Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Band indie asal Bengkulu, The Kursk, terus menunjukkan eksistensinya di tengah perkembangan musik lokal.
Hal itu diungkapkan The Kursk saat di podcast Kito Obroli TribunBengkulu.com, Sabtu (15/8/2026).
Band yang mengusung warna rock alternative tersebut kini tengah mempersiapkan album perdana yang ditargetkan meluncur pada September mendatang.
Vokalis The Kursk, Faza, menceritakan perjalanan band tersebut dalam sebuah obrolan di program Tribun.
The Kursk tidak terbentuk secara instan. Band ini berawal dari pertemanan dan kesamaan hobi sejumlah mahasiswa yang gemar bermain musik.
Para personel The Kursk awalnya kerap berkumpul dan bermain gitar bersama di lingkungan kampus.
Dari kebiasaan tersebut kemudian muncul keinginan untuk membentuk sebuah band.
Baca juga: Cerita Andes Syaputra Ubah Hobi Foto Olahraga Jadi Ladang Penghasilan di Bengkulu
“Awal terbentuknya karena kami dalam satu komunitas yang sama. Di kampus itu kami punya satu hobi, main musik. Sering main gitar-gitaran,” ujar Faza dalam Podcast Kito Obroli TribunBengkulu.com, Sabtu (15/8/2026).
Dalam perjalanannya, band tersebut sempat mengalami perubahan personel sebelum menemukan komposisi dan arah musik yang dianggap paling sesuai.
Perjalanan mereka selama beberapa tahun tidak hanya diisi dengan tampil membawakan lagu milik musisi lain.
The Kursk perlahan mulai menciptakan karya sendiri.
Salah satu karya yang menjadi bagian penting perjalanan The Kursk adalah single “Binasa”.
Menurut Faza, lagu tersebut lahir dari keresahan yang dirasakan anak muda.
Karya itu mengangkat fenomena ketika seseorang berusaha menampilkan citra tertentu di hadapan orang lain hingga mengesampingkan jati dirinya sendiri.
“Lagu itu sebenarnya dari keresahan anak muda sekarang,” kata Faza.
Proses penggarapan lagu juga dilakukan secara bertahap.
Ide melodi dan materi lagu kemudian dikembangkan bersama hingga menjadi karya yang siap direkam dan dipublikasikan.
Seiring berjalannya waktu, The Kursk yang sebelumnya lebih banyak tampil di berbagai panggung dan membawakan lagu cover mulai serius menggarap materi original.
Kini, mereka bahkan tengah menyiapkan album perdana.
Faza menyebut album tersebut direncanakan berisi sekitar 10 lagu. Saat ini proses pengerjaannya masih berlangsung dengan progres sekitar 55 hingga 60 persen.
“InsyaAllah kami bakal merilis album di bulan September,” ujarnya.
Selain “Binasa”, sejumlah lagu yang sebelumnya telah dimainkan The Kursk dalam berbagai pertunjukan juga akan menjadi bagian dari album tersebut.
Proses produksi dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Meski demikian, para personel tetap berusaha memberikan hasil terbaik untuk setiap karya yang mereka kerjakan.
The Kursk juga tidak ingin kehilangan identitas musik yang selama ini mereka bangun.
Masing-masing personel memiliki referensi musik berbeda, tetapi mereka menemukan titik temu melalui rock alternative.
Perjalanan The Kursk bukan semata-mata soal mendapatkan penghasilan dari bermusik.
Kepuasan ketika tampil, bertemu penonton, mendapatkan dukungan komunitas, serta mampu menghasilkan karya menjadi alasan penting bagi mereka untuk terus bertahan.
Lingkungan musik di Bengkulu juga semakin memberikan ruang bagi musisi muda.
Komunitas dan musisi senior dinilai mulai membuka kesempatan bagi generasi baru untuk tampil dan berkembang.
“Jangan takut kalau karya tidak ada yang dengar. Tetap jalani saja. Kami juga masih merangkak,” tutur Faza.
Ke depan, The Kursk berharap dapat membawa nama Bengkulu lebih jauh melalui musik.
Mereka ingin karya yang lahir dari Bengkulu tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus panggung nasional.
Album perdana yang dijadwalkan rilis September menjadi salah satu langkah penting bagi The Kursk untuk mewujudkan harapan tersebut.
Setelah album diluncurkan, mereka juga menyiapkan sejumlah agenda untuk memperkenalkan karya tersebut kepada pendengar, termasuk showcase dan kegiatan perilisan album di Bengkulu.
Bagi The Kursk, perjalanan bermusik masih panjang.
Mereka ingin tetap menjaga konsistensi, mempertahankan karakter band, sekaligus terus menghasilkan karya baru dari Bengkulu.