5.000 Warga Mengungsi Usai Gempa Gempa M7,7 47 Orang Meninggal
Alfred Dama August 16, 2026 04:19 PM

 

POS-KUPANG.COM -- Gempa bumi M7.7 yang mengguncang Flores Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 05.58 Wita memaksana 5.000 orang mengungsi ke berbagai tempat.

Sementara lainnta bertahan di rumah namun tidak berani tinggal dalam rumah lantaran gempa susulan masih terus terjadi .

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan ada lebih dari ribuan orang yang harus mengungsi.

"Memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi. Bencana ini turut menelan 47 korban jiwa dan memicu kerusakan bangunan yang sangat masif," ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Berdasarkan data BNPB per Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar saat ini ada di Kabupaten Sikka, dengan total 3.356 jiwa. Sementara ribuan lainnya tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di titik pengungsian.

Kemudian jumlah pengungsi di Kabupaten Manggarai totalnya mencapai 2.078 jiwa. Ratusan lainnya ada juga yang bertahan di Nagekeo.

"Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar, ujar Berton.

Lebih lanjut, Berton mengatakan bahwa pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai sangat membutuhkan bantuan mendesak.

"Berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset," lanjutnya.

Diketahui, gempa susulan telah terjadi sebanyak 341 kali. Akibatnya, sebanyak 47 orang meninggal dunia.

Korban paling banyak berada di Kabupaten Manggarai yaitu sebanyak 23 jiwa dan Manggarai Timur sebanyak 17 jiwa. Sementara itu, korban lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo ada 1 jiwa.


"Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam," ungkap Berton.

Kerusakan bangunan juga menjadi masalah serius. Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

"Kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, di antaranya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah," jelas Berton.

Korban dari bencana gempa NTT menjadi 47 jiwa. Kemudian ada sekira 5.000 warga yang harus mengungsi. Data masih terus diperbarui hingga saat ini. *

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.