Kisah Yeldi, Perantau Indonesia yang Diuji Kehilangan Ibu di Jerman : Saya Menolak Menyerah
M Zulkodri August 16, 2026 02:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Di balik bayangan kehidupan glamor di Eropa, ada cerita tentang kesepian, kehilangan, dan perjuangan mental yang jarang terlihat.

Kisah itu dialami Yeldi Rifai, warga negara Indonesia yang kini menetap sekaligus membangun karier di Jerman.

Keputusan Yeldi meninggalkan Indonesia dan menjejakkan kaki di Jerman awalnya bukan sekadar untuk mengejar karier.

Ia ingin membuka lembaran baru sekaligus mencoba menyembuhkan luka akibat pengalaman perundungan yang pernah dialaminya ketika masih bersekolah di Indonesia.

Namun, harapan menemukan kehidupan baru justru berubah menjadi ujian berat.

Belum genap satu bulan tinggal di Jerman, kabar paling menyakitkan datang dari Tanah Air.

Ibunya, sosok yang selama ini menjadi support system terbesar dalam hidupnya, meninggal dunia.

Jarak ribuan kilometer membuat Yeldi tak bisa berada di sisi sang ibu pada saat-saat terakhir.

Kepergian tersebut meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.

Di tengah kehidupan baru yang belum sepenuhnya ia pahami, Yeldi harus menghadapi kehilangan orang terdekat tanpa keluarga di sampingnya.

Ketika Negeri Impian Berubah Menjadi Ruang Kesepian

Baca juga: Sosok Kiyotaka Mizuno, Pria Tertua di Jepag Tutup USia 111 Tahun Pernah Tugas di Indonesia

Hidup di luar negeri sering kali terlihat indah dari kejauhan. Foto kota-kota Eropa, pekerjaan, penghasilan, dan pengalaman baru seolah menggambarkan kesuksesan yang sempurna.

Namun, Yeldi merasakan sisi lain yang jauh berbeda.

Masalah adaptasi di lingkungan baru, dinamika pekerjaan, kehilangan orang terdekat, hingga tekanan sosial perlahan menumpuk.

Tidak adanya keluarga sebagai tempat bersandar membuat beban tersebut semakin berat.

Kondisi mentalnya kemudian memburuk hingga Yeldi didiagnosis mengalami depresi tingkat lanjut.

Ia bahkan harus mendapatkan perawatan medis secara intensif di Klinik Psikiatri dan Psikoterapi medbo Bezirksklinikum Regensburg, Jerman.

Bagi seorang perantau, titik tersebut menjadi salah satu fase paling gelap dalam hidupnya.

Tetapi Yeldi memilih untuk tidak berhenti di sana.

Dari Titik Terendah, Yeldi Memilih Bangkit

Baca juga: Gaji Pekerja di Kota-Kota Dunia 2026: Zurich di Puncak, Jakarta Nyaris Terbawah

Pengalaman pahit yang dialaminya justru mendorong Yeldi untuk berbicara lebih terbuka mengenai realitas kehidupan diaspora Indonesia di luar negeri.

Melalui media sosial, ia membagikan pengalaman yang selama ini jarang terlihat dari balik cerita kesuksesan bekerja di Eropa.

Ia berbicara tentang kesepian yang datang tanpa disadari, isolasi sosial, tekanan hidup, kehilangan keluarga, hingga pentingnya menjaga kesehatan mental ketika seseorang memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya.

Bagi Yeldi, berbicara mengenai kondisi tersebut bukan berarti menunjukkan kelemahan.

Sebaliknya, ia ingin generasi muda Indonesia memahami bahwa keberhasilan di luar negeri membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik dan kesiapan finansial.

“Saya tidak tahu bagaimana ceritanya bisa sampai sejauh ini dan melewati semua yang terjadi. Namun, satu hal yang saya tahu pasti, saya menolak untuk menyerah pada keadaan,” ujar Yeldi saat merefleksikan perjalanan hidupnya.

Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana ia berusaha berdamai dengan berbagai luka yang datang bertubi-tubi.

Tidak Semua Perjuangan Terlihat di Media Sosial

Kisah Yeldi menjadi pengingat bahwa kehidupan perantau di luar negeri tidak selalu seperti yang terlihat di media sosial.

Di balik foto perjalanan dan cerita tentang pekerjaan di Eropa, bisa saja ada seseorang yang sedang berjuang melawan kesepian.

Ada pula yang diam-diam menghadapi tekanan pekerjaan, kesulitan beradaptasi, atau bahkan kehilangan orang tercinta ketika berada ribuan kilometer dari rumah.

Bagi Yeldi, pengalaman tersebut kini menjadi pelajaran yang ingin ia bagikan kepada orang lain.

Ia terus menjalani pekerjaannya di Jerman sembari aktif membagikan perspektif mengenai kehidupan diaspora melalui akun Instagram @yeldirifai.

Pesannya sederhana tetapi penting: pergi ke luar negeri bukan hanya soal menyiapkan tabungan, ijazah, dan kemampuan bekerja.

Ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yakni kesiapan mental untuk menghadapi kenyataan bahwa hidup jauh dari rumah tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Sebab, di negeri orang, seseorang mungkin menemukan kesempatan baru.

Tetapi pada saat yang sama, ia juga harus siap menghadapi kesunyian, kehilangan, dan berbagai ujian yang datang tanpa aba-aba.

Dan dari pengalaman itulah Yeldi belajar satu hal: seberat apa pun keadaan, menyerah bukan satu-satunya pilihan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.