BANJARMASINPOST.CO.ID - Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) menjadi momentum untuk kembali melihat kondisi bekantan dan habitatnya di Kalimantan Selatan.
Bagi Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), menjaga bekantan tidak hanya berarti melindungi satu spesies primata endemik Kalimantan.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari menjaga ekosistem lahan basah yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.
Founder Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rezeki, mengatakan bekantan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah seperti mangrove, rawa dan hutan riparian.
Baca juga: Bayi Bekantan Kembar Lahir di Kawasan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak Batola
Ketika habitat tersebut mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), maupun perubahan iklim, ancamannya tidak hanya terhadap populasi bekantan.
Namun, fungsi ekologis kawasan yang menopang kualitas lingkungan juga ikut terdampak.
“Kita menjaga bekantan bukan hanya melindungi satu spesies, tetapi juga menjaga ekosistem lahan basah yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat,” ujar Amalia, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, kondisi kemarau yang berlangsung di Kalimantan Selatan saat ini menjadi perhatian serius dalam upaya konservasi.
Cuaca yang lebih ekstrem, peningkatan suhu dan berkurangnya curah hujan meningkatkan risiko karhutla, terutama di kawasan rawa dan gambut.
Memprihatinkan lagi ancaman terhadap habitat bekantan tidak berhenti pada risiko kebakaran. Perubahan pola pasang surut yang disertai intrusi air laut ke sungai juga dapat meningkatkan salinitas air.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi vegetasi yang menjadi sumber pakan utama bekantan.
Amalia menjelaskan, meningkatnya salinitas dapat menyebabkan peranggasan dedaunan mangrove rambai yang merupakan salah satu sumber pakan utama bekantan.
Berkurangnya dedaunan tersebut pada akhirnya dapat mengurangi ketersediaan pakan alami bagi satwa.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi cukup hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga harus memperkuat ketahanan ekosistem terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Amalia mengatakan tantangan lain dalam pelestarian bekantan adalah sebagian besar habitat satwa tersebut berada di luar kawasan konservasi. Karena itu, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitar habitat bekantan.
Masyarakat, menurutnya, dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kawasan. Mulai dari melakukan pengawasan, mencegah kebakaran, melaporkan aktivitas ilegal hingga mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Konservasi juga dinilai akan lebih berhasil apabila masyarakat turut merasakan manfaat ekologis maupun ekonomi dari keberadaan habitat yang lestari.
Pendekatan tersebut kemudian diterapkan SBI melalui konsep konservasi yang melibatkan berbagai pihak. Salah satunya dengan melakukan restorasi mangrove dan tumbuhan alternatif khas ekosistem lahan basah.
Upaya tersebut dilakukan untuk memulihkan habitat bekantan sekaligus meningkatkan kemampuan kawasan pesisir dan tepian sungai dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Mangrove, kata Amalia, tidak hanya berfungsi sebagai sumber pakan dan tempat berlindung bagi bekantan tapi juga berperan dalam menyerap karbon, mengurangi abrasi serta menjaga produktivitas perairan.
Peringatan HKAN menurut peneliti ekologis lahan basah, Akbar Rahman, juga menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi ekosistem di Kalsel.
Terlebih, Kalsel saat ini tengah menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, karhutla, penurunan debit sungai hingga kesulitan air bersih.
Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan iklim. Menurutnya, tingkat dampak kemarau juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang ada saat ini.
Baca juga: Naik Klotok ke Pulau Curiak, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi ULM Belajar Konservasi Bekantan
Ia menjelaskan, Kalsel memiliki satu kesatuan ekologis yang saling terhubung. Mulai dari Pegunungan Meratus sebagai kawasan hulu, sungai sebagai penghubung, hingga rawa, gambut, mangrove dan pesisir sebagai kawasan hilir.
Akbar mengatakan, lahan basah sejatinya memiliki fungsi penting sebagai ruang penyimpan air alami. Saat musim hujan, rawa berfungsi menampung kelebihan air. Sedangkan ketika memasuki kemarau, cadangan air tersebut membantu mempertahankan kelembapan tanah sekaligus menjaga kestabilan ekosistem. “Jika rawa terus ditimbun, dipotong kanal, atau dialihfungsikan, kapasitas penyimpanan air akan berkurang,” katanya.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)