BANJARMASINPOST.CO.ID - Sabtu (15/8/2026) yang berdebu di halaman belakang Setara Cafe Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Halaman belakang cafe yang berada di belakang kawasan Balai Kota Banjarbaru di Jalan RP Soeparto No.2, Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, itu berubah jadi mesin waktu.
Deretan Mountain Terrain Bike (MTB) alias sepeda gunung klasik alias jadul (jaman dulu) dengan lekuk frame besi legendaris berbaris rapi.
Sepeda-sepeda dengan ciri khas ukuran ban 26 inchi itu terkumpul dalam satu acara, Vintage MTB Day 2026 Banjarbaru.
Puluhan sepeda MTB jadul produksi 80 hingga 90-an mejeng anggun di bawah cuaca terik Kota Banjarbaru siang itu, dari berbagai komunitas.
Baca juga: Keseruan Lomba Bayi Merangkak di REI Kalsel Expo 2026, Bikin Para Pengunjung Senyum
Sepeda pabrikan lokal legendaris seperti Federal jadul dan Polygon era 90-an tampil PD bersanding dengan jagoan-jagoan internasional macam GT Karakoram Elite tahun 90-an yang berminyak (karena harganya sudah digoreng), Alpinestars dengan Elevated Chainstay (rantai naik) ikoniknya, Trek jadul, hingga Bridgestone MB-1 yang langka.
Acara ini tak hanya milik para pecinta 26 (julukan MTB jadul, merujuk pada ukuran ban-nya), pemilik sepeda modern pun ikut merapat.
Acara pecah saat sesi balap seru-seruan antar MTB vintage digelar di trek tanah belakang kafe.
Tanpa suspensi canggih khas sepeda zaman sekarang, para peserta menjajal ketangguhan sepeda besi mereka melibas lintasan tanah. Kalah menang, semua tertawa.
Vintage MTB Day alias Hari MTB Klasik digelar setiap tahunnya pada tanggal 13 Agustus dan dirayakan di seluruh dunia.
Di Banjarbaru, kata Ketua Pelaksana acara, Tri Budi alias Budilug, memang baru digelar akhir pekan ini.
"Tahun kemarin juga kita gelar, tapi belum seramai sekarang. Tahun ini antusiasnya luar biasa," kata Budilug, salah satu dedengkot MTB klasik di Kota Idaman itu.
Tahun ini memang MTB jadul sedang booming. Last Friday Ride, Critical Mass di berbagai kota di dunia kian ramai, termasuk di kota-kota di Kalimantan Selatan.
Antusiasme yang makin tinggi terhadap sepeda klasik, yang justru banyak datang dari kalangan muda ini, kata Budilug, menjadi kabar gembira.
"Karena sebenarnya yang dicari bukan hanya bersepedanya, tapi juga sejarah di balik sepeda-sepeda vintage ini. Karena setiap sepeda punya sejarahnya masing-masing," pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Rahmadhani)