Lapangan Sepak Bola Petak Sinkian, UMS dan Silaturahmi Puluhan Tahun
Eko Priyono August 16, 2026 01:35 AM

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Ramadhan LQ

WARTAKOTALIVE.COM, TAMAN SARI - Lapangan sepak bola Petak Sinkian atau yang lebih dikenal sebagai kandangnya klub legendaris Union Makes Strength (UMS) di Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, riuh-rendah saban Sabtu siang.

Termasuk, Sabtu (15/8/2026), dua hari sebelum Republik Indonesia genap berumur 81 tahun. Pekik tawa terdengar sampai keluar Stadion UMS, sebutan lain untuk Lapangan Petak Sinkian. Pantauan Warta Kota, di atas tribun kayu berangka baja ringan beratap genting pasir yang berada persis di depan pintu masuk lapangan, sejumlah pesepak bola terlihat duduk-duduk.   

Ya, mereka adalah para eks pemain UMS yang sedang menunggu jam main berdenting pukul 14.00 WIB. Mayoritas alumni UMS ini berusia senja, 50 sampai 60-an bahkan ada yang hampir menyentuh "kepala 7". Meski usia tak lagi muda, semangat untuk berlari mengejar bola ternyata masih menyala.

Setiap hari Sabtu pukul 14.00-16.00 WIB, menjadi waktu yang ditunggu para mantan pemain UMS. Mereka dijadwalkan latihan sepak bola sekaligus menyambung silaturahmi, menjaga ikatan yang terbentuk sejak puluhan tahun lalu tidak putus. Ketua Klub Sepak Bola UMS angkatan 50, Awalludin mengatakan kegiatan semacam ini bagian upaya menjaga kekompakan keluarga besar UMS.

KLUB UMS - Para mantan pemain klub sepak bola UMS berpose sebelum pertandingan trofeo dalam rangka silaturahmi dan menyambut HUT ke-81 RI di lapangan sepak bola Petak Sinkian, Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Sabtu (15/8/2026).
KLUB UMS - Para mantan pemain klub sepak bola UMS berpose sebelum pertandingan trofeo dalam rangka silaturahmi dan menyambut HUT ke-81 RI di lapangan sepak bola Petak Sinkian, Kelurahan Mangga Besar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Sabtu (15/8/2026). (Warta Kota/Ramadhan L Q)

"Harapan saya, semoga UMS tetap rukun, kompak selalu. Setiap latihan kami bisa silaturahmi," kata Awalludin kepada Warta Kota, Sabtu (15/8/2026).

Awalludin menjelaskan, Lapangan Petak Sinkian ini memang tak bisa dipisahkan dari klub UMS. Saat didirikan almarhum Song Chong Sin pada 15 Desember 1905, klub ini menyandang nama Tiong Hoa Hwee Koan Scholar's Football Club.

Salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia ini banyak melahirkan sejumlah pemain besar dan penghargaan. Satu di antara nama kesohor adalah almarhum Drg Endang Witarsa. Menurut Awalludin, kegiatan latihan rutin menjadi salah satu cara mempertahankan hubungan antarpemain. 

Jumlah anggota yang tergabung dalam komunitas ini mencapai 150 orang. Namun Awalludin mengakui tidak semuanya dapat hadir setiap pekan. Dalam satu kali latihan, jumlah pemain yang datang biasanya sekira 40 orang. Awalludin berharap para pemain tidak hanya datang ketika ada pertandingan atau laga persahabatan.

"Jangan cuma waktunya sparing-sparing saja datang. Hari latihan juga harus datang," ujarnya.

Selain itu, UMS juga menjadi wadah bagi sejumlah mantan pemain klub Galatama Warna Agung, yang dulunya juga menggunakan Lapangan Petak Sinkian sebagai tempat latihan. Salah satu mantan pemain yang hadir adalah Patra Katri Dahlan.

Mantan pemain Arema Malang ini juga secara simbolis diberikan seragam UMS yang menjadi simbol persaudaraan. 

"Karena sejatinya sepak bola itu menyatukan bukan memisahkan. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menutup diri apalagi Pak Patra juga memiliki hubungan 'sejarah' dengan lapangan ini. Dulunya dia membela Warna Agung yang latihannya di sini," ujar Awalludin.

Lintas generasi

Bagi keluarga besar UMS, sepak bola menjadi pintu masuk untuk menjaga persaudaraan. Latihan rutin, pertandingan persahabatan, hingga kegiatan bersama menjadi ruang untuk mempertemukan kembali para pemain dari berbagai generasi.

Hal itu disampaikan Budi K, mantan pemain UMS. Menurutnya, sepak bola bukan sekadar permainan yang mempertemukan 22 orang di lapangan. Di balik aktivitas menendang dan mengejar bola, ada ruang untuk kembali menyambung persaudaraan yang sempat terpisah oleh waktu.

Budi menyebut kegiatan ini sebagai momentum untuk mempertemukan kembali para alumni UMS yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan klub.

"Alhamdulillah, hari ini (Sabtu, 15/8/2026) agendanya silaturahmi alumni UMS untuk menyambut 17 Agustus yaitu Hari Kemerdekaan negara kita," kata Budi.

Budi menyatakan pertemuan itu bukan hanya ditujukan bagi mereka yang masih aktif bermain. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara untuk menjaga hubungan antargenerasi dalam keluarga besar UMS.

Budi melihat semangat berkumpul dan berolahraga tersebut memiliki nilai lebih luas. Komunitas sepak bola, menurut dia, dapat menjadi salah satu wadah untuk terus menghidupkan budaya olahraga sekaligus pembinaan sepak bola dari tingkat akar rumput.

"Alumni UMS ini mencontohkan pada komunitas-komunitas yang lain untuk tetap berkegiatan olahraga dan menggiatkan grassroots sepak bola, khususnya DKI Jakarta," ujarnya.

Silaturahmi puluhan tahun

Noor Dirgantara, pemain UMS periode 1988-1992 mengatakan, pertemuan Sabtu (15/8/2026) pada dasarnya merupakan kegiatan silaturahmi para mantan pemain. Hari itu seharusnya merupakan jadwal latihan rutin. 

Namun, kehadiran tim tamu dari Cirebon membuat latihan dikemas jadi pertandingan trofeo yang mempertemukan tiga tim.

"Ini acara silaturahmi saja. Semua di sini sebagian besar eks pemain UMS," kata Noor.

Kehadiran pemain dari berbagai generasi membuat lapangan seolah menjadi tempat bertemunya kembali masa lalu dan masa kini. Alumni dari angkatan 1970-an hingga 1980-an masih dapat ditemukan di tengah komunitas.

Bagi mereka yang pernah merasakan masa kejayaan UMS, kenangan terhadap klub tidak dapat dilepaskan dari sosok pelatih legendaris, Endang Witarsa.

Adjie Darmawan, pemain UMS lainnya periode 1970-1980 mengatakan, disiplin yang diterapkan Endang jadi bagian penting dari pembentukan karakter para pemain.

"Yang paling dikenang adalah dokternya, pelatihnya, Endang Witarsa. Dia orang yang benar-benar disiplin," kata Adjie.

Menurut Adjie, pendidikan yang diberikan Endang Witarsa turut membentuk kebiasaan para pemain. Sampai akhirnya mereka tetap mampu menjaga kebugaran dan bermain sepak bola ketika usia telah melewati 60 tahun.

Ketika ditanya mengenai hukuman yang diberikan sang pelatih, Adjie hanya tertawa. "Ya pokoknya kalau 'ngasih' hukuman itu enggak tanggung-tanggung. He-he-he," ujarnya disusul tawa.

Kenangan itu menjadi salah satu perekat yang membuat para alumni tetap merasa memiliki UMS meski sebagian besar dari mereka kini telah melewati masa aktif sebagai pemain profesional.

Sementara Reddy Sutanto Chandra, yang pernah menimba ilmu di UMS pada 1985 menyebut UMS sebagai salah satu tim yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola pada masanya. UMS, khususnya UMS 80, menurut Reddy, pernah menjadi tempat lahirnya sejumlah pemain top. Sosok Endang Witarsa kembali disebut sebagai bagian penting dari perjalanan tersebut.

"Dari disiplin, dari segala macam, dari attitude, diajarkan bagaimana harus bertingkah laku sebagai pemain bola profesional," kata Reddy yang kini menjabat Ketua Harian Perbanas All Stars, juga komunitas sepak bola. 

Lapangan tempat mereka berkumpul, lanjut Reddy, memiliki nilai sejarah tersendiri. Lapangan itu telah digunakan dari generasi ke generasi dan masih dimanfaatkan hingga sekarang.

Bagi Reddy, keberadaan lapangan tersebut penting bagi perkembangan sepak bola, terutama di Jakarta. Pasalnya, ruang terbuka untuk bermain sepak bola di tengah kawasan perkotaan semakin bernilai.

"Dari masa dulu sampai anak-anak yang sekarang pun menikmati lapangan ini. Saya pikir lapangan ini sangat berguna untuk pengembangan sepak bola Jakarta," ujarnya.

Sedangkan Patra mengaku punya kenangan tersendiri terhadap tempat tersebut. Lapangan itu pernah menjadi tempatnya berlatih ketika bergabung dengan Warna Agung. Menurut Patra, kegiatan yang mempertemukan para pemain berusia di atas 50 tahun kali ini bukan sekadar olahraga.

"Teman-teman mau berolahraga dengan usia yang sudah di atas 50, terus bersilaturahmi. Saya pikir komunitas seperti ini tetap harus terjaga dengan baik," kata Patra.

Baginya, ada dua manfaat utama dari kegiatan tersebut yakni menjaga silaturahmi dan menjaga kebugaran.

UMS-Warna Agung

Maat Iswandi, alumni UMS yang kemudian memperkuat Warna Agung, mengingat hubungan erat kedua klub tersebut pada masa lalu. Ia bergabung dengan Warna Agung pada dekade 1980-an. 

Menurut Maat, UMS dan Warna Agung saat itu memiliki keterkaitan dalam pembinaan pemain. Terutama karena berada di bawah pelatih yang sama, Endang Witarsa.

"UMS sama Warna Agung itu dulu satu, satu pelatih lah. Endang Witarsa," ujar Maat.

Para pemain UMS yang dinilai menonjol berkesempatan mengikuti tim Warna Agung. Namun menurut Maat, kesempatan itu tidak diberikan begitu saja. Pemain terlebih dahulu diuji dalam beberapa pertandingan untuk melihat kemampuan sekaligus mental bertanding.

Karena itu, bagi Maat, UMS dan Warna Agung memiliki jejak sejarah yang saling berkaitan dalam perjalanan sepak bola pada masa tersebut. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pertemuan para alumni menjadi semacam jalan pulang bagi mereka untuk mengenang masa-masa itu. Angkatan 1982, 1986 hingga 1989, ikut berkumpul dalam kegiatan silaturahmi kali ini.

"Kayaknya teman-teman yang bilangnya sih dari 'lubang semut' pada keluar lagi," ucap Maat sambil menggambarkan antusiasme para alumni yang kembali berdatangan. (m31)

Dapatkan informasi lain dari Wartakotalive.com lewat WhatsApp di sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.