TRIBUNNEWSMAKER.COM - Arab Saudi mengambil langkah besar untuk memperkuat keamanan kawasan Laut Merah yang belakangan kembali diwarnai ancaman serangan Houthi.
Riyadh membentuk Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional dengan menggandeng sejumlah negara dari Timur Tengah, Asia, hingga Afrika.
Sebanyak 15 negara disebut telah menandatangani deklarasi bersama terkait pembentukan aliansi tersebut.
Dari jumlah itu, 13 negara telah menyelesaikan prosedur nasional dan resmi bergabung dalam kerja sama pertahanan maritim.
Aliansi tersebut mencakup Bahrain, Bangladesh, Komoro, Djibouti, Mesir, Yordania, Kuwait, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.
Kerja sama ini diarahkan untuk menjaga keamanan serta kebebasan pelayaran di kawasan strategis Laut Merah, Selat Bab al-Mandeb, dan Teluk Aden.
Ketiga jalur tersebut memiliki posisi penting karena menjadi penghubung antara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.
Kekhawatiran meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman dilaporkan melakukan serangkaian serangan terhadap kapal yang melintas di kawasan Laut Merah.
Bagi Arab Saudi, gangguan terhadap jalur pelayaran tersebut bukan lagi sekadar persoalan keamanan regional, tetapi berpotensi mengganggu perdagangan internasional.
Karena itu, Riyadh berupaya mengajak lebih banyak negara untuk memperkuat pertahanan laut sekaligus menghadirkan respons bersama terhadap ancaman yang muncul.
Aliansi tersebut akan menjalankan sejumlah bentuk kerja sama, mulai dari pertukaran informasi dan intelijen hingga latihan serta simulasi angkatan laut bersama.
Dengan terbentuknya kekuatan gabungan ini, Arab Saudi ingin memastikan Laut Merah tetap menjadi jalur pelayaran yang aman sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ancaman Houthi.
Baca juga: Donald Trump Sebut Selat Hormuz dalam Kendali AS, Iran Justru Kunci Jalur Minyak Dunia
Pembentukan aliansi ini berlangsung ketika keamanan Laut Merah menghadapi ancaman dari kelompok Houthi di Yaman. Kelompok tersebut telah terlibat dalam konflik dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Situasi keamanan kawasan juga semakin kompleks di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam situasi tersebut, Houthi dilaporkan melancarkan sejumlah serangan terhadap kapal yang melintas di kawasan Laut Merah, termasuk kapal yang memiliki kaitan dengan Arab Saudi.
Serangan itu lantas menimbulkan kekhawatiran bahwa Houthi dapat meningkatkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran dan mengancam Selat Bab al-Mandeb.
Bukan tanpa alasan pasalnya selat tersebut sangat penting karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah.
Gangguan pelayaran juga dapat mempengaruhi perdagangan internasional, mengingat jalur tersebut digunakan kapal-kapal yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa.
Aliansi Maritim Saudi Siapkan Kekuatan Gabungan
Untuk menghadapi potensi ancaman tersebut, negara-negara anggota Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional akan memperkuat koordinasi pertahanan.
Kerja sama tersebut mencakup pertukaran informasi dan intelijen, penyusunan perencanaan operasi, serta latihan dan simulasi angkatan laut bersama.
Negara anggota juga akan mengembangkan kemampuan militer dan dapat melaksanakan operasi maritim bersama sesuai dengan ketentuan dalam piagam aliansi.
Dengan pola tersebut, aliansi tidak hanya menjadi forum kerja sama politik, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemampuan operasional bersama dalam menghadapi ancaman di laut.
Lebih lanjut mengutip dari Al Jazeera, Arab Saudi menunjuk Laksamana Muda Abdullah bin Salem Al-Shehri sebagai komandan koalisi.
Ia bertanggung jawab mengawasi kerja sama pertahanan maritim, berkoordinasi dengan negara-negara anggota serta koalisi maritim lainnya, dan menjalankan misi sesuai dengan mandat aliansi.
Langkah ini menunjukkan upaya Riyadh membangun sistem pertahanan laut yang tidak hanya bergantung pada kekuatan militernya sendiri, tetapi juga memanfaatkan kemampuan dan dukungan negara-negara mitra.
Analis senior International Crisis Group untuk Yaman, Ahmed Nagi, menilai aliansi tersebut berpotensi menjadi penting jika mampu mengubah kesepakatan politik menjadi tindakan nyata di lapangan.
Menurutnya, kerja sama keamanan maritim sebenarnya bukan hal baru di kawasan tersebut. Sebelumnya, sejumlah negara juga pernah membentuk inisiatif bersama untuk menghadapi ancaman pembajakan di sekitar Teluk Aden.
Namun, tantangan utama aliansi baru ini adalah memastikan koordinasi antarnegara dapat menghasilkan kemampuan yang benar-benar efektif.
Bagi Arab Saudi, pembentukan aliansi juga memiliki tujuan strategis lain. Riyadh ingin serangan terhadap kapal dan gangguan pelayaran di Laut Merah tidak lagi dipandang sebagai masalah keamanan Arab Saudi semata.
Serangan tersebut dinilai dapat berdampak terhadap perdagangan internasional sehingga membutuhkan respons dari komunitas internasional.
Dengan demikian, semakin banyak negara yang terlibat dalam pengamanan Laut Merah, semakin besar pula tekanan terhadap pihak yang berusaha mengganggu jalur pelayaran.
Meski melibatkan banyak negara, Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional untuk saat ini lebih diarahkan sebagai koalisi defensif.
Belum terdapat indikasi bahwa Arab Saudi membentuk aliansi tersebut untuk langsung melancarkan operasi ofensif terhadap Houthi.
Fokus awalnya adalah meningkatkan kemampuan pertahanan, menjaga keamanan pelayaran, memperkuat pertukaran informasi, serta memastikan negara anggota mampu merespons ancaman dengan lebih cepat.
Namun, situasi tersebut dapat berubah apabila serangan terhadap kapal dan kepentingan Arab Saudi terus meningkat.
Jika ancaman semakin besar, Riyadh dapat menggunakan aliansi tersebut sebagai kerangka untuk mendapatkan dukungan internasional yang lebih luas dalam mengambil langkah berikutnya.
Tujuan akhirnya adalah meningkatkan biaya bagi pihak yang melakukan serangan sekaligus menciptakan efek pencegahan atau deterrence.
Dengan menggandeng sejumlah negara, Arab Saudi juga ingin mengirimkan pesan bahwa gangguan terhadap pelayaran di Laut Merah bukan hanya persoalan antara Riyadh dan Houthi.
Keamanan Laut Merah berkaitan langsung dengan perdagangan global. Karena itu, kemampuan aliansi ini dalam menjaga jalur pelayaran dan menghadapi ancaman Houthi akan menjadi penentu apakah pembentukan koalisi tersebut benar-benar mampu mengubah peta keamanan maritim di kawasan.
(TribunNewsmaker.com/TribunNews/Namira)