SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman (MRB), Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), diwarnai momen penuh emosi.
Usai acara zikir dan doa bersama pada siang hari, ketegangan mendadak memuncak di sekitar lokasi.
Namun, alih-alih menjauh untuk mengamankan diri saat kericuhan pecah, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah alias Dek Fadh, justru memilih berjalan mendekati titik keramaian demi merangkul warga dan mendinginkan suasana.
Aksi mantan kombatan GAM ini terekam kamera warga hingga viral di media sosial.
Berdasarkan rekaman video yang beredar, Dek Fadh yang didampingi jajaran timnya melangkah menuju halaman koridor tempat wudhu Masjid Raya Baiturrahman.
Kehadirannya seketika mencuri perhatian ketika ia membuka ruang dialog terbatas dan bertatap muka langsung dengan perwakilan massa.
Tanpa jarak, Dek Fadh mengajak sejumlah orang di sekelilingnya untuk duduk bersama.
Berbicara menggunakan bahasa Aceh dengan nada tenang namun tegas, ia mendengarkan setiap keluh kesah massa secara terbuka.
Ia pun merangkul perwakilan warga tersebut dan menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk memperkeruh suasana atau memicu bentrokan, melainkan untuk melindungi seluruh masyarakatnya.
"Kita tidak untuk bertengkar di sini. Kalian semua adalah masyarakat saya," tegas Dek Fadh di hadapan perwakilan massa dalam video yang beredar di media sosial.
Baca juga: Sehari Usai Ricuh, TNI Kembali Pasang Bendera Merah Putih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Kepada sejumlah orang yang berdialog bersamanya, Dek Fadh membeberkan alasan di balik keberaniannya mendatangi titik kericuhan.
Ia menceritakan bahwa saat sedang berada di luar, ia menerima telepon yang mengabarkan situasi tegang di Masjid Raya karena adanya anggota massa yang ditahan.
Tanpa ragu, ia langsung memutuskan berangkat ke lokasi saat itu juga.
Dalam perjalanannya, ia sempat dicegah dan diminta untuk tidak mendekat ke pekarangan masjid karena situasi dinilai tidak aman.
Namun, Dek Fadh menolak balik kanan karena merasa bertanggung jawab untuk mencari jalan keluar terbaik bagi rakyatnya.
"Tadi saya ditelpon, diminta datang ke sini karena ada anggota yang ditahan. Saya katakan baik, saya pergi ke sana. Saat saya lagi dalam perjalanan, dibilang jangan ke sana. Bagaimana cara kita selesaikan masalah? Tapi saya nekat, saya tetap pergi, karena katanya ada orang-orang kita yang akan menerima," ungkapnya.
Ia menceritakan bahwa sesampainya di lokasi, ia sempat duduk berkoordinasi dengan Kapolda Aceh.
Namun, keributan kembali pecah tak lama kemudian.
Kondisi inilah yang membuatnya langsung memanggil sejumlah orang untuk bertemu di koridor dan bermusyawarah secara dingin.
Baca juga: Intelijen Ungkap Dugaan Aktor di Balik Kericuhan Hari Damai Aceh, Forkopimda Aceh Gelar Rapat Khusus
Dalam penyampaiannya kepada perwakilan massa tersebut, Dek Fadh mengingatkan bahwa tempat mereka berdiri saat ini rumah ibadah yang suci dan seharusnya dijaga dari aksi kekerasan maupun keributan.
Ia menyayangkan jika energi masyarakat habis untuk bertengkar, yang justru membuat masalah tidak akan pernah menemui titik terang.
Sebagai wakil kepala daerah, Dek Fadh menjamin dirinya akan memfasilitasi dialog resmi antara perwakilan masyarakat dengan pihak kepolisian secara utuh.
"Baru sebentar saya duduk bersama Kapolda, sudah ribut lagi. Jadi ini saya panggil, duduk di sini kita bicarakan semuanya bersama. Kalau semuanya ribut, kapan selesai masalah?" ujar Dek Fadh.
"Ini adalah masjid, rumah Allah. Ini akan saya panggil Kapolda, kita duduk bersama, apa yang ingin dibicarakan," tutupnya.
Sebelumnya, Dek Fadh sempat merespons terkait aksi pengibaran bendera Bulan Bintang dan kericuhan yang terjadi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Keterangan tersebut disampaikan Dek Fadh usai menghadiri seremonial peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Balee Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Didampingi Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan, Ketua BRA Jamaluddin, serta jajaran pihak terkait lainnya, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak kembali terjebak dalam persoalan yang dapat merusak perdamaian yang telah dirawat selama lebih dari dua dekade.
"Pesan kepada seluruh masyarakat Aceh, mari kita jaga damai ini, kedamaian, perdamaian yang berkelanjutan. Tidak ada keuntungan dalam keributan. Kami ini adalah semua pelaku sejarah. Kami, saya sendiri adalah juga mantan kombatan GAM," tegas Dek Fadh di hadapan para wartawan.
Ia mengingatkan bahwa pengalaman konflik masa lalu harus menjadi pelajaran berharga agar Aceh tidak lagi terseret dalam pertikaian yang merugikan semua pihak.
Menurutnya, aparat kepolisian dan Kapolda Aceh juga memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang di Aceh, sehingga bentrokan hanya akan membawa dampak negatif bagi bersama.
Selain aspek keamanan, Dek Fadh menekankan hubungan erat antara stabilitas kedamaian dengan kebangkitan ekonomi daerah.
Masa konflik berkepanjangan di masa lalu diakuinya telah membuat pertumbuhan ekonomi Aceh sempat tertinggal dibanding provinsi lain.
"Di saat provinsi lain telah bisa bangkit dan mereka lari, kita masih menata diri. Inilah kesempatan bagi kita dengan jalannya damai, mari kita bangkit dalam ekonomi agar masyarakat dan Aceh bisa tumbuh menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," pungkasnya.
Baca juga: Peringatan Hari Damai Aceh Ricuh, Warga dan Aparat Terluka, Kendaraan Rusak 1 Sepmor Dibakar
Dialog terbatas yang digelar Dek Fadh ini dipicu oleh eskalasi kericuhan yang terjadi sekitar pukul 11.20 WIB di kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Kericuhan bermula saat sebagian massa dari gabungan anak syuhada dan berbagai elemen masyarakat yang mengikuti doa tolak bala dan zikir hendak mengibarkan bendera Bintang Bulan di salah satu tiang kompleks masjid.
Upaya aparat keamanan yang melarang diikuti pelepasan tembakan peringatan ke udara, sontak memicu amarah massa.
Warga yang sempat tiarap kemudian bangkit merangsek dan mengejar aparat TNI/Polri hingga ke luar pekarangan masjid, tepatnya di depan pusat perbelanjaan Barata dan Gedung DPRK Banda Aceh.
Bentrokan fisik tersebut tak terhindarkan.
Lemparan batu dan botol air mineral mengarah ke barikade petugas, yang dibalas dengan tindakan pengamanan di lapangan.
Insiden ini mengakibatkan satu unit sepeda motor dinas milik TNI hangus dibakar massa, sejumlah kendaraan rusak, serta beberapa peserta aksi mengalami luka-luka di bagian kepala hingga ada yang harus dilarikan ke rumah sakit.
Selain langkah persuasif yang diambil Wakil Gubernur Dek Fadh, respons cepat di lapangan juga ditunjukkan oleh pimpinan kepolisian daerah.
Demi mencegah eskalasi bentrokan yang kian meluas di luar pekarangan masjid, Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan turun langsung menemui kerumunan massa yang masih diselimuti ketegangan.
Tanpa ragu, Ruddi menerobos barisan pasukan pengamanan dan berjalan mendekati warga secara langsung.
Dalam situasi yang masih memanas, ia membuka ruang dialog dengan mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengutamakan stabilitas keamanan daerah.
"Mari sama-sama kita jaga Aceh yang damai dan maju ke depannya," pangkas Ruddi saat berbicara di hadapan kerumunan massa.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)