TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Perayaan seni dan budaya independen Ubud FolkFest kembali digelar untuk memasuki penyelenggaraannya yang kelima pada 14 hingga 15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud, Bali.
Mengusung nilai inklusivitas dan semangat gotong royong, festival tahunan ini dirancang sebagai ruang temu lintas disiplin yang mempertemukan pertunjukan musik, pameran seni visual, pertunjukan budaya, hingga sesi diskusi gagasan antar komunitas kreatif.
Selama dua hari penuh, Ubud FolkFest 2026 menghadirkan pengalaman interaktif yang mengajak publik untuk melihat, mendengar, belajar, dan berinteraksi secara langsung.
Kawasan Biji World disulap menjadi ruang kreatif terpadu yang mencakup 3 panggung musik, 1 galeri seni visual, pertunjukan budaya tradisional, lokakarya seni, aktivitas anak-anak, pasar seni, toko rilisan fisik, hingga kegiatan drum circle.
Baca juga: Pakar Tegaskan Usia Galon Bukan Pemicu Utama Bahaya BPA, Cara Simpan dan Perlakuan Lebih Menentukan
Founder Ubud FolkFest sekaligus pemilik Biji World, Ida Bagus Oka Genijaya, menegaskan pentingnya mempraktikkan seni dan budaya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih sekadar menjadikannya wacana promosi pariwisata.
Pria yang berlatar belakang sebagai desainer arsitektur, pemahat, dan pernah mengenyam pendidikan hospitality ini mengingat pesan mendiang ayahnya saat ia berkeliling dunia pada tahun 1986, di mana keindahan Bali sering kali baru terlihat jelas ketika dipandang dari kejauhan.
Oka Genijaya menyayangkan degradasi nilai budaya yang belakangan ini kerap hanya dijadikan slogan atau selimut filosofis tanpa tindakan konkret.
Bagi dirinya, seni dan budaya merupakan akar bangsa yang harus terus ditanam dan dipraktikkan secara nyata.
Desa Mas sendiri memiliki sejarah panjang sebagai tempat berguru dan belajar seni, sehingga keterlibatan berbagai seniman dalam festival ini menjadi bentuk pergerakan budaya yang riil.
Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, Oka Genijaya mengaitkan nama lokasi penyelenggaraan, Biji World, dengan filosofi penanaman benih untuk masa depan. Festival ini tumbuh berkat ketahanan, kebersamaan, dan kerja keras tim kecil yang solid serta dukungan komunitas.
Baca juga: Peringati Ulang Tahun ke-68 Bali, DPRD dan Pemprov Perkuat Kolaborasi Demi Kesejahteraan Rakyat
“Dan mungkin bukan kebetulan kita menanam festival ini di tempat yang bernama Biji. Biji berarti sesuatu yang kita tanam untuk hari esok. Begitu juga dengan seni dan budaya,”
“Kita tidak hanya membicarakannya. Kita menanamnya hari ini, agar sesuatu dapat tumbuh darinya untuk masa depan,” ujar Ida Bagus Oka Genijaya pada, Sabtu 15 Agustus 2026.
Co-Founder Ubud FolkFest, Sarah Hadi, menjelaskan bahwa festival ini berawal dari keinginan untuk menghidupkan kembali denyut kreativitas Ubud yang sempat meredup.
Menurutnya, selama beberapa hari penyelenggaraan, Ubud FolkFest menjadi mikrokosmos dari sisi kreatif Ubud yang mempertemukan berbagai bentuk kesenian di satu tempat.
Sarah mengenang momen penyelenggaraan tahun pertama ketika seorang seniman melukis di tengah area festival sementara musisi tampil di panggung dan seniman lain membuat lukisan arang secara langsung di galeri.
Baca juga: Panitia Akui Ada Celah Aturan di Lomba Gerak Jalan 45 Km di Buleleng, Sebut Juara Tetap Sah
Energi kreatif tersebut memicu lahirnya komunitas yang erat, di mana banyak pengunjung dan pelaku seni saling bersahabat hingga saat ini.
Keberlanjutan Ubud FolkFest juga didorong oleh keputusan untuk tidak mengejar pertumbuhan skala besar secara terburu-buru, melainkan berfokus pada penguatan komunitas secara organik.
Faktor keterjangkauan harga tiket juga menjadi perhatian utama agar festival dapat diakses oleh semua kalangan tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
“Bagi kami, Ubud FolkFest pada akhirnya adalah tentang menciptakan ruang di mana seni, musik, dan masyarakat dapat menyatu dan memastikan ruang tersebut tetap terbuka lebar bagi komunitas,” tutur Sarah Hadi.
Sementara itu, Founder Ubud FolkFest, Rizal Hadi, memaparkan landasan filosofis di balik nama festival.
Ia menjelaskan bahwa kata folk dimaknai sebagai 'rakyat' dan festival sebagai 'pesta', sehingga Ubud FolkFest secara sederhana merupakan pesta rakyat yang merangkul seluruh elemen masyarakat dan komunitas di Ubud.
Keberagaman genre musik yang ditampilkan mulai dari musik tradisional, jazz fusion, rock, hingga hip-hop merupakan cerminan dari selera musik masyarakat yang luas.
Festival ini mempertemukan musik tradisional seperti Selonding dari Bali dan Tarawangsa dari Jawa Barat dengan ekspresi kontemporer seperti Neo Nolin hingga hip-hop internasional.
Dalam menyusun kurasi program, Rizal menekankan pentingnya mengutamakan kualitas karya ketimbang popularitas atau jumlah pengikut musisi di media sosial.
Keberhasilan festival tidak diukur dari sekadar angka kehadiran penonton, melainkan dari memori dan pengalaman berkesan yang dibawa pulang oleh para pengunjung.
“Ketika seseorang meninggalkan Ubud FolkFest, kami ingin ada memori yang tertinggal di kepala mereka tentang musik yang bagus, karya seni yang mereka temukan, pertunjukan budaya yang mereka saksikan, dan pengalaman yang mereka rasakan selama berada di festival,”
“Itulah yang ingin kami bangun bukan sekadar jumlah penonton, tetapi sebuah pengalaman yang akan terus mereka ingat,” jelas Rizal Hadi.
Kehadiran deretan penampil dan program khusus dalam Ubud FolkFest 2026 semakin memperkuat posisi festival ini sebagai ruang temu lintas disiplin.
Di lini musik, panggung festival diramaikan oleh deretan musisi lokal, nasional, hingga internasional seperti Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona dari Taiwan, SUNZ dari New Zealand, Tanya George dari Australia, Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art, serta Pondok Pekak.
Kehadiran para musisi ini mencerminkan semangat festival untuk mempertemukan beragam warna musik dari folk, rock, alternative, musik tradisional, hingga eksperimental dalam satu ruang bersama.
Tidak hanya panggung musik, seni visual juga menjadi salah satu pilar utama yang menyertai festival melalui pameran galeri seni.
Pameran ini menampilkan karya-karya dari Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, almarhum Chay, I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova, dan Arina Proboningtyas.
Keragaman medium dan perspektif dari para seniman visual tersebut turut memperkaya ekosistem kreatif Ubud.
Selain pameran dan pertunjukan, festival juga menghadirkan sesi berbagi inspirasi khusus bertajuk Fast Forward Ubud dengan tagline "SHORT STORIES. BIG IDEAS. GET INSPIRED."
Program ini dirancang untuk mendengarkan cerita-cerita personal yang dapat membuka perspektif baru dan memantik gagasan melalui 6 pembicara berlatar belakang beragam, yaitu Sandrina Malakiano (entrepreneur & motivational speaker), Rudolf Dethu (co-founder RTB), James Sukadana (vokalis Manja), Shinta Retnani (filmmaker & visual anthropologist), Gede Robi Navicula (musisi, petani & aktivis), serta Mark Feldman (art collector & investor).
Dengan perpaduan eksplorasi musik lintas genre, pameran seni visual, pertunjukan budaya, dan sesi diskusi gagasan yang menginspirasi, Ubud FolkFest 2026 menegaskan komitmennya untuk terus menanam benih seni dan budaya yang inklusif serta berkelanjutan bagi masa depan komunitas kreatif Bali dan Indonesia. (*)