BBTE 2026 Bidik 300 Pelaku Bisnis Pariwisata, Borobudur Jadi Hub Pariwisata Jawa Tengah
Dwi Rizki August 16, 2026 11:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Borobudur bukan sekadar destinasi untuk menikmati jejak peradaban masa lalu. 

Di tengah geliat industri pariwisata yang terus berkembang, kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu titik temu baru bagi pelaku bisnis pariwisata dan MICE di Indonesia.

Harapan itu akan diwujudkan melalui Borobudur & Beyond Tourism Expo (BBTE) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 25 hingga 28 Oktober 2026 di Grand Artos Hotel & Convention, Magelang, Jawa Tengah.

Ajang Business-to-Business (B2B) pariwisata itu targetkan kehadiran 100 seller dan 200 buyer dari dalam maupun luar negeri. 

Mereka tidak hanya berasal dari biro perjalanan dan operator tur, tetapi juga kalangan korporasi, event organizer, hingga wedding planner.

Dengan cakupan peserta yang lebih luas, BBTE 2026 tidak diarahkan sekadar menjadi ruang promosi destinasi. 

Forum ini dirancang sebagai tempat bertemunya kebutuhan pasar dengan beragam produk dan layanan pariwisata Indonesia.

"Kami ingin BBTE menjadi business platform yang mempertemukan pasar dengan produk Indonesia," kata Group CEO RajaMICE, Panca Rudolf Sarungu.

Menurut Panca, target 100 seller dan 200 buyer diharapkan mampu menjadikan BBTE sebagai salah satu ajang B2B pariwisata terbesar di Pulau Jawa.

Borobudur sebagai Hub

Bagi Jawa Tengah, penyelenggaraan BBTE memiliki arti lebih luas. 

Borobudur diharapkan tidak hanya menjadi magnet wisatawan, tetapi juga berperan sebagai penghubung berbagai potensi pariwisata di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, AR Hanung Triyono menilai, BBTE sejalan dengan upaya memperkuat konektivitas dan kolaborasi antardaerah.

"BBTE sejalan dengan konsep aglomerasi global yang diusung Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi," tutur dia.

"Borobudur bukan hanya destinasi pariwisata, tetapi dapat menjadi hub yang menghubungkan berbagai potensi pariwisata Jawa Tengah melalui konektivitas, kolaborasi dan penguatan kawasan sebagai satu ekosistem ekonomi," sambungnya.

Gagasan itu menempatkan Borobudur dalam perspektif yang lebih luas. 

Wisatawan yang datang tidak berhenti pada satu destinasi, tapi diarahkan untuk mengenal berbagai potensi lain di Jawa Tengah.

Baca juga: Produksi B50, Indonesia Tak Lagi Impor Solar, Bisa Hemat Devisa hingga Rp170 Triliun

Bukan Sekadar Melihat, tetapi Bertransaksi

Bagi industri pariwisata, keberhasilan sebuah travel mart tidak hanya diukur dari jumlah orang yang hadir. 

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pertemuan berlangsung.

Karena itu, BBTE 2026 menempatkan business matching sebagai salah satu fokus utama.

Ketua Panitia BBTE 2026, Sugeng Sugiantro, mengatakan para buyer diharapkan datang dengan kepentingan bisnis yang jelas.

“Kami ingin buyers datang bukan hanya untuk melihat Borobudur, tetapi melakukan business matching, membangun networking dan membuka kerja sama,” ujarnya.

Dengan mempertemukan 200 buyer dan 100 seller, forum ini diharapkan menghasilkan hubungan bisnis yang dapat berlanjut setelah acara berakhir. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.