TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Menjadi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tidak pernah ada dalam rencana awal Syallomitha Teslatu.
Siswi kelas XI SMA Hang Tuah Tarakan itu bahkan sempat menolak keras ketika diminta keluarga bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Paskibra.
Keputusan untuk mengikuti Paskibra awalnya datang dari dorongan orangtua dan keluarga.
Namun, tak disangka perjalanan yang semula dijalani karena paksaan tersebut, justru membawa Shalomitha sampai ke tahap menjadi calon Paskibraka dan menjalani latihan intensif untuk persiapan pengibaran bendera.
Selama mengikuti pelatihan sejak 3 Agustus 2026, Syallomitha Teslatu mengaku harus beradaptasi dengan latihan fisik yang cukup berat.
"Awalnya memang agak sulit karena latihan fisik di sini tuh lumayan berat, dari pagi terus pulangnya tuh sore banget, udah Magrib. Lama-lama tuh bakalan kerasa gitu kalau latihannya tuh ada manfaatnya semua," ujar Syallomitha saat diwawancarai media di tengah-tengah proses latihan berlokasi di TACC, Tarakan, Kalimantan Utara, Jumat (14/8/2026).
Selama pemusatan latihan, Syallomitha bersama peserta lainnya mendapatkan dispensasi dari sekolah hingga 18 Agustus.
Kendati mendapat dispensasi, sesi pelatihan cukup menguras tenaga dan energi. Belum lagi setelah nanti tampil di 17 Agustus, ia harus berkejaran dengan waktu.
"Setelah itu kami akan masuk sekolah seperti biasa, ngejar-ngejar tugas. Itu juga salah satu tantangannya, ngejar tugas," katanya.
Rutinitas sebagai calon Paskibraka juga membuat waktu istirahat harus diatur. Shalomitha mengatakan, para pelatih dan pembina menyarankan peserta tidur sekitar pukul 20.00 WITA atau paling lambat 21.00 WITA.
Sebab, sekitar pukul 05.00 WITA atau 05.30 WITA, mereka sudah harus berangkat menuju lokasi latihan.
"Kalau itu malam sebenarnya tergantung masing-masing. Cuma disarankan pelatih dan pembina kami tuh tidur awal. Karena sekitar 05.30 WITA itu kami sudah ke sini. Jam 06.00 WITA tuh udah baris, apel, habis itu pemanasan, kita lari, push-up, sit-up, semuanya fisik," tuturnya.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan latihan Peraturan Baris-Berbaris atau PBB. Meski sudah pernah mendapat latihan di sekolah, seluruh dasar PBB kembali dipelajari dari awal.
"Sampai di sini kami dilatih lagi ada 12 gerakan dasar, langkah berjalan, semuanya dilatih dari awal lagi sama pelatih," kata Syallomitha.
Selain PBB, latihan fisik menjadi bagian penting dalam pembentukan kemampuan peserta. Syallomitha mengatakan, peserta harus menjalani lari sambil bernyanyi, push-up, sit-up hingga sikap lilin.
"Mmm... itu kami lari sambil nyanyi. Itu kegunaannya supaya pas langkah tegap, kami itu pernafasannya bisa diatur, enggak ngos-ngosan, gitu. Terus push-up, itu supaya pas langkah tegap tangan kami tuh kuat Kak, enggak yang letoy," lanjutnya.
Lalu begitu juga saat latihan sit-up dan membentuk sikap lilin. Diharapkan supaya otot perut bisa terbentuk."Jadi badan kami tuh enggak bungkuk-bungkuk," katanya.
Hari pertama latihan menjadi salah satu momen yang paling berat bagi Syallomitha. Namun, ia perlahan mulai terbiasa dengan pola latihan tersebut.
Baca juga: Siapa Pembawa Baki, Pengibar dan Pengerek Bendera, Pelatih Paskibraka Tarakan Masih Rahasiakan
Di tengah proses latihan, remaja yang gemar olahraga voli dan sepak bola ini juga tidak menampik pernah merasa lelah secara fisik maupun mental.
Kerinduan kepada keluarga sempat muncul ketika ia harus menjalani hari-hari panjang dalam pelatihan.
"Kalau saya, saya pribadi sempat merasa capek sih. Tiba-tiba kayak kangen sama mama saya, pengen lebih lama di rumah gitu," ungkapnya
Namun ia kemudian mengingat kembali perjalanan panjang yang sudah dilewatinya.
Sejak tahun sebelumnya, Syallomitha sudah menjalani proses sebagai calon Paskibra di sekolah sebelum akhirnya mengikuti seleksi hingga sampai ke tahap pelatihan sekarang.
"Cuma kalau dipikir-pikir lagi, ini kan kami Capas sudah dari tahun lalu di sekolah masing-masing. Baru kami seleksi sampai ke sini," ujarnya.
Karena itu, Syallomitha tidak ingin menyerah begitu saja setelah melewati perjalanan selama satu tahun.
"Kalau saya menyerah di sini, itu namanya kayak saya kayak orang bodoh. Masa kayak 1 tahun sudah saya habiskan untuk sampai ke titik ini, lalu tiba-tiba saya mengundurkan diri?" katanya.
Ia sadar, jika memilih mundur, keputusan tersebut bisa menjadi penyesalan. Sehingga ia memutuskan bertarung sampai akhir.
"Menurut saya itu adalah keputusan yang akan saya sesali banget. Jadi saya memilih bertahan di sini aja sejauh ini," ungkap Syallomitha.
Perjalanan Syallomitha menjadi anggota Paskibra terbilang tidak mudah. Ia mengatakan, orangtua dan keluarga menjadi pihak yang pertama kali mendorongnya bergabung ke ekstrakulikuler.
Keluarga memiliki alasan tersendiri karena ia juga memiliki sepupu merupakan anggota Purna Paskibraka Indonesia atau PPI.
"Orang tua dan keluarga saya awalnya yang memaksa. Karena sepupu-sepupu saya itu kebanyakan PPI (Purna Paskibraka Indonesia). Jadinya mereka tuh mau kayak, 'Kamu kan tinggi, ayo ikut Paskib.' Saya awalnya enggak mau, cuman dipaksa, akhirnya saya ikut," tutur putri bungsu dari pasangan Tresya Leskona dan Stenly Yosef Teslatu ini.
Baca juga: Gubernur Kaltara Kukuhkan 25 Calon Paskibraka 2026, Siap Kibarkan Merah Putih saat HUT ke-81 RI
Penolakannya bahkan semakin kuat ketika mengetahui dirinya harus memenuhi sejumlah persyaratan fisik.
Ia harus menaikkan berat badan, dan paling sulitnya adalah rambut panjang yang dimilikinya juga harus dipotong.
"Nah, itu saya makin menolak lagi karena sebelumnya saya harus naikin berat badan. Dulu tuh saya 40 kg. Terus rambut saya panjang banget, dan katanya Paskib tuh kan harus potong rambut. Itu saya enggak mau, sampai yang menangis gitu," katanya.
Syallomitha bahkan mengaku sempat menangis dan melawan keinginan orangtuanya. Namun, orangtua memberikan satu alasan yang akhirnya membuatnya bersedia mencoba.
"Iya, sampai menangis saya enggak mau. Saya ngelawan orang tua saya. Cuma mereka bilang, ‘Sekali seumur hidup.’ Jadi ya udah saya coba," ungkapnya.
Selain dukungan keluarga, pelatih dan senior di SMA Hang Tuah Tarakan ikut memberikan motivasi.
"Pelatih saya di sekolah, Pak Firman, itu sangat memotivasi saya. Senior-senior saya kayak, 'Ayo coba, bisa, bisa!' Akhirnya saya ikut deh Kak, join di sini," katanya.
Syallomitha mulai mengikuti Paskibra sejak awal masuk SMA dan kini duduk di kelas XI.
Ia merupakan siswi SMA Hang Tuah Tarakan. Selama bergabung di Paskibra, Syallomitha mendapatkan banyak pengalaman.
Ia mengaku pernah merasa kesal dengan senior maupun pelatih karena pola pembinaan yang keras.
"Lumayan seru dan kadang kita enggak bisa membohongi kalau mungkin kita tuh dongkol sama senior, sama pelatih. Tapi yang mereka lakukan ke kita itu ada manfaatnya. Marah-marahnya mereka, hukuman-hukumannya mereka itu ada manfaatnya," tuturnya.
Menurutnya, semua proses tersebut perlahan membentuk kedisiplinan. "Ya, karena dulu saya tuh sempat dongkol sama senior saya di SMA kayak, 'Kok mereka gini banget ya, menyiksa banget,' gitu," katanya.
Namun, setelah menjalani berbagai kegiatan dan lomba sendiri, Syallomitha mulai memahami alasan seniornya memberikan latihan keras.
"Cuma setelah mereka udah enggak ikut lomba lagi sama saya, pas saya tuh lombanya udah sendiri-sendiri, saya merasakan gitu, 'Oh, ini loh maksud dari kasarnya mereka. Ini loh maksud pelatihan mereka yang sulit itu, supaya kami tuh lebih kuat segalanya dan lebih baik ke depannya,' gitu m," jelasnya.
Ia menilai proses pembinaan yang diterimanya di SMA Hang Tuah semakin terasa ketika dirinya masuk dalam pelatihan calon Paskibraka.
Di tengah proses latihan, peserta masih harus mengikuti berbagai tahapan sebelum penentuan formasi pengibaran. Shalomitha mengaku tidak terlalu berambisi mendapatkan posisi tertentu.
Baginya, seluruh anggota memiliki peran penting dalam menyukseskan pengibaran bendera.
"Saya enggak terlalu berambisi untuk yang jadi apapun dalam tim ini. Yang penting pengibaran kami nanti berjalan dengan lancar, teman-teman saya yang diamanatkan ini bisa menjalankan tugasnya dengan baik, menurut saya itu sudah sangat cukup sekali," ujar remaja yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Jika nantinya dirinya dipercaya menjadi pembawa baki, Syallomitha mengatakan akan menerima amanah tersebut.
"Puji Tuhan sekali kalau memang itu jalan Tuhan, saya terima dengan baik. Tapi kalau memang bukan saya jodohnya pembawa baki, ya biarlah teman saya yang menjalankan tugas itu dengan baik," katanya.
Selama pelatihan, seluruh peserta memang dipersiapkan agar mampu menjalankan berbagai posisi dalam formasi.
Untuk pengibar dan pengibar bendera penurunan, Syallomitha menyebut proses pemilihannya cukup ketat karena tanggung jawab dan beban latihannya lebih berat.
"Karena di pasukan kami tuh pengibar dan pengibar bendera penurun itu yang paling berat tugasnya. Mereka latihannya lebih lama dari kami, lebih panas-panasan, lebih capek. Jadi memang benar-benar dipilih banget," ungkapnya.
Bagi Syallomitha, posisi apa pun yang nantinya diberikan bukan persoalan utama. Yang paling penting baginya adalah seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan lancar.
"Yang penting berjalan dengan lancar upacaranya, itu sudah sangat membanggakan sekali bagi saya," tegasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah