Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Gua Panggung di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran, Jawa Barat bukan sekadar bentang alam karst.
Gua sepanjang sekitar 61 meter ini juga menyimpan jejak sejarah, tradisi spiritual, dan cerita rakyat yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat.
Gua berbentuk ceruk dengan tinggi sekitar 5 meter dan lebar 17 meter itu menembus bukit batu gamping hingga berujung di kawasan Pantai Timur Pangandaran. Di dalamnya terdapat stalaktit dan stalagmit yang terus dialiri tetesan air dari sela batu kapur. Sehingga tetesan air dari stalaktit kerap terdengar dan tercium aroma khusus dalam gua bagi yang memasukinya.
Memasuki lorong gua, suasana berubah sejuk dan lembap. Cahaya matahari hanya masuk dari kedua sisi bukaan.
Dari satu ujung, pengunjung dapat melihat Pantai Pasir Putih dan deretan perahu nelayan, sementara sisi lainnya mengarah ke bentang Samudra Hindia.
Namun, daya tarik Gua Panggung tidak berhenti pada keindahan geologinya. Di dalam gua terdapat sekitar 10 anak tangga menuju sebuah makam yang dibungkus kain hijau dan dilengkapi payung tradisional.
Baca juga: Hantu Gentayangan Bakal Warnai HUT RI 2026 di Pangandaran, Sebagai Aksi Protes Warga Madasari
Adapun TWA Pananjung Pangandaran di Jawa Barat berstatus sebagai Kawasan Suaka Alam / Kawasan Pelestarian Alam (zona pemanfaatan wisata) seluas sekitar 34–37 hektare yang berhimpitan langsung dengan Cagar Alam Pangandaran, di bawah pengelolaan utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui BBKSDA Jawa Barat.
Anggota Staf Resor Konservasi Sumber Daya Alam ( KSDA) Wilayah XXI Pangandaran, Hadiat Kelsaba, mengatakan makam itu diyakini sebagai tempat peristirahatan Embah Jaga Lautan atau yang juga dikenal sebagai Kyai Pancing Benar.
"Masih ada yang datang berziarah ke sini. Ada yang datang sendiri, ada juga rombongan," ujar Hadiat kepada sejumlah wartawan, Minggu (16/8/2026) siang.
Menurutnya, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama Gua Panggung. Salah satunya menyebut di dalam gua terdapat tempat menyerupai panggung yang dahulu digunakan untuk sembahyang para wali atau orang yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Versi lain menyebut nama Gua Panggung berkaitan dengan posisi makam yang berada di bagian atas gua dan menyerupai panggung.
Dalam cerita masyarakat, Embah Jaga Lautan dipercaya sebagai putra angkat Nyi Roro Kidul yang mendapat tugas menjaga lautan, terutama pesisir Jawa Barat.
Ada pula kisah yang menyebut Embah Jaga Lautan berasal dari Mesir dan datang ke Nusantara untuk menyebarkan agama Islam. Ia diceritakan memiliki tujuh istri dan dikenal sebagai sosok yang gemar memancing.
Satu kisah menyebut ia pernah mendapatkan ikan yang disebut ikan Topel menggunakan pancing berbentuk lurus. Setelah peristiwa itu, ketujuh istrinya yang sebelumnya kerap bertengkar disebut kembali hidup rukun.
Dari kisah itu, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Kyai Pancing Benar.
Kepercayaan terhadap kisah itu masih bertahan hingga kini. Sebagian masyarakat masih mencari ikan Topel karena diyakini memiliki khasiat tertentu.
Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, tentu Gua Panggung menjadi satu ruang yang mempertemukan kekayaan alam karst dengan warisan budaya dan kepercayaan masyarakat Pangandaran. (*)