TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyebut pentingnya hilirisasi sumber daya alam sebagai bagian dari strategi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.
Arahan tersebut disampaikan dalam pidato Presiden saat penyampaian Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 dan Nota Keuangan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).
Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa keuntungan BUMN digunakan untuk mempercepat hilirisasi, termasuk melalui peletakan batu pertama 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026 dan 13 proyek lainnya pada 29 April 2026.
Proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pengolahan alumina menjadi aluminium. Presiden menekankan proyek-proyek tersebut menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja baru.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah menjadi produk antara.
Menurutnya, proses tersebut harus diperpanjang hingga menghasilkan produk akhir dengan nilai tambah tinggi sekaligus memperkuat ekosistem industri dalam negeri.
"Hilirisasi harus kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja yang dapat kita ciptakan. Inilah esensi industrialisasi yang sedang kita bangun," tutur Agus dalam keterangan, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Investasi Sektor Hilirisasi Tembus Rp300 Triliun, OSS akan Di-upgrade dengan AI
Pemerintah juga menempatkan penciptaan lapangan kerja sebagai salah satu indikator penting dari investasi di berbagai sektor, termasuk hilirisasi.
Kemenperin mencatat, berdasarkan data Mei 2026, industri pengolahan berkontribusi 13,53 persen terhadap penyerapan tenaga kerja nasional dari total penduduk bekerja yang mencapai 148,19 juta orang.
Baca juga: Hilirisasi Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Warga Pulau Obi
Agus menyampaikan investasi yang masuk ke Indonesia diharapkan tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, memperkuat rantai pasok domestik, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, mengembangkan sumber daya manusia, serta membuka lapangan pekerjaan.
"Kami ingin investasi yang masuk memberikan dampak ekonomi seluas-luasnya. Investasi harus menjadi bagian dari pembangunan ekosistem industri nasional, bukan berdiri sebagai enclave yang tidak terkoneksi dengan industri dalam negeri," ucap Menperin.