TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Matahari belum sepenuhnya menumpahkan cahaya ketika halaman dan ruas jalan di sekitar Klenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang, mulai sesak oleh manusia.
Sabtu (15/8/2026) pagi, ribuan pasang mata seperti sedang menunggu sebuah cerita lama yang kembali berjalan di hadapan mereka.
Bukan pejabat, bukan pula pesohor yang dinanti.
Yang ditunggu adalah rombongan arak-arakan dari Klenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang membawa serta jejak tradisi dalam wujud kimsin, patung dewa yang diarak dalam prosesi budaya dan keagamaan.
Dari sisi utara, panji-panji berukuran besar perlahan muncul di antara kerumunan.
Kain-kain itu berkibar diterpa angin pagi, menjulang seperti penanda bahwa sebuah perjalanan panjang tengah mendekati penghujungnya.
Kemudian suara tambur dan simbal tradisional Tiongkok memecah udara.
Dentumnya bukan sekadar bunyi. Ia seperti mengetuk ingatan, membangunkan kembali kisah ratusan tahun silam tentang Laksamana Cheng Ho dan kedatangannya di Pantai Simongan, Semarang.
Rombongan bergerak perlahan menuju gerbang sisi selatan Klenteng Sam Poo Kong.
Baca juga: Rektor Undip Pesan Mahasiswa Baru Bijak Bermedia Sosial: Jangan Sebarkan Global Stupidity
Di antara derap langkah, panji-panji, bunyi tetabuhan, serta riuh warga, sejumlah kimsin tampak ditandu oleh para peserta.
Sebagian mengenakan busana khas dan rias wajah dengan sapuan cat yang menjadikan wajah mereka menyerupai topeng.
Pagi itu, Sam Poo Kong tidak hanya menjadi sebuah bangunan bersejarah.
Ia menjelma menjadi panggung tempat masa lalu, kebudayaan, dan kehidupan hari ini bertemu dalam satu kerumunan.
Prosesi tersebut menjadi bagian dari Festival Arak-arakan Cheng Ho dalam rangka memperingati 621 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho.
Kirab ini sekaligus menjadi ruang untuk merawat sejarah, kebudayaan, toleransi, serta akulturasi Jawa-Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari wajah Kota Semarang.
Di tengah riuh manusia dan bunyi tambur yang terus bertalu, ada satu sosok yang menarik perhatian.
Wajahnya berlumur cat hitam dan putih. Langkahnya tidak lagi setegap peserta lain. Sesekali tubuhnya tampak kehilangan keseimbangan. Namun ia terus berjalan.
Namanya Jiantoro (71). Ia bukan warga Semarang. Lelaki tersebut datang dari Kabupaten Purbalingga khusus untuk mengikuti arak-arakan bersama rombongan Klenteng Tay Kak Sie.
"Saya pernah terkena sakit stroke jadi langkah saya kurang stabil," kata Jiantoro kepada Tribun Jateng.
Di usia yang tak lagi muda, perjalanan itu tentu bukan perkara ringan. Jiantoro tiba di Kota Semarang pada Jumat (14/8/2026).
Sehari kemudian, ketika sebagian besar orang mungkin masih terlelap dalam dinginnya dini hari, ia sudah bersiap mengenakan perlengkapan untuk mengikuti prosesi.
Persiapannya dimulai sekitar pukul 03.00 WIB. Dua jam kemudian, tepat pukul 05.00 WIB, rombongan mulai bergerak dari Gang Lombok, tempat Klenteng Tay Kak Sie berada.
Langkah demi langkah mereka tempuh. Jiantoro memperkirakan perjalanan dari Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong memakan waktu sekitar tiga jam.
Di sepanjang perjalanan, rombongan harus beberapa kali menghentikan langkah untuk beristirahat.
"Rombongan saya istirahat tiga kali, sampai ke Klenteng Sam Poo Kong pukul 08.00 WIB. Ada satu kawan saya yang usianya 70 tahun juga," tuturnya.
Bagi Jiantoro, jarak dan usia bukan alasan untuk melepaskan diri dari sebuah tradisi yang telah ia yakini perlu terus dijaga.
Kakinya boleh tak lagi kokoh. Langkahnya boleh tertatih. Tetapi kehendaknya untuk berjalan bersama tradisi rupanya jauh lebih kuat.
"Tahun depan saya akan ikut lagi arak-arakan ini untuk menjaga budaya," ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang lebih panjang dari sekadar niat menghadiri sebuah acara.
Sebab, bagi Jiantoro, budaya bukan benda mati yang cukup disimpan dalam lemari sejarah. Ia harus dijalankan, dirasakan, bahkan diwariskan melalui langkah-langkah manusia yang bersedia menjaganya.
Pemandangan serupa kemudian memenuhi halaman Klenteng Sam Poo Kong.
Rombongan dari Tay Kak Sie berkumpul bersama masyarakat yang sejak pagi telah memadati lokasi. Festival Arak-arakan Cheng Ho pun berlangsung dalam suasana yang gegap gempita.
Festival tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu Karisma Event Nusantara (KEN) setelah melalui proses kurasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Sejumlah unsur pemerintahan turut hadir menyaksikan puncak prosesi, mulai dari Pemerintah Kota Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah hingga Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Ye Su juga hadir secara langsung.
Di depan bangunan utama Klenteng Sam Poo Kong, belasan kimsin ditata dalam sebuah rangkaian yang menjadi puncak prosesi.
Sebanyak 11 kimsin yang dibawa rombongan dari Klenteng Tay Kak Sie ditempatkan di altar bangunan utama.
Sementara sembilan kimsin lainnya masih dalam perjalanan dan selanjutnya akan ditempatkan di lokasi yang sama.
Ketua Yayasan Klenteng Sam Poo Kong, Mulyadi, mengatakan arak-arakan tersebut bukan hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang bertemunya berbagai latar belakang masyarakat.
"Event ini menjadi daya tarik karena keunikannya, kami berharap agenda yang telah digelar bisa menjadi agenda budaya dan wisata internasional," tuturnya.
Menurut Mulyadi, akulturasi budaya yang tercermin dalam arak-arakan Cheng Ho turut memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi di Kota Semarang.
Dari sisi lain, Konsul Jenderal RRT Ye Su mengaku senang dapat hadir dan menyaksikan langsung prosesi budaya tersebut.
Melalui keterangannya, ia menyebut Laksamana Cheng Ho sebagai simbol toleransi dan pemersatu di kawasan Asia dan sekitarnya.
Semangat itu, menurutnya, masih relevan hingga sekarang melalui nilai toleransi dan keberagaman yang hidup dalam perayaan tersebut.
"Semangat tersebut masih kami bawa, melalui toleransi dan keberagaman yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho, semangat tersebut juga terasa dalam acara ini," terangnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin turut menyambut kemeriahan arak-arakan tersebut.
Agustina menilai kegiatan itu memiliki peluang untuk berkembang menjadi agenda budaya berskala internasional. Ia juga menyebut kemeriahan prosesi tidak lepas dari dukungan pemerintah dan masyarakat.
"Bahkan jalan di depan Klenteng Sam Poo Kong penuh oleh arak-arakan, untuk itu kami memohon maaf kepada masyarakat yang melintas atau pengguna jalan jika perjalanan sedikit terganggu," ucapnya. (bud)