Gempa 7,7 Guncang Maumere: Allesandra Selamatkan Diri dengan Tas di Kepala, Ibunda Tewas Tertimbun
Apolonia Matilde August 16, 2026 03:19 PM

 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Suasana haru masih menyelimuti Pulau Flores, NTT pasca gempa yang dasyat berkekuatan magnitudo 7,7 di sisi utara Mbay, Kabupaten Nagekeo. 

Bencana itu mencekam dan menyisahkan trauma mendalam bagi setiap insan yang mengalami secara langsung. Seperti yang dirasakan Allesandra Patricia Lengga. 

Allesandra, Sabtu (15/8/2026), mengatakan, di dalam ruangan tunggu terminal Pelabuhan Laurens Say Maumere,  Kabupaten Sikka masih lazim. 

Hiruk pikuk penumpang, dan lalu lalang manusia begitu padat, sembari menunggu kedatangan KM Bukit Siguntang dari Makasar. 

Ia bersama lima kerabat keluarganya duduk di dalam ruang tunggu. Mereka ingin ke Kupang, ibu kota Provinsi NTT karena ada satu dan lain hal berkaitan dengan urusan keluarga. 

Pagi itu sekira mendekati pukul 06.00 Wita, KM Bukit Siguntang memberikan stom kedatangan. 

Dalam keadaan tak diduga sama sekali, suasana berubah menjadi sebuah kemelut.

Awalnya hanya guncangan kecil, namun perlahan menjadi guncangan dasyat yang datang tanpa undangan. 

"Kami tiba-tiba dengan orang teriak gempa-gempa jadi kami lari berusaha selamatkan diri masing-masing," ujarnya dengan mata yang masih memerah karena sedih.

Di dalam ruangan itu ia tak tahu harus kemana mencari keselamatan. Pintu terminal sebagai jalur evakuasi yang sempit menjadi sebuah masalah utama saat kejadian tersebut. 

Orang berdesakan, saling tabrak, bahkan ada yang sudah terjatuh pun tetap diinjak tanpa ada rasa salah dan belas kasihan. 

Ratusan manusia berhamburan melarikan diri ke luar ruangan menghindar dari tembok bangunganan yang mulai runtuh. 

Banyak tas tertinggal tanpa tuan. Tak hanya tas travell bag, kardus-kardus milik penumpang pun berhamburan, berdampingan dengan bata merah sisa reruntuhan bangunan tersebut. 

Dalam keadaan kalang kabut akibat gempa yang dasyat, Allesandra tak berpikiran apa dan siapapun lagi. 

Hanya satu yang ia lihat adalah kakaknya bernama Anggi yang juga adalah penumpang kapal yang ingin ke Kupang. 

"Kakak ini jatuh di depan saya. Saya sempat lihat dan tarik keluar," katanya. 

Dengan melindungi kepala menggunakan tas ransel, ia dan Anggi lari keluar saling rangkul. 

Di depan bangunan terminal pelabuhan, mereka berdua saling berpelukan dan menangis. Masih ada rasa takut akan ada gempa susulan. 

Dalam rombongan enam orang yang ingin ke Kupang bersama Allesandra, satu orang yang tidak terlihat sama sekali. 

Ia adalah ibunda Anggi bernama Maria Diana Meliana, warga Kota Uneng, Maumere. 

Kepanikan masih memuncak, kesedihan belum berakhir. Tangis haru, desas desus warga masih bersilewaran di sekitar pelabuhan Laurens Say. 

Setelah gempa mulai redah, tim sar, personel kepolisian datang ke lokasi mengevakuasi bangunan yang runtuh. 

Kerusakan terminal pelabuhan sangat parah. Dinding atas, tengah dan bawah bangunan roboh. 

Allesandra dan Anggi bersama keluarga masih mencari Maria Diana Meliana yang tidak ada kabar sama sekali pasca gempa. 

Saat tim SAR gabungan mulai membongkar reruntuhan bangunan, di balik reruntuhan itu tergeletak seorang wanita paruh bayah, sudah dalam keadaan meninggal dunia. 

Rupanya almarhum adalah ibunda Anggi yang dicari-cari. Secepatnya tim mengevakuasi almarhum menuju RSUD TC Hillers Maumere menggunakan ambulance. 

Di kamar jenazah, Anggi tak henti-hentinya menangis. Kepergian sang ibu adalah duka bagi semua orang. 

Semua keluarga, sahabat, kenalan yang mengenal almarhum datang memadati kamar jenazah. Mereka datang menunjukan sikap turut berbelasungkawa atas kepergian ibunda Anggi.

Maria Diana Meliana pun akhirnya disemayamkan dan dimakamlan di rumah duka di Kimang Buleng, Kota Uneng. 

Selain Maria Diana Meliana, korban lainnya adalah Bernadus Muda asal Adonara Flores Timur dan Sopia asal Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka. (moa)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.