TRIBUNNEWSMAKER.COM - Trauma gempa kembali dirasakan warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejumlah warga memilih meninggalkan rumah dan mengungsi ke wilayah perbukitan pada Sabtu (15/8/2026) malam.
Keputusan itu diambil karena warga khawatir gempa susulan kembali terjadi.
Terlebih, pemukiman warga berada di kawasan pesisir pantai sehingga mereka merasa lebih aman berada di tempat yang lebih tinggi.
Sesampainya di perbukitan, warga mendirikan tenda darurat untuk bermalam.
Baca juga: Gempa M7,7 Guncang NTT, Korban Meninggal Dunia Capai 43 Orang, Manggarai Timur Masih Gelap Gulita
Mereka tidur beralaskan tikar dan kardus bekas di tengah kondisi yang masih diliputi kecemasan.
Untuk memenuhi kebutuhan penerangan, warga turut membawa mesin genset ke lokasi pengungsian.
Warga mengaku belum berani kembali ke rumah karena masih dihantui ketakutan terhadap gempa susulan.
Trauma tersebut juga berkaitan dengan pengalaman gempa besar yang pernah terjadi pada 1992 lalu.
"Banyak warga yang pergi ke bukit untuk mengungsi malam ini," kata Jahadin, warga setempat.
Tak hanya di Nangahale, kondisi serupa juga terjadi di Pulau Palue.
Sejumlah warga di Desa Rokirole, Pulau Palue, memilih mendirikan tenda darurat di lapangan terbuka sebagai tempat mengungsi.
Situasi tersebut menunjukkan masih kuatnya kekhawatiran warga setelah gempa mengguncang wilayah NTT dan memicu kepanikan di sejumlah daerah.
(TribunNewsmaker.com/PosKupang)