Laporan wartawan Wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
WARTAKOTALIVE.COM, MENTENG -- Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, wisata sejarah dapat menjadi pilihan untuk mengisi suasana 17 Agustus. Salah satunya dengan mengunjungi Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok) di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat.
Museum yang menempati bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda tersebut menjadi saksi penting perjalanan sejarah bangsa.
Di tempat inilah para tokoh bangsa merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada malam hingga dini hari 16-17 Agustus 1945.
Bagi pengunjung, Munasprok tidak sekadar menyajikan benda-benda bersejarah.
Setiap ruangan membawa pengunjung untuk membayangkan kembali suasana menjelang detik-detik lahirnya Proklamasi.
Salah satu spot utama adalah ruang perumusan naskah. Di dalamnya terdapat patung Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang menggambarkan proses ketika ketiga tokoh tersebut menyusun naskah Proklamasi.
Menurut pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Suryanto, museum tersebut menyimpan memori penting mengenai proses perumusan Proklamasi yang berlangsung sehari sebelum Indonesia merdeka.
Setelah peristiwa Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta. Keduanya kemudian menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang bersedia menyediakan tempat untuk merumuskan naskah Proklamasi.
Rumah Maeda dipilih karena memiliki kekebalan diplomatik. Kondisi tersebut membuat pertemuan yang berlangsung di kediamannya tidak dapat begitu saja dibubarkan oleh pihak Angkatan Darat Jepang.
Pada 16 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 WIB, berlangsung pertemuan antara Maeda, Soekarno, dan Hatta. Setelah mengetahui Jepang berada dalam status quo dan tidak lagi dapat memberikan janji kemerdekaan, Soekarno berpandangan bahwa kemerdekaan harus segera dirumuskan.
Sekitar pukul 03.00 WIB, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo mulai menyusun naskah Proklamasi. Meja yang digunakan dalam proses tersebut kini menjadi salah satu koleksi yang dapat dilihat pengunjung.
Naskah tulisan tangan itu kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Mesin ketik yang digunakan dalam proses tersebut juga menjadi bagian dari koleksi museum.
Setelah selesai diketik, naskah Proklamasi ditandatangani Soekarno dan Hatta. Para tokoh kemudian kembali berkumpul pada pagi harinya di Pegangsaan Timur Nomor 56, lokasi yang kini dikenal sebagai Taman Proklamasi.
Selain ruang perumusan, pengunjung juga dapat melihat ruangan yang menampilkan mesin ketik serta patung Sayuti Melik.
Koleksi tersebut memberikan gambaran mengenai tahapan penyusunan naskah sebelum akhirnya dibacakan kepada rakyat Indonesia.
Ada Bunker hingga Koleksi Unik
Munasprok juga memiliki bunker yang berada di area museum. Dahulu, ruangan bawah tanah tersebut digunakan sebagai tempat berlindung.
Akses menuju bunker cukup sempit, kira-kira hanya selebar dua orang dewasa. Bagian dalamnya memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter dengan bentuk yang menyerupai segi enam.
Koleksi museum juga tidak hanya berkaitan dengan sejarah Proklamasi. Pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi lain, termasuk plakat dan prangko yang berkaitan dengan penyambutan Pemahkotaan Raja George pada 1937.
Keberadaan berbagai benda tersebut membuat kunjungan ke Munasprok tidak hanya menjadi perjalanan mengenang Proklamasi, tetapi juga memperlihatkan bagian lain dari sejarah bangunan dan Jakarta.
Salah seorang pengunjung dari SMP Tara Salvia, Abiya Rizki Ginanjar, mengaku sudah tiga tahun berturut-turut mengunjungi Munasprok bersama sekolahnya.
Menurutnya, kunjungan menjelang 17 Agustus telah menjadi tradisi sekolah. Ia tertarik karena dapat melihat secara langsung benda-benda bersejarah yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku dan pembelajaran di kelas.
Ia juga mengaku baru pertama kali mengunjungi lantai dua museum. Selain koleksi sejarah, terdapat satu bagian yang menarik perhatiannya, yakni kamar mandi.
Pengunjung lainnya, Aaliyah Jasmine Larasati, mengaku tertarik dengan warna kloset, bak mandi, hingga wastafel yang menurutnya unik. Ia tidak menyangka warna-warna yang kini dianggap menarik ternyata telah digunakan sejak zaman dahulu.
Ada Tapak Tilas Menjelang 17 Agustus
Menyambut HUT ke-81 RI, Munasprok menggelar kegiatan Tapak Tilas 2026 pada 16 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diisi dengan pengibaran bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Rombongan dari Museum Joang 45 juga dijadwalkan datang ke Munasprok. Selanjutnya, rombongan berjalan bersama menuju Tugu Proklamasi.
Kegiatan Tapak Tilas 2026 terbuka untuk masyarakat. Meski pendaftaran peserta telah ditutup, warga masih dapat datang untuk menyaksikan rangkaian kegiatan tersebut.
Pada tanggal yang sama, terdapat pula pameran fotografi dan uang yang mulai dibuka. Kedua pameran tersebut digelar di bangunan berwarna merah bata yang berada di samping Munasprok.
Untuk kunjungan reguler, Munasprok buka Selasa hingga Minggu pukul 08.00-16.00 WIB. Museum tutup setiap Senin untuk perawatan koleksi serta pada hari libur nasional mengikuti kebijakan pemerintah.
Harga tiket masuk juga relatif terjangkau. Pengunjung dewasa dikenakan tarif Rp5.000, sedangkan anak usia 3-12 tahun Rp3.000.
Lansia berusia di atas 60 tahun, bayi di bawah 3 tahun, serta penghuni panti asuhan atau yatim piatu dapat masuk secara gratis dengan menunjukkan identitas terkait.
Khusus 16 Agustus 2026, pengunjung dapat menikmati tiket gratis mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dalam rangka pembukaan kegiatan.
Arie mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenal sejarah melalui buku pelajaran. Menurutnya, museum dapat menjadi ruang belajar sejarah yang lebih menyenangkan karena pengunjung bisa melihat langsung peninggalan yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu.
"Sejarah itu sebenarnya bisa dipelajari dengan cara yang asyik," kata Arie.
Dengan tiket Rp5.000, masyarakat sudah dapat menikmati wisata sejarah di salah satu lokasi penting perjalanan kemerdekaan Indonesia. Berkunjung bersama keluarga, teman, atau pasangan juga dapat membuat pengalaman mengenal sejarah menjadi lebih menarik.
Munasprok pada akhirnya bukan sekadar tempat untuk melihat benda-benda lama.
Setiap ruangan dan koleksinya mengajak pengunjung membayangkan kembali suasana ketika para tokoh bangsa menyusun langkah menuju kemerdekaan.
Menjelang 17 Agustus, Munasprok pun dapat menjadi pilihan wisata sejarah di Jakarta untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus memahami kembali proses lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.