BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Gelegar Tala Ethnic Carnival (TEC) 2 tahun 2026 tak sekadar memenuhi Jalan Hadji Boejasin, kawasan Palpalan, Kota Pelaihari, Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, dengan warna-warni kostum dan parade kreativitas.
Di balik riuh tepuk tangan dan sorotan kamera warga pada malam tadi itu, muncul satu harapan kuat: Tala Ethnic Carnival terus digelar, diperbesar dan kelak menjadi festival budaya ikonik Kalimantan.
Ribuan warga memadati sisi jalan sejak titik start hingga kawasan depan Mall Pelayanan Publik (MPP) Pelaihari. Sebagian datang bersama keluarga, sementara lainnya sengaja membawa telepon seluler untuk mengabadikan parade.
Ketika peserta mulai melintas, suasana pun berubah menjadi riuh. Tepuk tangan, sorakan dan kilatan kamera bersahutan. Tak sedikit warga bahkan secara spontan mendekati peserta untuk berfoto bersama.
Bagi masyarakat, antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa ruang publik bisa menjadi panggung efektif untuk merayakan budaya sekaligus menghadirkan hiburan yang mampu menyatukan warga.
Baca juga: Puluhan Lansia di Tanahlaut Diwisuda, Kegiatan Diharapkan Diperbanyak untuk Ruang Aktivitas
Baca juga: Kecelakaan Beruntun di Jalan A Yani Km 30 Banjarbaru, Satu Orang Pengendara Dikabarkan Meninggal
Yuni, warga Tala, menilai tingginya partisipasi masyarakat menjadi modal besar untuk membawa TEC ke level yang lebih tinggi.
“Warga sangat ramai dan kelihatannya menikmati. Saya berharap tahun depan konsepnya bisa dibuat lebih besar lagi, tetapi tetap kuat menampilkan budaya Tanahlaut,” ujarnya, Minggu (16/8/2026).
Menurut pekerja swasta ini, TEC juga memiliki nilai penting bagi generasi muda. Budaya yang biasanya ditemui dalam buku atau kegiatan formal, menurutnya, bisa diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.
“Kalau anak-anak melihat langsung acaranya, mereka lebih mudah tertarik. Semoga semakin banyak budaya lokal yang ditampilkan,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang terasa di sekitar lokasi kegiatan. Keramaian event membuat pelaku usaha mikro dan pedagang mendapat peluang meningkatkan pendapatan.
“UMKM juga ikut merasakan dampaknya. Saat ramai seperti ini, banyak yang berjualan dan mendapat rezeki lebih,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Devina, warga Tala lainnya. Ia melihat TEC memiliki peluang kuat untuk berkembang menjadi salah satu identitas event daerah.
“Kalau rutin dan terus diperbaiki, saya yakin bisa menjadi acara yang ditunggu setiap tahun. Bahkan mungkin bisa menarik orang dari luar Tanah Laut,” tuturnya.
Ia berharap pengembangan TEC tidak hanya berorientasi pada kemeriahan visual, tetapi juga memperkuat cerita di balik setiap penampilan.
“Jangan hanya bagus dilihat. Akan lebih menarik kalau setiap kostum juga punya cerita tentang budaya atau daerah yang diangkat,” katanya.
Antusiasme warga tersebut mendapat perhatian Bupati Tanahlaut H Rahmat Trianto.
Menurut H Rahmat, TEC 2026 yang mengusung tema “Unity in Diversity” merupakan pelaksanaan kedua sejak event tersebut digelar. Menariknya, jumlah peserta mengalami peningkatan cukup signifikan.
Dari sekitar 50 peserta pada penyelenggaraan sebelumnya, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi hampir 70 peserta.
“Ini merupakan kegiatan tahunan dan kali kedua kita melaksanakan karnaval seperti ini. Jumlah pesertanya meningkat, dari sekitar 50 menjadi hampir 70. Ini menunjukkan semangat masyarakat untuk berpartisipasi,” ujar Rahmat.
Bupati berharap TEC tidak berhenti sebagai agenda tahunan di tingkat kabupaten. Ia mendorong penyelenggaraan berikutnya melibatkan kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan sehingga gaungnya semakin luas.
Targetnya bukan semata menjadikan karnaval lebih meriah, tetapi juga menjadikannya sebagai event budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Ke depan kita berharap bisa melibatkan kabupaten dan kota lain di Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Rahmat menilai keberagaman yang hidup di Tala merupakan modal sosial sekaligus kekuatan budaya daerah.
Banjar, Jawa, Bugis, Sunda dan berbagai latar belakang lainnya hidup berdampingan dan dapat dipertemukan melalui ruang budaya seperti TEC.
“Perbedaan inilah yang menjadi kekuatan kita. Kita memiliki beraneka ragam suku dan budaya, tetapi semuanya bisa bersatu dalam satu kegiatan. Inilah makna dari tema Unity in Diversity,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kreativitas peserta, terutama generasi muda yang mampu mengolah kekayaan budaya menjadi busana dan pertunjukan yang lebih atraktif.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara mengenai infrastruktur. Pembangunan manusia, budaya, seni dan kreativitas juga menjadi bagian penting dari kemajuan Tala.
Bersama Wabup HM Zazuli, ia menegaskan pemerintahannya akan membangun Tala secara bersama-sama melibatkan semua pihak.
"Kita membangun sumber daya manusia, infrastruktur, budaya, kesenian dan semuanya. Semua harus kita gabungkan untuk kemajuan Tala dan Kalimantan Selatan,” tegasnya.
Sepanjang pelaksanaan TEC 2026, Jalan Hagji Boejasin praktis berubah menjadi panggung pertunjukan terbuka.
Tidak ada batas panggung yang kaku. Peserta dan penonton berada dalam satu ruang yang sama.
Peserta datang dari berbagai kategori, mulai sekolah, organisasi, masyarakat umum hingga perangkat daerah. Masing-masing membawa konsep berbeda.
Ada yang mengangkat busana dan tradisi khas daerah, menonjolkan kearifan lokal serta budaya Nusantara. Ada pula yang memadukan unsur etnik dengan sentuhan desain kontemporer.
Wastra, ornamen tradisional dan berbagai elemen budaya diterjemahkan menjadi kostum yang atraktif. Sentuhan modern membuat sejumlah penampilan terasa lebih dekat dengan selera generasi muda.
Keragaman konsep tersebut membuat parade tidak sekadar menjadi tontonan warna-warni. Di dalamnya terdapat upaya menerjemahkan budaya melalui kreativitas.
Anak-anak yang datang bersama orang tua pun menjadi bagian dari penonton. Bagi mereka, budaya hadir bukan dalam bentuk pelajaran formal, melainkan melalui sesuatu yang dapat dilihat, dinikmati dan dirasakan secara langsung.
Di sisi lain, ramainya masyarakat juga memberikan efek berantai bagi aktivitas ekonomi di sekitar lokasi. Pedagang makanan, minuman dan berbagai usaha kecil mendapat tambahan konsumen dari membludaknya pengunjung.
Tiga Juara Utama
Semarak TEC 2026 sekaligus ditandai dengan kompetisi kreativitas antarpeserta.
Untuk kategori SKPD, Juara I diraih Kecamatan Takisung. Kategori sekolah, Juara I diraih SMK Negeri 1 Takisung. Sementara kategori organisasi, Juara I diraih Lintang Kencana.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas dalam TEC tidak hanya datang dari satu kelompok. Sekolah, organisasi masyarakat maupun perangkat daerah memiliki ruang yang sama untuk menunjukkan gagasan dan ekspresi budaya.
TEC 2026 meninggalkan lebih dari sekadar kemeriahan satu malam.
Antusiasme warga, meningkatnya jumlah peserta, kreativitas generasi muda dan dampak ekonomi bagi pelaku usaha menjadi modal penting untuk mengembangkan event tersebut.
Sejumlah pihak menyebut tantangannya kini adalah menjaga konsistensi, memperkuat identitas budaya Tala, meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan memperluas promosi.
Jika pada tahun kedua saja hampir 70 peserta mampu menghidupkan Jalan Hadji Boejasin dan menarik ribuan warga, maka ruang untuk membuat TEC jauh lebih besar masih terbuka.
Bukan tidak mungkin, dari Pelaihari, sebuah festival budaya tumbuh menjadi event yang dikenal hingga berbagai daerah di Kalimantan.
Sebab ketika masyarakat bukan hanya datang menonton, tetapi ikut merayakan dan merasa memiliki, sebuah karnaval perlahan dapat berubah menjadi identitas budaya daerah.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)