BANGKAPOS.COM -- Dalam Sidang Tahunan dan Sidang Bersama MPR, DPR, DPD RI di Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026), Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Susanah (38) sebagai pengupas bawang dengan upah Rp 700 ribu per kilo.
Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian asal Bogor, Jawa Barat, yang merupakan salah satu penerima bantuan program keluarga harapan (PKH).
Namun ternyata perempuan berusia 38 tahun tersebut bekerja sebagai buruh jahit kain majun lepas.
"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp 700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," kata Prabowo mengutip dari Kompas TV, Sabtu (15/8/2026).
Pidato tersebut mengundang reaksi dari publik utamanya mereka yang berprofesi sebagai buruh harian pengupas bawang hingga pedagang bawang.
Nominal upah yang disebut Prabowo tersebut memicu perbincangan publik karena dinilai tidak sebanding dengan harga pasaran.
Baca juga: Sosok Sunarto Ketua MA Disebut Prabowo Gaji Lebih Besar dari Ketua MA Singapura, Berapa Gajinya?
Keraguan publik akhirnya terjawab setelah video lama tentang kehidupan keluarga Susanah kembali beredar luas.
Dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden dan penjelasan Komdigi, terungkap fakta yang berbeda. Perempuan berusia 38 tahun tersebut ternyata bekerja sebagai buruh jahit kain majun lepas.
Dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang dikutip Jumat, 14 Agustus 2026, Susanah adalah seorang ibu tiga anak yang berasal dari Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Usianya kini 38 tahun dan pendidikan terakhirnya hanya sampai SD.
Susanah belum sempat mengenyam pendidikan ke jenjang selanjutnya. Namun, ketiga anaknya berhasil menempuh pendidikan lebih tinggi.
Anak pertama telah lulus SMA, anak kedua masih duduk di bangku SMP, sedangkan si bungsu masih SD.
Dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan upah sebesar Rp 700 untuk setiap kilogram kain yang dijahit. Dalam sehari, ia mampu mengerjakan 20 kg kain.
Sehingga upah yang didapat Susanah setiap hari, mencapai Rp 14 ribu.
Kehidupan sehari-hari Susanah tergolong sangat sederhana.
Ia tinggal bersama suaminya, Didim, serta seorang anak laki-laki.
Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB hingga siang hari, Susanah sibuk menjahit kain majun dari pengepul.
Seluruh peralatan dan mesin jahit yang digunakannya merupakan milik bos pemilik bahan.
Dari pekerjaan menjahit tersebut, Susanah menerima upah sebesar Rp700 per kilogram.
Dalam sehari, ia rata-rata mampu menyelesaikan jahitan hingga 20 kilogram kain.
Pendapatan harian yang dibawanya pulang hanya berkisar belasan ribu rupiah.
Baca juga: Sosok Fahira Almira, Adik Sarah Keihl Viral Kasus Salah Diagnosa Usus Buntu, Dituding Black Campaign
“Alhamdulillah ya meskipun sehari 20 kilogram ngejahit, 20 x Rp700 kan cuma berapa ya, Rp14 ribu. Ya Alhamdulillah saja buat hitung-hitung uang taruh uang simpanan, nanti kalau nggak ada uang jajan tinggal minta begitu,” ujar Susanah.
Jumlah pekerjaan yang diterimanya bisa meningkat saat hari libur tiba.
Ketika pasokan bahan dari pengepul melimpah, Susanah bersama para tetangganya dapat menyelesaikan hingga 50 ikat atau 50 kilogram kain per hari.
Rutinitas Susanah tidak berhenti di meja jahit.
Sekitar pukul 13.00 WIB, ia bergegas menuju dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di sana, ia bekerja sebagai pencuci ompreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menambah penghasilan keluarga.
“Jadi bisa bantu-bantu suami nambah penghasilan,” tuturnya.
Sementara itu, sang suami bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak pasti.
Bahkan, terdapat masa ketika Didim tidak mendapatkan panggilan pekerjaan sama sekali selama dua hingga tiga minggu berturut-turut.
Sementara itu, pihak Istana turut merespons perbincangan di media sosial mengenai pernyataan Presiden tentang upah Susanah yang mencapai Rp700 ribu per kilogram.
Pasalnya, penggalan video itu kemudian banyak diedit oleh masyarakat lalu dibagikan ke medsos dan dikomentari ribuan warganet.
Video tersebut mempertanyakan apakah nominal tersebut merupakan fakta di lapangan atau sebatas kesalahan penyebutan data.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI Prasetyo Hadi menyatakan pihaknya akan memverifikasi kebenaran data tersebut.
Sebaliknya, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan teknis secara rinci.
"Nanti kita cek ya," ujar Mensesneg Prasetyo Hadi di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Pemerintah, kata Prasetyo, berjanji akan menelusuri kembali angka pasti yang dibacakan dalam pidato tersebut.
"Kalau detailnya kita cek," pungkasnya.
Kondisi ekonomi keluarga Susanah mendapat perhatian dari Kementerian Sosial.
Pendamping PKH PSNK Kemensos, Popi Nopianti, menilai keluarga ini sangat layak menerima bantuan pemerintah setelah melihat langsung kondisi hunian dan mata pencaharian mereka.
“Memang layak dari kondisi rumah. Karena rumah kalau kita bilang termasuk tidak layak huni,” kata Popi, dari YouTube Sekretariat Presiden.
Popi juga menambahkan penilaian mengenai pekerjaan suami Susanah.
“Pekerjaan suami yang dikatakan kuli bangunan. Karena kuli bangunan tidak selamanya ada,” lanjut Popi.
Atas kondisi tersebut, keluarga Susanah tercatat aktif sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) serta bantuan sembako.
Ia juga tercatat pernah menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Meskipun harus membanting tulang dengan dua pekerjaan harian, fokus utama Susanah dan Didim adalah pendidikan anak-anak mereka.
Pasangan ini berkomitmen memastikan ketiga anak mereka tidak mengalami putus sekolah.
"Sekolah pokoknya penting buat anak. Dari mana jalannya, meskipun utang-utang, tetap sekolah. Biar dapat ijazah, biar enak ngelamar kerjanya," tegas Susanah.
Sikap pantang menyerah itu terus dijaganya demi masa depan anak-anaknya.
Di luar itu, Susanah memendam impian sederhana untuk memiliki usaha peternakan ayam mandiri agar tidak terus bergantung pada peralatan milik orang lain.
"Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos ya, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos," ungkapnya.
Ketiga anak Susanah saat ini juga tercatat menerima bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Susanah pun menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan pemerintah.
"Anak saya tiga-tiganya juga dapat PIP," kata Susanah.
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Kompas.com)