TRIBUNBENGKULU.COM - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan latar belakang Presiden Prabowo Subianto menggagas program ambulans udara dan dokter terbang untuk masyarakat di wilayah terpencil.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan membuat layanan ambulans udara dan tim 'dokter terbang' mengevakuasi warga yang sakit di daerah pelosok.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Prasetyo, gagasan tersebut salah satunya muncul setelah pemerintah menemukan berbagai persoalan akses layanan kesehatan saat pelaksanaan program pemeriksaan kesehatan gratis.
Ia mengatakan Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga dokter, terutama dokter gigi, di tingkat fasilitas kesehatan dasar.
"Dari 10.000 Puskesmas yang kita miliki, Menteri Kesehatan melaporkan, contoh saja, ini dokter gigi, itu hanya tersedia di kurang lebih 40 persennya. Jadi 60 persen atau kurang lebih 6.000 Puskesmas kita itu tidak atau belum memiliki dokter gigi," ungkap Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Untuk mengatasi keterbatasan tenaga kesehatan tersebut, Prasetyo mengatakan Presiden Prabowo telah menginstruksikan BUMN untuk menyiapkan kendaraan medis bergerak.
Kendaraan tersebut nantinya dirancang menyerupai layanan kesehatan keliling atau mobile dentist yang dapat mendatangi masyarakat secara langsung.
"Presiden juga sudah memerintahkan dan sedang dikerjakan oleh BUMN kita untuk membuat semacam mobile dentist. Jadi mobil untuk perawatan atau kesehatan dokter keliling, semacam home care yang nanti ini diharapkan bisa membantu mempercepat dulu mengatasi masalah terutama masalah kesehatan gigi rakyat kita," jelasnya.
Menurut Prasetyo, layanan medis bergerak tersebut akan menjadi salah satu upaya pemerintah mempercepat pemerataan pelayanan kesehatan, terutama di daerah yang masih kekurangan tenaga medis.
Selain mobile dentist, pemerintah juga menyiapkan konsep dokter terbang.
Prasetyo menjelaskan, kondisi geografis Indonesia yang luas menjadi salah satu alasan layanan kesehatan berbasis udara diperlukan.
Menurutnya, masih terdapat wilayah yang sulit dijangkau fasilitas kesehatan sehingga membutuhkan moda transportasi cepat seperti helikopter.
"Nah, kenapa kemudian muncul juga ide mengenai dokter terbang, istilah terbang itu karena dalam beberapa kali kesempatan kita berkeliling ke seluruh wilayah di Indonesia memang negara kita sangat luas ya, jangkauan fasilitasnya belum merata," terangnya.
Ia mengatakan konsep tenaga medis yang diterjunkan menggunakan transportasi udara sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Menurut Prasetyo, sejumlah negara telah menggunakan helikopter sebagai unit reaksi cepat untuk memberikan pelayanan medis di wilayah terpencil.
"Di beberapa wilayah itu juga menerapkan hal yang sama untuk unit reaksi cepat kesehatan itu juga ada yang berbasis helikopter. Itu untuk melakukan penanganan dengan jauh lebih cepat khusus di daerah-daerah yang terpencil," katanya.
Pengembangan layanan medis bergerak tersebut akan dilakukan bersamaan dengan pembenahan fasilitas kesehatan secara fisik.
Pemerintah juga tengah melakukan revitalisasi sejumlah Puskesmas dan RSUD serta mendorong penambahan kuota mahasiswa di fakultas kedokteran untuk mempercepat penambahan tenaga medis.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana pemerintah menyediakan layanan ambulans udara dan tim dokter terbang untuk masyarakat di daerah pelosok.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo mengatakan ambulans udara nantinya menggunakan helikopter dan pesawat kecil yang dapat beroperasi di wilayah dengan kondisi geografis sulit.
"Kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, gagasan tersebut salah satunya didorong oleh laporan mengenai tingginya risiko kematian ibu hamil di wilayah yang sulit mendapatkan akses transportasi menuju fasilitas kesehatan.
Ia mencontohkan adanya ibu hamil yang harus menempuh perjalanan darat selama berjam-jam karena kondisi jalan dan jembatan yang belum memadai.
"Saya mendapat laporan banyak ibu-ibu yang meninggal karena harus menempuh jalan 7 jam sampai 9 jam pada saat melahirkan," ujar Prabowo.
"Pada saat sudah waktu mau pecah (ketuban), harus 9 jam karena tidak ada jalan yang baik, karena jembatan tidak bagus. Akhirnya banyak ibu-ibu meninggal di daerah-daerah yang tidak jauh dari Ibu Kota," lanjutnya.
Selain mengevakuasi pasien menggunakan ambulans udara, pemerintah juga akan menyiapkan tim medis yang dapat langsung diterjunkan ke lokasi pasien.
"Salah satu jalan adalah ambulans udara, bahkan nanti juga tim dokter terbang. Kalau perlu dokter yang terbang ke tempat rakyat sakit keras atau menghadapi bencana," imbuh Prabowo.
Program tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan medis sekaligus memperkecil kesenjangan akses layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil di Indonesia.