Kesaksian Emilia Makmur Selamat dari Gempa M7,7 di Nggorang Manggarai Barat: Rumah Saya Hancur
Shinta Dwi Anggraini August 16, 2026 09:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM -- Guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) menjadi peristiwa yang tak akan pernah dilupakan oleh Emilia Makmur (45). 

Warga yang menetap di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat ini berhasil menyelamatkan diri bersama anak tunggalnya sesaat sebelum struktur tembok rumah tinggal mereka ambruk terhempas getaran gempa.

Saat guncangan hebat itu mulai merobek ketenangan permukiman, suasana panik dan rasa takut luar biasa langsung menyelimuti Emilia. 

Begitu merasakan getaran tanah yang tidak biasa dan semakin kuat, insting dasarnya mendorong ia untuk segera bergegas mengajak anaknya berlari menembus pintu keluar. 

Langkah cepat itu menjadi pembatas antara keselamatan dan bahaya. 

Hanya selang beberapa detik setelah mereka berhasil menjejakkan kaki di area terbuka luar rumah, Emilia menyaksikan langsung bagaimana dinding tempat tinggalnya runtuh. 

Tembok bangunan itu jatuh berhamburan ke tanah, menyisakan puing-puing material dan debu yang membumbung.

KONDISI PASCA GEMPA -- 346 rumah rusak (157 berat, 41 sedang, 148 ringan) dan 116 fasilitas umum/sosial terdampak.
KONDISI PASCA GEMPA -- 346 rumah rusak (157 berat, 41 sedang, 148 ringan) dan 116 fasilitas umum/sosial terdampak. (Kompas.com)

Sebagai seorang janda yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai petani, Emilia tidak bisa berbuat banyak menyaksikan satu-satunya tempat berlindung runtuh di depan matanya. 

Namun di balik kesedihan atas kerusakan fisik yang terjadi, rasa pasrah dan syukur yang mendalam menyelimuti hatinya karena ia dan sang anak dapat terhindar dari bahaya reruntuhan.

Bagi Mama Emilia, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh dari hujan dan panas, melainkan aset berharga yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit demi menopang masa depan dirinya dan sang anak. 

Kendati demikian, kerugian materiil tidak menyurutkan keikhlasannya. Keselamatan jiwa anak dan dirinya tetap menjadi karunia terbesar yang paling ia syukuri di tengah musibah tersebut.

"Tidak apa-apa yang penting kami selamat," paparnya.

Pasca kejadian gempa hebat tersebut, langkah tanggap cepat mulai dilakukan oleh pemerintah setempat. Kepala Desa Nggorang, Bonifasius Mansur, turun langsung ke lapangan mendampingi para stafnya guna meninjau lokasi-lokasi terdampak. 

Tim desa melakukan pendataan secara mendetail terhadap kondisi rumah milik Emilia serta kediaman warga lainnya yang mengalami kerusakan.

Dalam pendataan tersebut, Mama Emilia tampak sesekali mengarahkan pandangannya kembali ke arah bangunan rumahnya. Kondisi bagian dalam rumahnya sudah rusak parah akibat tembok yang ambruk total, sementara struktur tembok samping mengalami retak serius dan seluruh area lantai tertutup oleh material tanah serta sisa runtuhan.

Secara geografis dan administratif, Desa Nggorang terletak di kawasan yang cukup strategis, yaitu membentang di sepanjang jalan Trans Labuan Bajo-Ruteng, atau berjarak sekitar 10 kilometer sebelum memasuki pusat Kota Labuan Bajo. 

Berada di wilayah pinggiran kota, desa ini tergolong padat penduduk dengan mayoritas masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan pekerja sektor swasta. 

Karakteristik wilayah Nggorang identik dengan bentangan kawasan pertanian dan persawahan yang luas.

Secara kultural, masyarakat setempat merupakan bagian integral dari komunitas adat Manggarai yang memegang teguh tradisi serta nilai kebudayaan lokal. 

Kawasan Nggorang sendiri memiliki ikatan sejarah yang erat dengan persekutuan adat Nggorang. 

Dalam perjalanan sejarah pembangunan dan modernisasi kawasan Labuan Bajo, masyarakat adat Nggorang memiliki peran penting melalui penyerahan sebagian lahan adat untuk kepentingan fasilitas publik dan pengkembangan daerah, termasuk untuk pembangunan kawasan bandar udara.

Untuk menunjang kehidupan sosial dan penyiapan generasi penerus, Desa Nggorang juga ditunjang oleh sarana pendidikan seperti SD Inpres Nggorang dan SMP Negeri 2 Komodo. 

Seiring dengan keterbukaan informasi publik, Pemerintah Desa Nggorang kini juga telah mengoperasikan situs resmi guna menyajikan berbagai data terkait perkembangan pembangunan, agenda kegiatan masyarakat, hingga potensi pariwisata lokal yang dimiliki desa tersebut.

47 Korban Tewas

Sebagai informasi, berdasarkan laporan sementara BNPB hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 18.48 WIB, total korban meninggal dunia akibat gempa bumi M 7,7 di NTT mencapai 47 orang.

Berikut adalah rincian sebaran korban meninggal dunia di sejumlah wilayah terdampak:

Kabupaten Manggarai: 24 orang

Kabupaten Manggarai Timur: 17 orang

Kabupaten Sikka: 3 orang

Kabupaten Ngada: 1 orang

Kabupaten Ende: 1 orang

Kabupaten Manggarai Barat: 1 orang

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.