Jakarta (ANTARA) - Tim produksi dari serial sinematik “Rimba Raya” mengungkapkan sejumlah kesulitan yang dihadapi ketika sedang memproduksi dan menyusun tiap adegan menggunakan bantuan kecerdasan buatan (AI).
“AI ini ternyata berbahaya kalau tidak dikuasai. Misalnya pada waktu dibuat hutan Indonesia, tapi ternyata dalam (pandangan AI) tidak ada hutan Indonesia. Adanya hutan Afrika, Amazon,” kata penggagas serial Rimba Raya sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.
Rano bercerita ketika melihat proses produksi penyusunan tiap adegan yang menampilkan latar, seringkali AI memberikan gambar atau elemen yang tidak sesuai dengan keinginan tim produksi.
Dia mencontohkan ketika sedang menyusun latar hutan di Indonesia, yang ditampilkan oleh AI justru hutan dari negara lain. Hal ini juga mencakup satwa di dalamnya, di mana AI menampilkan King Kong yang disebutnya bukanlah hewan asal Tanah Air.
“Jadi menurut saya memang AI itu teknologi yang belum sempurna. Harus kita sempurnakan,” kata Rano.
Sementara itu, Visual Director Rimba Raya Ario Rubbik menai AI sebagai bagian dari teknologi canggih memiliki pemikirannya sendiri yang berbeda dari manusia.
Maka dari itu, penggunaan storyboard dalam pembuatan serial sinematik masih sangat diperlukan untuk menyesuaikan hasil akhir dengan keinginan penciptanya.
Ario juga menyebut tantangan menggunakan AI terletak pada teknik pengambilan gambar yang pemahamannya berbeda dari teori yang diajarkan pada manusia ketika belajar di perguruan tinggi.
“Mungkin di sini ada yang mengerti dunia film, ada medium close up-nya, dia berbeda sekali dengan medium close-up yang ada di teori film yang saya belajar di sekolah, di kampus. Beda sekali aspek rasionya juga berbeda dengan kamera-kamera film,” ucap Ario.
Sebagai pembuat film konvensional, katanya, ada pula rasa marah dan kesal selama proses menggarap karena merasa harus melawan keinginan dalam diri sendiri dan juga mesin.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Chief Prompter Rimba Raya Farel Abid yang menyebut beberapa AI belum memahami Bahasa Indonesia secara utuh.
Farel menyebut AI dari China pun jika digunakan belum dapat menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
“Kalau yang dari China ini AI-nya belum bisa mengerti (Bahasa Indonesia), lebih mengerti kalau Bahasa Inggris atau bahasa native mereka sendiri,” tambahnya.





