TRIBUNNEWS.COM - Keluarga Susanah, wanita yang sempat viral lantaran disebut Presiden RI Prabowo Subianto sebagai pengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram, angkat bicara.
Wina, kakak ipar Susanah, membantah pernyataan Prabowo tersebut.
Menurut Wina, Susanah bekerja di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) unit atau fasilitas pusat pengolahan menu makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
SPPG tempat Susanah bekerja terletak di daerah Bojong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Meski demikian, Wina menambahkan, pekerjaan utama Susanah adalah penjahit kain majun.
Wina juga membantah upah Susanah yang disebutkan oleh Prabowo.
"Itu tidak benar. Ibu Susanah itu bekerja di MBG, dan juga penjahit kain majun [kain perca, red] dengan harga 700 perak per kilo. Itu tidak benar kalau dia pengupas bawang dengan harga 700 ribu per kilo, itu tidak benar," kata Wina ketika ditemui jurnalis di kediaman Susanah, Minggu (16/8/2026).
"Di SPPG tujuh bulanan, daerah Bojong. Pekerjaan utama penjahit."
Pantauan Tribunnews pada liputan langsung TribunBogor.com, tampak rumah Susanah yang terletak di Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor dalam kondisi yang sangat sederhana.
Rumah tersebut sebagian dicat hijau, sebagian dinding lain tidak dicat serta masih berupa tumpukan batako, dengan tiang dan kusen pintu kayu yang mulai lapuk atau terkelupas.
Terlihat tumpukan-tumpukan kain perca dan mesin jahat di bagian dalam dan depan rumah, dekat pintu.
Baca juga: Prabowo Targetkan Ekonomi Tumbuh 6 Persen di 2027, Kabinet Bayangan: Optimis, tapi Kualitas Memburuk
Rumah Susanah juga berada di kawasan padat penduduk.
Sementara itu, Wina saat diwawancara mengungkap, dirinya tidak tahu banyak soal Susanah diundang ke Jakarta bersama suaminya untuk menghadiri rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI (HUT RI) ke-81.
Namun, kata dia, Susanah berangkat sejak Rabu (12/8/2026) sore.
"Kalau masalah diundang, saya kurang tahu. Saya tahunya, dia diundang ke Istana," tuturnya.
"Berangkat ke Jakarta Rabu, sore maghrib. Dijemput.
Menurut Wina, pakaian dan fasilitas untuk Susanah sudah disiapkan oleh panitia.
"Kebaya disiapkan di sana, fasilitas disiapkan di sana, tidak boleh pakai biaya pribadi," ucap Wina.
Keluarga Terkejut
Wina mengaku, pihak keluarga terkejut ketika Prabowo menyebut upah Susanah sebagai pengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogramnya.
Menurut dia, Susanah juga pasti ikut kaget mendengar pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) itu.
"Bingung itu, kita kaget, dia juga kaget pasti. [Susanah] pekerja ompreng MBG, penjahit lap majun, upahnya 700 perak per kilo," ungkap Wina.
"Saya rasa dia pasti kaget ya, tapi memang dia sejauh ini belum berbicara apa-apa, karena memang kita komunikasi jarang selama dia di sono [Jakarta]."
Wina menyebut, Susanah tidak merasa namanya jadi populer gara-gara klaim Prabowo, melainkan adik iparnya itu pasti lebih ke merasa bingung.
"Kalau masalah ngetop, saya rasa pikiran dia pasti bingung dan kaget," ujarnya.
Lebih lanjut, Wina menyebut mengungkap bahwa suami Susanah bekerja sebagai buruh bangunan.
"Suami buruh bangunan, anaknya tiga, satu baru lulus, dan dua masih sekolah," kata Wina.
Sebagai informasi, nama Susanah jadi sorotan setelah disebut oleh Prabowo dalam pidatonya saat Sidang Tahunan dan Sidang Bersama MPR, DPR, DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Berbicara di depan hadirin, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai seorang buruh harian asal Bogor, Jawa Barat kepada ratusan anggota DPR RI.
Susanah merupakan salah satu penerima bantuan program keluarga harapan (PKH).
Prabowo menyebut, Susanah sebagai buruh harian pengupas bawang yang disebut mendapatkan upah sebesar Rp700.000 per kilogram (kg).
"Hari ini, hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram. Program Keluarga Harapan dan program sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," kata Prabowo.
Pernyataan Prabowo mengenai Susanah dan upah Rp700.000 per kg sebagai pengupas bawang langsung menuai sorotan.
Sosok Susanah sudah terungkap di situs resmi milik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang dikutip Jumat, 14 Agustus 2026, Susanah adalah seorang ibu tiga anak yang berasal dari Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Usianya kini 38 tahun dan pendidikan terakhirnya hanya sampai SD. Susanah belum sempat mengenyam pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Namun, ketiga anaknya berhasil menempuh pendidikan lebih tinggi. Anak pertama telah lulus SMA, anak kedua masih duduk di bangku SMP, sedangkan si bungsu masih SD.
Dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan upah sebesar Rp700 untuk setiap kilogram kain yang dijahit. Dalam sehari, ia mampu mengerjakan 20 kilogram kain.
Sehingga upah yang didapat Susanah setiap hari, mencapai Rp 14 ribu.
Namun pendapatan ini bisa berbeda saat hari libur, di mana Susanah yang menjahit kain majun bersama ibu-ibu lainnya bisa menjahit hingga 50 kilogram.
"Jam 7 (pagi) menjahit sampai siang," kata Susanah dalam wawancara tersebut.
Tak berhenti sampai di situ, pada siang hari sekira pukul 13.00 WIB, Susanah sudah berpindah tempat bekerja.
Ia segera ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bertugas sebagai pencuci ompreng.
Pekerjaan itu dilakoninya setiap hari demi mendapatkan tambahan penghasilan.
Sementara itu, suami Susanah yaitu Didim, juga bekerja sebagai buruh bangunan. Hanya saja, penghasilannya tidak menentu karena pekerjaan tidak selalu tersedia.
Bahkan ada masa di mana Didim tidak mendapatkan pekerjaan selama 2 hingga 3 minggu.
Di tengah keterbatasan keluarga, Susanah dan Didim tetap menempatkan pendidikan ketiga anak mereka sebagai prioritas utama.
Susanah mengaku, tak ingin pengalaman putus sekolah yang dialaminya terulang pada anak-anaknya.
Ia juga rela berutang demi kebutuhan pendidikan anak-anaknya terpenuhi.
Beruntungnya, mereka termasuk sebagai penerima bansos PKH dan Bansos Pangan Non Tunai (BPNT) alias bansos.
Sementara anak-anaknya juga terdaftar sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).
Susanah mengaku, bansos PKH membantu menopang ekonomi keluarga. Sementara kehadiran program MBG turut memberinya kesempatan untuk memperoleh pekerjaan tambahan.
Dia mimpi punya usaha sendiri agar tidak terus bergantung pada pekerjaan milik orang lain.
"Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos ya, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos," katanya.
(Tribunnews.com/Rizki A./Sri Juliati) (TribunBogor.com/Rahmat Hidayat)