TRIBUNNEWS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengungkap update terbaru informasi mengenai bangunan rumah yang rusak pasca-gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu kemarin.
Sebagai informasi, wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi dengan magnitudo 7,7 pada Sabtu pagi (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB.
Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT.
Gempa tersebut, memiliki kedalaman 15 kilometer dengan koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur.
BMKG mencatat bahwa pergerakan sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan kuat dan potensi tsunami.
Sehingga, pasca-gempa, BMKG sempat mengeluarkan pemutakhiran peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).
154 Unit Rumah Warga Rusak
Menurut catatan BNPB pada Minggu (16/8/2026) atau hari kedua pasca-gempa, terdapat 154 rumah warga yang dinyatakan rusak berat pasca-gempa.
Sementara, 49 rumah tercatat mengalami kerusakan tingkat sedang, dan 38 unit rumah lainnya rusak ringan.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyebut, pemerintah akan terus mempercepat pendataan sehingga nantinya warga terdampak dapat memperoleh hak atas dukungan perbaikan pemerintah dengan tepat.
"Hingga hari ini, hari kedua, data dari daerah yang masuk ke BNPB untuk rumah rusak berat berjumlah 154 unit, rumah rusak sedang 49 unit, dan rumah rusak ringan 38 unit," kata Abdul Muhari dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (16/8/2026) sore.
Baca juga: Update Korban Gempa NTT, Korban Meninggal Bertambah Jadi 53 Jiwa, 135 Korban Luka Dirawat
"Tentu saja data ini masih berkembang, dan dinamis, dan sekali lagi kita akan melakukan percepatan-percepatan dalam penghitungan, verifikasi, dan validasi data supaya proses-proses yang berkaitan dengan administrasi nantinya, by name, by address, dari warga terdampak yang memiliki hak untuk mendapatkan dukungan perbaikan rumah rusak dari pemerintah bisa kita segerakan."
Abdul juga mengatakan, tim di lapangan dan pemerintah pusat akan terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk memastikan jumlah pengungsi agar data yang diperoleh sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Untuk pengungsian, saat ini tim di lapangan termasuk para menteri yang juga sudah masuk di tujuh kabupaten/kota terdampak, akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan kembali jumlah pengungsi, termasuk pengungsian mandiri, supaya data ini benar-benar bisa merepresentasikan kondisi riil di lapangan," jelas Abdul.
Trauma Gempa dan Tsunami 1992
Abdul lantas memaparkan, dari laporan visual yang diterima, masyarakat masih bertahan di tempat pengungsian, tidak hanya karena kondisi rumah yang rusak, tetapi juga karena masih ada rentetan gempa susulan.
"Dari laporan visual yang kita terima di Pusdalops BNPB, ada beberapa tempat di mana masyarakat masih bertahan sejak hari pertama, tidak hanya dikarenakan kondisi rumah bangunan saudara-saudara kita yang terdampak oleh gempa, tetapi juga oleh kondisi psikologis di mana aftershock masih ada yang dirasakan," ucap Abdul.
Selain itu, Abdul menilai, masyarakat masih bertahan di pengungsian juga karena ada memori tentang peristiwa gempa bumi dan tsunami 1992.
"Beberapa masyarakat ini berpengalaman pada saat gempa dan tsunami tahun 1992, sehingga kondisi psikologis ini yang masih menjadi trauma dan mendorong masyarakat tetap berada di tempat pengungsian, sampai sisi psikologis ini atau kondisi aftershock bisa benar-benar meluruh," paparnya.
Peristiwa gempa bumi dan tsunami Flores 12 Desember 1992 masih melekat di ingatan kolektif masyarakat NTT.
Pusat gempa berada di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer di sebelah utara Maumere.
Tsunami besar dengan ketinggian hingga 25 meter di beberapa titik, menyapu pesisir utara Flores dan meluluhlantakkan infrastruktur serta rumah warga.
Dalam sejarah kebencanaan Indonesia, peristiwa ini menjadi salah satu gempa paling mematikan sebelum era modern sistem peringatan dini tsunami dibangun.
995 Kali Gempa Susulan
Masih dalam konferensi pers virtual yang sama, Abdul mengungkap, hingga Minggu (16/8/2026) sore pukul 15.00 WIB, total ada gempa susulan berjumlah 995 kali.
"Tetapi yang dirasakan oleh masyarakat dari total gempa susulan 995 kali, hanya 46 kali. Artinya, tidak lebih dari 10 persen," tuturnya.
Namun, Abdul meminta untuk masyarakat terdampak agar tetap tenang, karena rentetan gempa susulan adalah fenomena alam yang harus dilalui, karena diperlukan agar patahan yang menyebabkan gempa dapat kembali ke kondisi stabil.
"Yang perlu kita pahami, gempa susulan diperlukan oleh struktur patahan gempa yang terjadi agar kembali stabil," ujar Abdul.
"Jadi, ini adalah fenomena alam yang memang harus kita lalui, dan kita harap energi yang lepas segera meluruh sehingga gempa susulan tidak lagi signifikan dan tidak lagi dirasakan masyarakat."
(Tribunnews.com/Rizki A.)