Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Kiyotaka Mizuno, yang pernah tercatat sebagai pria tertua di Jepang, meninggal dunia pada Februari 2026 dalam usia 111 tahun.
Sebelum wafat, ia sempat menceritakan pengalamannya melewati Insiden 26 Februari 1936, Perang Pasifik, serangan torpedo, hingga penugasannya di Pulau Sulawesi, Indonesia.
Menjelang peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II pada 15 Agustus 2026, kesaksian terakhir Mizuno kembali menjadi perhatian.
Ketika ditanya tentang perang, ia mengatakan bahwa kenangan tersebut tidak harus terus-menerus disimpan.
“Sudah selama itu, ya. Saya tidak merasakan sesuatu yang khusus. Ingatan saya sekarang juga semakin memudar. Hal seperti itu tidak perlu terus diingat selamanya,” katanya dalam wawancara yang dilakukan pada Juli 2025.
Baca juga: 81 Tahun Usai Perang, Jejak Perebutan Minyak Jepang Masih Tersisa di Kilang Plaju
Mizuno lahir di Prefektur Shizuoka pada 1914, tahun ketika Perang Dunia I dimulai.
Ketika berusia 20 tahun, ia bertugas sebagai anggota Pengawal Kekaisaran, salah satu kesatuan elite militer Jepang.
Dalam masa tugas tersebut, Mizuno mengalami langsung Insiden 26 Februari atau Ni-ni-roku Jiken pada 1936.
Sekitar 1.500 prajurit yang dipimpin sejumlah perwira muda Angkatan Darat Jepang membunuh pejabat tinggi negara serta menduduki Kantor Perdana Menteri, Kepolisian Metropolitan Tokyo, dan sejumlah pusat pemerintahan.
Upaya kudeta itu berakhir setelah empat hari.
Peristiwa tersebut kemudian dipandang sebagai salah satu titik penting yang memperkuat dominasi militer dan mendorong Jepang menuju kebijakan ekspansi serta Perang Pasifik.
Mizuno mengingat dirinya dibangunkan atasannya pada pagi hari dan diperintahkan membawa pistol karena pasukan pemberontak mungkin datang.
Tanpa mendapatkan penjelasan terperinci, ia segera ditugaskan menjaga Kementerian Angkatan Darat, kemudian berpindah ke kawasan sekitar Istana Kekaisaran.
“Ketika itu benar-benar terjadi kekacauan besar,” kenangnya.
Ia baru mengetahui secara lengkap mengenai aksi pasukan pemberontak setelah situasi berakhir.
Setelah bertugas sebagai pengawal kekaisaran, Mizuno dikirim ke China dalam Perang Pasifik.
Salah satu pengalaman perang yang paling kuat dalam ingatannya adalah ketika kapal yang ditumpanginya terkena torpedo di perairan Filipina.
Setelah satuannya dibentuk di Manchuria, China, Mizuno kembali ke Hakata.
Dari sana, ia berlayar menuju wilayah selatan.
“Di lepas pantai Filipina, kapal kami terkena torpedo musuh. Karena kapal tenggelam, saya melompat ke laut. Saya berhasil berpegangan pada sebatang bambu, tetapi banyak orang meninggal di laut,” tuturnya.
Mizuno berada di laut selama sekitar empat jam sebelum diselamatkan kapal Angkatan Laut Jepang.
Ia kemudian mendarat di Pulau Sulawesi, yang ketika itu disebut Celebes.
Baca juga: Wapres AS Kini Sebut Tujuan Utama Perang Bukan Lagi Program Nuklir Iran, tapi Harga Minyak Turun
Karena tidak tersedia kapal untuk melanjutkan perjalanan, Mizuno harus menetap cukup lama di wilayah tersebut.
Senapan dan pistolnya jatuh ke laut ketika kapal tenggelam.
Ia menjalani hari-hari tanpa perlengkapan memadai, menghadapi serangan udara pada siang hari dan melakukan operasi militer pada malam hari.
“Pada siang hari kami menerima serangan udara, menggali lubang perlindungan dan melarikan diri. Pada malam hari kami berangkat melakukan serangan. Di tengah kehidupan seperti itulah perang berakhir,” katanya.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Mizuno kembali ke negaranya menggunakan kapal milik militer Amerika Serikat.
Saat itu, usianya 31 tahun.
Setelah perang, Mizuno kembali ke kampung halamannya di Shizuoka.
Ia bekerja sebagai petani hingga berusia sekitar 85 tahun dengan menanam talas udang, daun bawang, dan melon.
Mizuno memiliki empat anak, 10 cucu, 10 cicit, serta sejumlah keturunan generasi berikutnya.
Ketika ditanya masa paling menyenangkan sepanjang 111 tahun kehidupannya, Mizuno memilih usia 50-an.
Masa tersebut bertepatan dengan periode pertumbuhan ekonomi tinggi Jepang.
Sebagai pendukung klub bisbol Yomiuri Giants, ia sangat menikmati masa kejayaan Sadaharu Oh dan Shigeo Nagashima.
Ia juga senang menyaksikan pegulat sumo legendaris Taiho melalui televisi setelah bekerja di ladang.
Mengenai pengalaman hidup melewati empat era—Taisho, Showa, Heisei, dan Reiwa—Mizuno tidak dapat menentukan era terbaik.
Namun, ia mengatakan era Showa sangat berkesan karena berlangsung selama 64 tahun.
Ia juga kesulitan memilih satu peristiwa paling membahagiakan dalam hidupnya.
“Saya mengalami banyak hal yang menyenangkan selama 111 tahun. Saya bertemu berbagai macam orang serta dapat melihat anak, cucu, dan cicit saya. Semuanya merupakan kenangan yang berharga,” ujarnya.
Ketika diminta menyampaikan pesan kepada generasi muda, Mizuno tidak bermaksud memberikan nasihat tertentu karena setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing.
“Saya sendiri tidak pernah membayangkan akan hidup sampai usia seperti ini, apalagi menjadi orang yang hidup paling lama di Jepang. Tidak seorang pun mengetahui sampai kapan akan hidup sebelum waktunya tiba,” katanya.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com