. Dr. Wahidin, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Nando dan para karyawannya hanya bisa duduk termenung.
Tatapan mereka kosong, menyapu hamparan reruntuhan bata dan atap seng yang kini menumpuk tak beraturan di lantai bengkel tempat mereka biasa mengais rezeki.
Sesekali, terdengar suara gemeretak pelan saat berberapa sepatu karyawan memijak pecahan kaca dan sisa arang kayu guna menyisir dan membersihkan sisa reruntuhan.
Di sekeliling mereka, rak-rak kayu yang dulunya kokoh menyangga berbagai perlengkapan kini menghitam, keropos termakan suhu ekstrem.
Botol-botol pelumas yang meleleh dan kaleng-kaleng yang penyok berserakan di tanah, bercampur sisa-sisa pemadaman.
Kebakaran hebat pada Kamis malam 13 Agustus 2026 tersebut telah menelan empat bangunan ruko sekaligus, termasuk Bengkel Mobil Nando dan Toko Bangunan Usaha Jaya di sebelahnya.
Bagi Nando, musibah ini bukan sekadar kehilangan tempat usaha, melainkan pukulan telak bagi finansialnya.
Baca juga: BREAKING NEWS - Kebakaran Landa Deretan Ruko di Sungai Jawi Pontianak
"Kalau dihitung-hitung, kerugian bahan-bahannya capai 600 sampai 700 juta ya, belum 3 unit mobil itu yang habis kebakar milik pelanggan. Ya semuanya kerugian materil ini ditaksir mencapai 3 miliar rupiah lah" ungkap Nando dengan nada getir sambil menghisap rokoknya, meratapi tempat usahanya yang kini luluh lantak.
Dengan suara parau dan pandangan yang masih menyiratkan kelelahan batin, Nando mencoba mengingat kembali malam kelabu tersebut.
Saat kejadian, bengkel sudah dikunci rapat dan tidak ada satu pun orang di dalamnya.
"Kejadiannya sangat cepat, seingat saya sesaat sebelum azan Isya berkumandang. Saya justru baru tahu musibah ini saat tetangga kiri dan kanan panik menelepon saya malam itu," kenang Nando sambil mengusap wajahnya yang kusam.
Garis wajah Nando mengeras saat ditanya mengenai asal muasal petaka tersebut.
Ia menduga kuat, percikan maut itu berasal dari korsleting listrik di tempat usahanya.
"Padahal malam ini kosong bang, karena tidak ada karyawan yang lembur, kami selalu memastikan semua instalasi listrik dimatikan dan aman sebelum pulang. Kemungkinan besar ini karena korsleting listrik lah" jelasnya merinci.
Angin malam itu agaknya bersekongkol dengan material di dalam ruko. Hembusannya menjadi penyempurna jago merah yang semakin menggila.
"Titik awalnya dari arah belakang ruko. Di sana terdapat banyak tumpukan material kayu, sehingga api dengan beringas begitu cepat membesar," paparnya.
Pemandangan malam itu semakin mencekam ketika rangka atap mulai melemah dan ambruk.
"Puing-puing atap yang runtuh langsung menimpa mobil-mobil pelanggan yang sedang kami inapkan di dalam. Tak lama terdengar ledakan keras, dan tiga unit mobil pun ikut hangus tak terselamatkan," ungkap Nando, suaranya sedikit bergetar membayangkan kerugian yang pelanggannya tanggung.
Kepanikan malam itu tidak hanya dirasakan Nando.
Hawa panas yang menjalar liar juga merenggut ketenangan Tommy, pemilik Toko Bangunan Usaha Jaya yang letaknya bersebelahan langsung dengan bengkel Nando.
Saat ditemui di sekitar lokasi, Tommy tampak menatap lantai dua rukonya yang telah diamuk si jago merah.
"Sumber apinya memang terlihat sangat jelas berasal dari ruko sebelah, tepatnya dari arah bengkel mobil itu," ujar Tommy sambil menunjuk ke arah puing pembatas bangunan.
Ia juga bersaksi betapa agresifnya lidah api merambat menembua malam.
"Sekitar pukul enam lewat, menjelang jam tujuh malam, kobaran api sudah mulai melahap bangunan dengan ganas." katanya.
Meski sebagian asetnya musnah, nada syukur masih terselip dari bibir Tommy.
"Syukurlah api tidak sampai menjalar ke lantai dasar tempat sebagian besar barang berada. Namun, seluruh lantai dua toko saya sudah habis tak bersisa dimakan api," jelasnya memaparkan kondisi fisik tokonya yang kini lumpuh separuh.
Berkat kerja keras dan raungan sirene tim pemadam kebakaran yang membelah malam, mimpi buruk itu akhirnya menemui ujungnya.
"Tim pemadam bekerja luar biasa keras. Syukurlah, sekitar pukul delapan hingga sembilan malam lewat, sisa-sisa api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya," tutup Tommy.
Jumat siang itu, derai air mata mungkin telah mengering, berganti dengan peluh saat mengais sisa barang yang masih bisa diselamatkan.
Baik Nando maupun Tommy dapat bernapas sedikit lega karena tidak ada satu pun korban jiwa yang terenggut karena seluruh ruko dalam keadaan tak berpenghuni. (*)