Tribunlampung.co.id, Kupang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya rentetan lebih dari 200 gempa susulan usai gempa utama magnitudo 7,7 melanda Flores.
Baca juga: Warga Heboh, 3 Mata Air Mendadak Berubah Warna Seusai Gempa 7,7 di Flores
Data aktivitas seismik yang dicatat BMKG NTT hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 15.00 WIB menunjukkan total gempa susulan telah menyentuh angka 265 kali.
Dari ratusan aktivitas tektonik susulan tersebut, tercatat 22 guncangan di antaranya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
Kepala BMKG NTT Arief Tyastama merinci kekuatan rentetan getaran susulan tersebut memiliki skala magnitudo terbesar 6,2 hingga terkecil magnitudo 2,5.
Tercatat ada 10 kali gempa susulan dengan magnitudo di atas 5,0 yang terus memicu kewaspadaan tinggi di sepanjang pesisir Pulau Flores.
Menyikapi eskalasi bahaya susulan tersebut, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena bersama jajaran Forkopimda langsung terbang memantau penanganan bencana di Maumere, Kabupaten Sikka.
Rombongan pejabat daerah yang didampingi unsur pimpinan DPRD, Kapolda, Danrem 161/Wira Sakti, hingga Dankodaeral VII Kupang langsung meninjau sejumlah titik episentrum dampak gempa.
Langkah inspeksi lapangan ini diambil guna memastikan seluruh alur penanganan darurat kebencanaan berjalan cepat serta terkoordinasi secara utuh.
"Hari ini kami memantau penanganan bencana gempa Flores. Kami terus meng-update laporan korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan," kata Gubernur NTT Melkiades Laka Lena, Sabtu (15/8/2026), dilansir Pos-Kupang.com.
Koordinasi taktis penanggulangan pascabencana kini difokuskan secara intensif dengan melibatkan jajaran pemerintah daerah, TNI, dan Polri hingga tingkat kabupaten.
Pemerintah Provinsi NTT bersama instansi gabungan terus melakukan pembaruan data dampak kerusakan fisik maupun penanganan operasional bagi para pengungsi.
BMKG mengimbau warga setempat agar tetap tenang namun selalu waspada terhadap potensi keretakan bangunan akibat guncangan susulan yang masih berlanjut.
Berdasarkan data sementara hingga saat peninjauan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa mencapai 33 orang, masing-masing 3 orang di Kabupaten Sikka, 1 orang di Nagekeo, 14 orang di Manggarai, 14 orang di Manggarai Timur, dan 1 orang di Manggarai Barat.
Sementara itu, sebanyak 23 orang dilaporkan mengalami luka-luka, terdiri dari 6 orang di Sikka, 13 orang di Ende, dan 4 orang di Manggarai.
Melki Laka Lena menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring dengan proses pencarian, evakuasi, serta pendataan yang dilakukan tim di lapangan.
Selain korban jiwa dan luka-luka, gempa juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas dan infrastruktur di beberapa wilayah Flores.
Di Kabupaten Sikka, salah satu lokasi yang mengalami kerusakan adalah Terminal Pelabuhan Lorens Say Maumere. Kerusakan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Ende.
Sejumlah ruas jalan yang terdampak longsoran akibat gempa juga mulai ditangani oleh pemerintah melalui Kementerian PUPR, Dinas PUPR Provinsi NTT, serta Dinas PUPR kabupaten di wilayah Flores.
Pemulihan jaringan listrik dan telekomunikasi juga terus dilakukan. Sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami gangguan listrik mulai kembali mendapatkan pasokan listrik, sementara jaringan telekomunikasi juga secara bertahap dipulihkan.
Mantan Anggota DPR RI ini memastikan seluruh sumber daya pemerintah dan unsur Forkopimda akan dikerahkan untuk mempercepat pemulihan layanan dasar masyarakat.
Melki Laka Lena menegaskan, selain melakukan pencarian dan evakuasi korban, kebutuhan dasar masyarakat yang mengungsi menjadi perhatian utama pemerintah.
“Sekarang ini adalah bagaimana tim SAR itu mereka bisa membantu penanganan korban yang masih terjebak di bangunan. Kemudian memastikan bahwa makan minum dari seluruh korban yang hari ini mereka mengungsi karena memang rumahnya tidak bisa dipakai, itu harus bisa makan minum dengan baik," ujar Melki Laka Lena.
Kebutuhan tempat tinggal sementara, terutama tenda dan selimut, juga akan dipastikan tersedia bagi masyarakat yang membutuhkan. Melki Laka Lena bahkan meminta seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana untuk tidak menunggu bantuan datang apabila kebutuhan mendesak sudah tersedia di daerah.
Terkait kemungkinan penetapan status bencana nasional, Gubernur mengatakan Pemerintah Provinsi NTT akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat.
“Sekali lagi kami tentu akan membahas itu dengan pemerintah pusat. Karena penentuan bencana nasional itu ada di pemerintah pusat. Tapi sekali lagi data ini akan kami gambarkan apa adanya, nanti biarkan status itu biarkan pemerintah pusat yang memutuskan," tambah Melki Laka Lena.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi NTT telah memproses penetapan status bencana provinsi. Sedangkan untuk status bencana nasional, keputusan sepenuhnya berada pada kewenangan pemerintah pusat.
“Kalau usulkan pasti kami bisa usulkan. Tapi sekali lagi kewenangan kami untuk ini menjadi bencana provinsi sudah kami proses, jadi ini sekarang diproses untuk menjadi bencana provinsi," ujarnya.
Melki Laka Lena juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat dijadwalkan mengirimkan jajaran terkait untuk melihat langsung kondisi di NTT dan mendukung penanganan bencana.
Kehadiran langsung Melki Laka Lena bersama Forkopimda di wilayah terdampak merupakan bagian dari upaya memastikan seluruh proses penanganan berjalan cepat, terpadu, dan tepat sasaran, sekaligus memastikan masyarakat di Flores mendapatkan dukungan penuh selama masa tanggap darurat.