TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Tangis keluarga dan ratusan warga masyarakat pecah kala tiga peti jenazah korban kecelakaan maut yang terjadi di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur tiba di rumah duka yang beralamat di Desa Campursalam, Kecamatan Parakan, pada Minggu (16/8) malam.
Ketiga korban masing-masing adalah Slamet Riyanto, Wijiyanto, dan Faozan Ridlo, yang masih berstatus kerabat satu sama lain.
Tak ada yang menyangka memang, lantaran mereka sejatinya berniat hendak merantau untuk sebuah pekerjaan di Provinsi Kalimantan Utara.
Baca juga: Aksi Damai Peternak Temanggung Bagikan 5.000 Ayam Gratis, Pemkab Kawal Aspirasi ke Kementan
Nahas, ketiganya meninggal dunia di tengah perjalanan usai kendaraan yang mereka tumpangi terlibat kecelakaan maut di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada Jumat (14/8).
Ketiga jenazah sempat disemayamkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai Berau.
Sempat terkendala oleh besarnya biaya pemulangan dan keterbatasan ekonomi pihak keluarga, seluruh jenazah akhirnya dapat diterbangkan menuju rumah duka usai Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Pemerintah Desa Campursalam menanggung seluruh biaya pemulangan yang nilainya mencapai lebih dari Rp 100 juta.
Tak lama usai tiba di rumah duka, ketiganya disholatkan dan langsung dimakamkan di TPU desa setempat.
Bupati Temanggung, Agus Setyawan, yang hadir secara langsung ke rumah duka menyatakan turut berbela sungkawa mendalam atas meninggalnya para pejuang keluarga tersebut.
Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan membantu kepulangan ketiga jenazah tersebut.
"Semoga almarhum meninggal dalam keadaan syahid karena tengah berjuang untuk menafkahi keluarga. Semoga segenap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran," ungkapnya.
Kapela Desa Campuranom, Hanif Ra'is, mengungkapkan bahwa ketiganya berangkat merantau dengan alasan dorongan ekonomi. Ketiganya berangkat menuju perantauan sejak tepat sepekan sebelum kejadian.
"Mereka meninggalkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, baik SD maupun SMP. Bahkan, korban Faozan meninggalkan balita yang masih berusia satu tahun," benernya.
Ditambahkan, proses pemulangan ketiga jenazah awalnya sempat terkendala oleh besarnya biaya. Namun, berkat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Temanggung, ketiganya akhirnya dapat diterbangkan menuju rumah duka.
"Pemdes tidak dapat memenuhi seluruh biaya pemulangan jenazah, tetapi setelah kami meminta tolong Pak Bupati, alhamdulillah jenazah korban akhirnya dapat dibawa pulang, " ungkapnya.
Baca juga: Satu Paket Sabu Buka Cerita Lama, Dua Residivis di Temanggung Kembali Ditangkap
Sementara itu, Darus Ta'adi, salah seorang tetangga korban, menuturkan bahwa ketiganya baru sekali ini merantau ke wilayah Pulau Kalimantan.
Disebutkan, rencananya mereka akan bekerja di sebuah proyek penambangan yang berada di wilayah Kalimantan Utara, menyusul dua tetangga yang terlebih dahulu bekerja di lokasi yang sama.
"Selama ini ketiga korban dikenal sebagai pekerja keras dan baik dalam bersosial, " kenangnya. (*)