Kisah Pengupas Bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Cuma Dibayar Rp3 Ribu per Kg!
Noval Andriansyah August 16, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta Timur - Di tengah tajamnya aroma yang menusuk hidung, sejumlah perempuan perantauan seperti Sulastri (56) dan Jumiatun (50) menggantungkan hidup sebagai pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sulastri yang telah melakoni pekerjaan ini selama 10 tahun harus banting tulang dari pagi hingga malam demi mendapatkan upah yang sangat minim, yakni hanya Rp3.000 per kilogram.

Ketika stok bawang melimpah, pekerja bisa mengupas hingga 20 kilogram bawang sehari untuk membawa pulang uang senilai Rp60.000, atau beralih memetik cabai dengan bayaran Rp2.000 per kilogram.

Upah harian tanpa jaminan pasti tersebut diandalkan para pekerja perempuan ini untuk bertahan hidup serta memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga seperti membeli beras, gula, dan membayar sewa kontrakan.

Proses pengupasan yang memakan waktu berjam-jam ini kerap diwarnai risiko fisik, mulai dari jari tergores pisau, rasa gatal, hingga sakit pinggang akibat terlalu lama duduk menunduk.

Penghasilan para buruh ini juga sangat bergantung pada ramai atau sepinya aktivitas perdagangan di pasar induk, di mana hari yang sepi berarti berkurangnya jumlah kuintal bawang yang bisa dikupas.

Di tengah tingginya biaya hidup di ibu kota, para pengupas bawang ini hanya menggantungkan harapan sederhana agar harga bahan pokok dapat terus terjangkau bagi rakyat kecil.

Baca Selengkapnya Cerita Sulastri Pengupas Bawang di Kramat Jati Jaktim, Diupah Rp 3.000 Per Kilogram

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.