TRIBUNJATIMTIMUR.COM, MALANG - Melimpahnya bambu di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, mulai diarahkan menjadi sumber penghasilan bernilai tambah bagi masyarakat. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen Politeknik Negeri Malang (Polinema) mendampingi ibu-ibu PKK Desa Wringinsongo mengembangkan keterampilan anyaman bambu sekaligus memperkuat tata kelola usaha dan pemasaran digital.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Pengembangan Desa Tangguh dan Mandiri Energi Berbasis Potensi Lokal pada Desa Wringinsongo Kabupaten Malang”. Program hibah multi-tahun ini memasuki tahun ketiga dari rencana tiga tahun pelaksanaan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah—Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program dilaksanakan oleh tim dosen Polinema yang diketuai Ir. Sapto Wibowo, S.T., M.T., Ph.D., dengan anggota Dr. Diana Ningrum, S.T., M.T., Evi Suwarni, S.AB., M.AB., dan Dr. Muhammad Akhlis Rizza, S.T., M.T.
Baca juga: Dorong UMKM Keripik Pisang Naik Kelas, Polinema Kenalkan Mesin Rajang Otomatis dan Pemasaran Digital
Desa Wringinsongo selama ini dikenal memiliki potensi bambu yang cukup melimpah. Namun, pemanfaatannya masih terbatas. Sebagian bambu dijual dalam bentuk bahan mentah atau kasar dengan harga relatif rendah. Kondisi tersebut membuat potensi ekonomi bambu belum memberikan nilai tambah secara optimal bagi masyarakat.
Melihat peluang tersebut, tim pengabdian menghadirkan pelatihan dan pendampingan intensif bagi ibu-ibu PKK dengan fokus pada pengembangan produk anyaman bambu yang lebih kreatif dan bernilai jual tinggi.
Kembangkan Anyaman Bambu Lebih Kreatif
Salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian adalah keterbatasan keterampilan teknis masyarakat dalam mengolah bambu menjadi produk kerajinan. Melalui pelatihan diversifikasi anyaman, peserta diperkenalkan dengan berbagai desain dan teknik pengolahan bambu yang dapat menghasilkan produk lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Ketua tim pelaksana, Ir. Sapto Wibowo, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan potensi bambu di Wringinsongo sangat besar, tetapi masih membutuhkan sentuhan keterampilan dan inovasi agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Bambu di desa ini melimpah, tetapi selama ini hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga murah. Melalui pendampingan ini, kami ingin ibu-ibu PKK punya keterampilan anyaman yang lebih variatif, sehingga produk yang dihasilkan punya nilai jual yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Melalui keterampilan baru tersebut, bambu tidak lagi sekadar dipandang sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.
Perkuat Pembukuan dan Pemasaran Digital
Selain keterampilan produksi, tim pengabdian juga menemukan tantangan dalam aspek tata kelola usaha. Pencatatan keuangan yang belum tertata serta belum tersedianya katalog produk yang representatif menjadi kendala bagi pengembangan usaha masyarakat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, peserta diberikan pelatihan pembukuan sederhana. Materi ini diarahkan agar pelaku usaha mampu mencatat pemasukan, pengeluaran, arus kas, dan kondisi keuangan usaha secara lebih tertib.
Pendampingan juga diberikan dalam pengelolaan manajemen UMKM serta strategi pemasaran digital. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan platform digital seperti TikTok dan Shopee untuk memperluas jangkauan pemasaran produk anyaman bambu.
Dengan strategi tersebut, produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar desa diharapkan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas, bahkan hingga luar wilayah Kabupaten Malang.
Baca juga: Polinema dan Institut Asia Perkuat Pengelolaan Sampah Terpadu di Kampung 7 Asrikaton
Ketua PKK Desa Wringinsongo, Lia Sudarmawati, menyambut positif kegiatan pendampingan yang diberikan oleh tim Polinema. Menurutnya, pelatihan memberikan pengetahuan baru bagi anggota PKK, mulai dari teknik membuat produk anyaman hingga cara mengelola dan memasarkan usaha.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Sekarang kami jadi tahu cara membuat anyaman yang lebih beragam, cara mencatat keuangan usaha dengan baik, sampai cara berjualan lewat TikTok dan Shopee. Harapannya produk kami bisa dikenal lebih luas dan pendapatan keluarga juga ikut meningkat,” tuturnya.
Menuju Kemandirian Ekonomi Desa
Program pemberdayaan tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Polinema dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui optimalisasi potensi lokal. Tahun ketiga pelaksanaan program diarahkan untuk memperkuat hasil pendampingan agar keterampilan dan pengetahuan yang telah diberikan dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Perpaduan antara peningkatan keterampilan produksi, diversifikasi produk, pembukuan sederhana, tata kelola UMKM, serta pemasaran digital diharapkan mampu membawa produk anyaman bambu PKK Wringinsongo naik kelas.
Tidak hanya meningkatkan nilai jual bambu, program ini juga diharapkan membuka peluang terciptanya sumber pendapatan baru bagi keluarga dan masyarakat desa. Dengan pengelolaan yang semakin profesional dan akses pasar yang semakin luas, produk lokal Wringinsongo berpeluang menjadi salah satu kekuatan ekonomi kreatif berbasis potensi desa.
Tim pelaksana menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, atas dukungan dan kepercayaan melalui pendanaan hibah Program Pemberdayaan Berbasis Desa (PDB) selama tiga tahun.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat di Desa Wringinsongo. Ke depan, pengembangan potensi bambu diharapkan tidak hanya menghasilkan produk kerajinan yang bernilai jual, tetapi juga menjadi salah satu penggerak kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
(TribunJatimTimur.com)