Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
POS-KUPANG.COM - Apakah kita masih merasa memiliki sebuah tanah air yang bernama Indonesia?
Saya tidak tahu mengapa harus mengajukan pertanyaan ini, ketika Indonesia merayakan HUT yang ke- 81 tahun.
Sebuah bentangan usia yang sudah tidak balia lagi. Sebuah usia yang sejatinya menampakkan kebijaksanaan (perdamaian) di tengah ketidakpastian global, karena telah melewati jalan panjang sejarah dan tinggal menikmati warisan atau hasil perjuangan masa lalu.
Sayangnya, kita tak dapat mengingkari bahwa besarnya usia tak pernah menjauhkan kita dari kerisauan dan kecemasan.
Krisis dan persoalan multidimensional sedang dan masih terus menghiasi panggung Indonesia saat ini. Lantas, pertanyaan itu mendorong aksi, sebab ziarah bangsa ini tengah menemui jalan buntu.
Baca juga: Opini: Merdeka Setengah Tiang
Memang jika merenungkan Indonesia dengan segala isinya, kita patut bersyukur karena memiliki Indonesia yang begitu luas dan amat indahnya.
Sepertinya tidak ada bangsa mana pun di dunia ini yang bisa menandingi keindahan Indonesia.
Kemajemukan latar belakang masyarakat Indonesia yang tersebar di ribuan pulau saja sudah menjadi goresan artistik paling mencengangkan dunia.
Ketika kita memandang peta Indonesia, dengan cepat keheranan mencekam pikiran kita karena dengan entengnya ribuan pulau terbentang dari sabang sampai mereka dan hanya disatukan dengan nama Indonesia.
Itulah sebabnya Indonesia menjadi salah satu keajaiban dunia yang pernah ada. Indonesia menjadi sebuah entitas yang mewakili energi humanitas untuk membangun kesatuan hidup bersama.
Lebih tepatnya ada roh sejarah tentang sinergitas kekuatan membangun yang namanya Indonesia.
Tapi kita perlu mengingat bahwa sejarah Indonesia tidak pernah segemerlap catatan historis dalam sejumlah buku sejarah kita.
Dulu kita menghadapi tragedi demi tragedi. Bahkan ada banya rancangan yang hendak meruntuhkan bangsa tercinta ini. Barangkali dulu ada bayangan kita tentang Indonesia terlampau mengawang-awang.
Kita membayangkan sebuah negara dengan setumpuk kekayaan dan kebanggan yang melampaui bangsa lain. Itu semua ada karena akhlak kita masih punya keseganan untuk merusak, mencuri, mencabik, melukai, merampok harta karun bangsa ini demi kepentingan pribadi atau rezim tertentu.
Namun apa artinya bangsa Indonesia saat ini. Ketika Papua dengan organisasi OPM dan sekelompok di Aceh meneriakkan “ingin merdeka” kita kehilangan kebanggaan kita.
Ironisnya beragam persoalan kemanusiaan lainnya seperti tragedi pengeroyokkan di Bali baru-baru ini hingga persoalan kemiskinan dan tenaga kerja.
Kita memang membutuhkan ruang untuk memikirkan kembali Indonesia. Kita mesti mendefinisikan kembali Indonesia yang perlahan-lahan terkoyak ini.
Tidak ada alasa lain yang lebih rasional untuk merumuskan kembali substansi keindonesiaan kita, selain semakin menguatnya kenyataan bahwa Indonesia sedang merancang perilaku menuju kepunahan.
Soalnya, panggung Indonesia lebih dominan diisi dengan pertarungan liar memperebutkan kekuasaan. Belum lagi beragam perilaku amoral yang melanggar hak asasi manusia.
Kalau boleh jujur tingkah laku politik kita dari pusat hingga daerah niscaya dapat disimpulkan bahwa kita tidak lagi membutuhkan Indonesia sebagai “nation state”.
Pembuntutan politik, supremasi hukum, represi politik, diskriminasi ekonomi, Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), penghancuran kultural, merupakan ekspresi sikap-sikap yang tidak membutuhkan Indonesia sebagai “nation state”.
Ada keraguan dalam diri saya, untuk apa mempertahankan Indonesia kalau Ia hanya mencetak sejarah ketidakadilan bagi segenap anak Indonesia.
Kita tidak harus mempertahankan Indonesia ketika ia menjadi rumah penampung orang-orang yang tidak lagi menghargai martabat manusia. Orang-orang yang cenderung menghakimi orang lain tanpa sedikitpun melihat ke dalam diri dan memaafkan orang lain.
Kita tidak harus mempertahankan Indonesia ketika kita memikirkan nasib Indonesia di tangan para mafia politik dan kekuasaan.
Bagaimana mungkin kecerdasan memikirkan Indonesia, bisa menang melawan rezim “sok pintar” yang melulu tampil ke panggung publik dan menyuarakan Indonesia yang “sedang baik-baik saja”.
Tidak sedikit kita menyaksikan pergerakkan mahasiswa di kampus hingga di tengah-tengah jalanan yang meneriakan reformasi jilid II. Mereka menilai bahwa reformasi Indonesia sudah mati di tangan rezim yang berkuasa saat ini.
Angka yang bisa saja menuju kejatuhan atau naik. Barangkali kemungkinan terbesar adalah angka yang memberi tanda bahwa Indonesia sedikit lagi menuju kejatuhan.
Inilah yang boleh dinilai sebagai rezim yang sekadar ganti baju tapi spiritnya masih orde baru. Bajunya mungkin “Indonesia Baru” namun mentalitasnya masih “Indonesia Lama”. Jasnya reformasi tapi badannya masih orde baru.
Patut diakui bahwa semangat reformasi memang sedang tercabik-cabik. Situasi perpolitikkan sedang digiring dalam kubangan kepentingan segelintir orang yang sangat menjauh dari visi dasar reformasi.
Semangat pergolakan di tahun 1998 serasa sirna digenggaman politik penguasa yang tak kalah “kece” tapi minim pencapaian. Pemerintah rasa-rasanya tidak sedang bertanggung jawab mengawal amanat reformasi.
Visi-misi reformasi ditutup oleh slogan-slogan yang kelihatan baik namun minim aksi. Beragam program yang tak sesuai dengan kebutuhan massa namun terus saja digencarkan.
Politik Indonesia justeru menghasilkan para penjilat yang hanya menguntungkan kepentingan sendiri di balik setiap kebijakan yang dibuat.
Para elite politik menjadikan demokrasi sebagai ajang mencekik rakyat sementara hukum tampak tumpul atau kehilangan kegerangannya ketika berhadapan dengan persoalan seputar KKN. Bangsa Indonesia benar-benar sedang tidak baik-baik saja.
Di daerah-daerah, para elite politik juga senantiasa sibuk membicarakan siapa yang akan menjadi gubernur, wakil gubernur, bupati dan wakilnya, dan seterusnya.
Bagi petahana, sekarang saatnya menghabiskan uang pembangunan hanya sekadar untuk menarik simpati rakyat. Berbagai jurus politik mulai dimainkan di sana sini.
Saking fokusnya memainkan “jurus politik”, rakyat seolah-olah dilupakan. Yang paling penting adalah peluang untuk berkuasa tetap terjaga dan kursi kekuasaaan bisa aman. Lantas tiada hari tanpa kebohongan dan tiada kebohongan tanpa pembenaran.
Indonesia sungguh sebuah negara yang miris. Ia tidak mengenal jati dirinya lagi. Ia kehilangan identitas kultural yang telah berakar kuat. Perlahan-lahan terjadi proses pembusukan mentalitas.
Sungguh disayangkan pengorbanan para pendidik sejak Taman Kanak-Kanak (TKK) hingga Perguruan Tinggi yang telah mengajarkan kejujuran dan solidaritas.
Di luar sana, justru berkembang model pengajaran yang sistematis, efektif dan lebih besar jangkauannya yakni tentang bagaimana dengan mudah memperoleh sesuatu lewat KKN.
Tinggal kongkalikong dengan sesama elite politik dan pihak peradilan maka sesuatu mudah teratasi.
Persoalan yang seharusnya dijerat dengan hukuman justru dibiarkan begitu saja. Bisa dibayangkan berapa oknum dengan sepak terjang pencuri berkeliaran di luar negeri.
Quo Vadis Indonesia? Adalah pertanyaan yang pantas diajukan kepada bangsa tercinta ini di usianya yang ke-81, pada tahun 2026 ini.
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dilontarkan jika Indonesia berhasil mematok target-target masa depan dengan kebijakan yang jelas.
Sesungguhnya kita tidak harus berbangga bahwa di usia yang terbilang “tua” ini, bangsa kita tetap berdiri kokoh.
Apalah gunanya bangsa kita berdiri di atas berbagai penderitaan masyarakat kecil yang belum teratasi dengan baik.
Berbagai kebijakan perlu dibenahi, apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Jangan jadikan bangsa ini sebagai bangsa “peminta-minta” hanya karena program yang cenderung masuk kantong.
Jika Indonesia tetap seperti ini, maka inilah kisah masa tua yang sungguh mengenaskan tentang sebuah bangsa.
Aku rindu Indonesia! Sungguh, tinggal sebuah kalimat patah di hari ulang tahunmu. Selamat Hari Ulang Tahun. Semoga panjang umur dan berlimpah kebijaksanaan. (*)