Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, BORONG - Gempa bumi M7.7 yang mengguncang Flores sabtu (15/8/2026) tidak hanya menyebakan korban jiwa, bangunan dan fasilitas umum tapi berdampak kepada lahan pertanian.
Berikut Cerita Petani Sawah di Borong, Manggarai Timur, Air Irigasi kering setelah Gempa Flores M7,7 menguncang daerah itu, Sabtu (15/8/2026).
Seorang Petani Sawah di Borong bernama Niko Nio mengatakan, ratusan hektar lahan sawah milik petani di tiga desa yaitu Desa Bangka Kantar, Golo Kantar, dan Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong terancam kekeringan karena saluran irigasi induk Wae Laku ditutup material longsor dampak gempa bumi itu.
Material longsor dari tebing itu menutupi saluran irigasi induk Wae Laku. Baru-batu besar bersama tanah menimbun irigasi itu sehingga berdampak pada air irigasi itu terhambat.
Baca juga: Jalan Dibuka Sejak 2019 Warga Kelurahan Bello Kota Kupang Merindukan Aspal
"Kemarin setelah gempa saya ke lokasi saya lihat dari jauh saja karena takut kalau ada gempa susulan apalagi posisi tebing dan jurang terjal di lokasi longsor. Saya foto dari jauh saja terdapat dua titik longsor baru-batu besar dan tanah menumpuk di saluran irigasi,"Ujar Niko Nio, salah satu petugas Irigasi kepada POS-KUPANG.COM, Minggu 16 Agustus 2026.
Niko mengatakan, tumpukan longsor cukup tinggi dengan baru-batu besar sehingga sulit dievakuasi menggunakan tenaga manusia.
"Sulit untuk pakai tenaga manusia, harus pakai alat berat. Kondisi ini juga saya sudah lapor ke Dinas PUPR,"ujarnya.
Sementara itu, irigasi Wae Laku mengairi sekitar ratusan hektar sawah milik petani di tiga desa yaitu Desa Bangka Kantar, Golo Kantar, dan Desa Nanga Lanang. Sementara menjadi satu-satunya penghasilan warga yang bersumber dari padi sawah.
Saat ini terlihat hampir sebagian besar lahan sawah sudah ditanami padi, ada yang sudah berusia 3 bulan, bahakan ada yang baru tanam, sayang air sudah tidak mengalir dan terancam kering sejak Sabtu siang.
Baca juga: Akibat Gempa, 27 Frater SVD Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Ikrarkan Kaul Kekal di Halaman Aula
Bertus salah satu petani setempat kepada TRIBUNFLORES.COM, Minggu menuturkan, bahwa padi miliknya bari ditanam setelah gempa bumi, Sabtu kemarin.
"Saya punya baru tanam kemarin setelah gempa, habis tanam langsung air tidak ada. Hari ini padi yang saya tanam sudah mau mati semua karena tidak ada air,"ujarnya.
Bertus juga mengaku, dengan kondisi ini, ia mengalami kerugian yang besar, sebab ia selain membeli bibit, sewa bersih pematang sewa bajak, dan sewa tanam dengan total kerugian hingga Rp 2.500.000.
"Saya rugi besar pak kondisi ini, kami minta Pemerintah untuk segera evakuasi material longsor ini karena bukan hanya saja yang terdampak, tapi begitu banyak petani yang mengalami hal yang sama,"ujarnya.
Fanus, petani lainya juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengatakan, dengan kondisi kekeringan air irigasi itu padinya yang baru berusia 2 bulan terancam kering dan gagal panen.
Baca juga: Kisah Alesandra, Selamat Berkat Tas di Kepala Saat Gempa Robohkan Ruang Tunggu Pelabuhan Lorens Say
"Kami minta pemerintah untuk evakuasi material longsor yang tutup irigasi itu, karena ini irigasi menjadi sumber kehidupan kami untuk bisa makan dari tanam padi sawah ini. Kalau tidak saya bisa rugi belasan juta rupiah,"ujarnya.
Frans petani lainya juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengaku padinya kini sedang berbunga dan terancam kering.
"Kami mohon bantu dulu bapak pemerintah, air irigasi ini sangat bantu kami selama ini,"ungkapnya.
Frans juga mengatakan, bukan hanya untuk mengairi lahan sawah, air irigasi ini juga untuk kepentingan mandi dan cuci dari warga tiga desa itu. (rob) .