Trump Diam-Diam Ganti Pesawat, Wartawan Merasa Dikibuli, Ada Kejanggalan Sebelum Air Force One Lepas Landas
TRIBUNNEWS.COM - Operasi pengamanan rahasia yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump saat meninggalkan Turki pada Juli 2026 memunculkan persoalan baru terkait keselamatan dan transparansi terhadap wartawan yang ikut dalam rombongan kepresidenan.
Sejumlah jurnalis yang berada dalam pesawat bersama Trump mengaku merasa “dikelabui” setelah mengetahui kalau sang presiden diam-diam meninggalkan pesawat yang mereka tumpangi dan berpindah ke pesawat lain karena adanya informasi intelijen mengenai potensi ancaman dari Iran.
Persoalan utamanya bukan semata mengenai keputusan Trump untuk menggunakan pesawat alternatif.
Baca juga: Truk Katering Jadi Bagian Operasi Rahasia Pemindahan Trump dari Air Force One Gegara Ancaman Rudal
Kritik muncul karena para wartawan yang tetap berada di pesawat pertama disebut tidak mengetahui bahwa mereka menjadi bagian dari operasi pengalihan tersebut.
Peristiwa itu terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Turki pada Juli.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari sejumlah media AS, intelijen memperingatkan bahwa Iran diduga mengetahui lokasi Trump secara spesifik sehingga muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan upaya pembunuhan.
Trump kemudian dipindahkan secara rahasia ke pesawat lain yang dikaitkan dengan pesawat kepresidenan baru hadiah Qatar. Sementara itu, pesawat yang membawa wartawan dan sejumlah pejabat tetap melanjutkan perjalanan.
Sekitar 12 wartawan dari berbagai organisasi media ikut dalam perjalanan tersebut.
Mereka berasal dari:
Beberapa wartawan menyadari adanya aktivitas tidak biasa sebelum pesawat meninggalkan Turki.
Tiga wartawan melihat sebuah kendaraan katering ditempatkan di posisi yang tidak biasa di dekat pesawat.
Belakangan diketahui kendaraan tersebut diduga berkaitan dengan proses pemindahan Trump secara diam-diam.
“Kamu tentu tidak menyangka presiden akan masuk diam-diam ke dalam van katering,” ujar salah seorang wartawan, seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Setelah pesawat mengudara, kru kemudian meminta para penumpang menutup tirai jendela. Tidak ada penjelasan mengenai alasan instruksi tersebut.
Bagi sejumlah wartawan, perintah tersebut terasa tidak biasa karena lebih sering mereka temui ketika melakukan penerbangan menuju atau dari kawasan konflik.
Salah seorang reporter juga memperhatikan Trump naik ke pesawat dengan sangat cepat.
Wartawan lainnya merasa janggal karena Trump tidak memberikan pengarahan kepada pers sebelum perjalanan dimulai.
Trump kemudian berbicara kepada wartawan dalam kesempatan berikutnya.
Pesawat Boeing 747 yang membawa wartawan dan sejumlah pejabat bukan pesawat sipil biasa.
Pesawat tersebut dilengkapi sistem pertahanan, termasuk flare yang dapat digunakan untuk mengelabui atau mengganggu rudal berpemandu panas.
Dua pejabat AS juga menyebut adanya pengawalan pesawat tempur F-16 dalam perjalanan tersebut. Salah satu pejabat mengatakan sejumlah jet tempur terbang di sekitar pesawat Trump untuk sebagian perjalanan.
Namun, aspek keamanan ini justru menjadi bagian dari pertanyaan yang muncul setelah operasi tersebut terungkap.
Jika benar terdapat kekhawatiran terhadap ancaman dari Iran, muncul pertanyaan apakah para wartawan dan staf yang tetap berada di pesawat telah mengetahui risiko yang mereka hadapi.
Laporan Washington Post juga menyebut CIA memiliki tingkat keyakinan yang “rendah” terhadap adanya ancaman dari Iran. Detail tersebut menambah kompleksitas persoalan karena informasi mengenai tingkat ancaman dan langkah mitigasinya tidak diketahui oleh para wartawan pada saat penerbangan berlangsung.
Washington Post mengutip empat wartawan yang mengatakan mereka baru memahami berbagai kejanggalan selama penerbangan setelah mengetahui operasi pemindahan Trump.
Gedung Putih disebut tidak memberikan penjelasan kepada mereka selama perjalanan maupun setelah operasi tersebut selesai. Kondisi itu membuat sebagian wartawan merasa kecewa dan tertipu serta mempertanyakan apakah keselamatan mereka telah dipertimbangkan secara memadai.
“Kami tidak pernah diberi kesempatan untuk menyetujui bahwa kami akan digunakan seperti ini,” kata salah seorang wartawan yang dikutip The Washington Post.
Wartawan tersebut menegaskan bahwa mereka bukan anggota Angkatan Udara AS maupun Secret Service. Dengan demikian, mereka tidak pernah menyatakan kesediaan untuk secara sadar mengambil risiko sebagai bagian dari operasi perlindungan terhadap presiden.
Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai batas antara kebutuhan operasi keamanan nasional dan hak wartawan untuk mengetahui risiko keselamatan yang mungkin mereka hadapi.
Sejumlah organisasi pers AS mengecam keputusan tersebut.
Presiden National Press Club Mark Schoeff Jr. menyebut meninggalkan wartawan di dalam pesawat sebagai bagian dari operasi pengelabuan keamanan sebagai tindakan yang “sangat mengkhawatirkan”.
Perwakilan Committee to Protect Journalists (CPJ), José Zamora, juga menekankan pentingnya transparansi ketika keselamatan jurnalis dipertaruhkan.
Sementara itu, Kepala Biro Washington The New York Times, Richard Fausset? Stevenson, menyebut episode tersebut sebagai bentuk “penipuan terang-terangan” dan memperingatkan bahwa tindakan semacam itu dapat menciptakan preseden buruk.
Menurutnya, wartawan dan staf pemerintah yang tidak mengetahui operasi tersebut secara tidak sadar dapat ditempatkan dalam situasi yang berpotensi berbahaya.
Direktur regional AFP, Marc Lavine juga menilai situasi tersebut mengkhawatirkan, terutama ketika organisasi media mengetahui bahwa mereka telah disesatkan dalam sebuah operasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan jurnalis.
Presiden White House Correspondents' Association, Jacqui Heinrich, turut menyoroti persoalan lain: mekanisme koreksi setelah operasi keamanan selesai.
Menurut Heinrich, wartawan seharusnya memiliki cara untuk mengoreksi informasi yang tidak akurat atau menyesatkan setelah operasi berakhir. Tanpa mekanisme tersebut, katanya, jurnalis dapat mulai mempertanyakan apakah informasi yang mereka lihat dan laporkan secara independen masih dapat dipercaya.
Kasus ini memperlihatkan dilema klasik dalam peliputan kepresidenan AS.
Di satu sisi, Secret Service dan aparat keamanan memiliki kewajiban menjaga keselamatan presiden, termasuk menggunakan taktik pengalihan untuk menghadapi ancaman potensial.
Di sisi lain, wartawan yang mengikuti presiden dalam perjalanan resmi bukan personel keamanan.
Mereka menjalankan tugas jurnalistik dan perlu mengetahui risiko keselamatan yang secara langsung memengaruhi mereka.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah operasi pengamanan dapat tetap dirahasiakan dari wartawan apabila kerahasiaan tersebut membuat mereka secara tidak sadar ikut menjadi bagian dari strategi pengalihan ancaman.
Persoalan itu menjadi semakin sensitif karena pesawat yang membawa wartawan justru disebut berfungsi sebagai bagian dari pengalihan untuk membuat lokasi Trump yang sebenarnya lebih sulit diketahui.
Dengan kata lain, operasi tersebut bukan hanya memindahkan presiden ke pesawat lain, tetapi juga berpotensi menggunakan keberadaan wartawan sebagai bagian dari gambaran perjalanan yang sengaja dibuat berbeda.
Bagi kalangan pers, persoalan tersebut menyentuh fondasi hubungan antara Gedung Putih dan korps wartawan kepresidenan: kepercayaan.
Jika jurnalis tidak mengetahui bahwa informasi atau posisi mereka dapat menjadi bagian dari operasi keamanan, kemampuan mereka untuk mengambil keputusan terkait keselamatan dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah juga dapat terpengaruh.
Kasus pergantian pesawat Trump akhirnya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang operasi pengamanan presiden.
Peristiwa tersebut membuka perdebatan mengenai seberapa jauh pemerintah dapat merahasiakan informasi demi keamanan nasional dan kapan kewajiban untuk melindungi keselamatan jurnalis harus menjadi pertimbangan utama.
Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, perdebatan ini kemungkinan akan terus muncul setiap kali perjalanan presiden melibatkan potensi ancaman keamanan dan operasi pengelabuan.
(oln/wn/rtrs/afp/cnn/berbagaisumber/*)