Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Langkah aparat merespons pengibaran bendera Bulan Bintang di Aceh dinilai terlalu berlebihan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI).
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof), menegaskan bahwa tradisi tahunan tersebut sebenarnya sudah diatur secara resmi dalam MoU Helsinki.
"Kalau pengibaran bendera Bulan Bintang itu kan sebenarnya tercantum juga dalam MoU Helsinki, perayaan hari kemerdekaan mereka tiap tahun selalu terjadi seperti itu,” kata Athof, Minggu (16/8/2026).
“Tapi kenapa sekarang menjadi berbeda dan berlebihan dari rezim serta aparat menanggapinya?" tanyanya.
Pemerintah dinilai salah fokus karena justru mengabaikan pemulihan nasib warga Aceh yang masih sengsara akibat bencana hingga hampir sepuluh bulan lamanya.
Proses perbaikan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, hingga hunian layak bagi korban bencana di Aceh dilaporkan masih sangat lambat dan jauh dari kata selesai.
Kritik tajam BEM UI tidak hanya berhenti di Aceh, tetapi juga menyasar respons amarah masyarakat di jalanan saat menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto di DPR.
Baca juga: Pertanyakan Kemerdekaan, BEM UI Siapkan Gelombang Aksi Massa di Bundaran HI
Aksi klakson serentak yang dilayangkan para pengguna jalan menjadi simbol kejengkolan rakyat terhadap jajaran pejabat negara yang dinilai makin jauh dari realita kehidupan.
"Nah itulah, karena yang terjadi sekarang rezim ini, termasuk Presiden, tuli kepada kenyataan dan tuli kepada keresahan publik," tegasnya.
Masyarakat kini berada di titik terpuruk karena tetap diwajibkan membayar pajak tinggi meski harus menanggung sendiri biaya pendidikan dan kesehatan yang kian mencekik.
Athof mengingatkan bahwa pajak merupakan kontrak sosial antara negara dan warga, sehingga pelanggaran atas komitmen tersebut akan merusak kepercayaan rakyat secara mendasar.
Menyikapi gelombang kekecewaan ini, BEM UI mengisyaratkan siap mengadopsi berbagai aksi kreatif, termasuk gaung klakson massal pada gelombang demonstrasi mahasiswa berikutnya.
"Harapannya nanti pas aksi, mahasiswa bukan mewakili rakyat, tapi mahasiswa adalah bagian dari rakyat sehingga dapat bersama-sama bahu-membahu menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan," pungkasnya. (m38)