TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Operator kompetisi sepak bola nasional, I.League, resmi merilis jadwal Super League 2026/2027. PSIM Yogyakarta akan mengawali musim dengan menjamu Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Sabtu (5/9/2026).
Secara keseluruhan, Laskar Mataram akan menjalani 34 pertandingan pada musim ini, dengan rincian 17 laga kandang dan 17 pertandingan tandang.
Namun, jadwal tersebut langsung mendapat kritikan dari pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel. Pelatih asal Belanda itu menilai kalender kompetisi musim ini cukup tidak biasa karena distribusi pertandingan yang tidak merata.
Van Gastel bahkan menyebut jadwal Super League 2026/2027 sebagai sesuatu yang “gila”. Menurutnya, PSIM akan menghadapi periode yang sangat padat, khususnya pada November dan Desember.
“Gila,” ujar Van Gastel sembari tertawa ketika ditanya mengenai jadwal kompetisi musim ini, Senin (17/8/2026).
Ia menjelaskan, padatnya pertandingan tidak terlepas dari agenda internasional. Kompetisi harus tertunda karena adanya Piala AFF 2026, kemudian kembali memasuki jeda pada Januari 2027 karena Piala Asia.
“Karena ada Piala Asia Tenggara, liga harus ditunda, dan itu wajar. Lalu pada Januari ada Piala Asia, sehingga liga berhenti lagi,” kata Van Gastel.
Kondisi tersebut membuat pertandingan PSIM menumpuk pada periode tertentu. Bahkan, pada Desember 2026, Laskar Mataram dijadwalkan bermain enam kali di kompetisi Super League.
PSIM akan menghadapi Java United pada 5 Desember, kemudian bertemu PSS Sleman dalam Derby DIY pada 10 Desember.
Setelah itu, PSIM menghadapi Arema pada 14 Desember, Bali United pada 18 Desember, Garudayaksa pada 22 Desember, dan Persib Bandung pada 27 Desember.
“Akibatnya, ada periode dengan banyak pertandingan dalam waktu singkat. Ditambah lagi adanya Piala Liga. Kalau melihat jadwal, November dan Desember sangat padat,” ujar Van Gastel.
Situasi tersebut semakin menantang karena PSIM juga harus tampil di League Cup. Seluruh pertandingan fase grup turnamen tersebut digelar pada hari kerja, yakni pada 3-5 November, 24-26 November, dan 1-3 Desember 2026.
Dengan demikian, PSIM harus bersiap menghadapi rangkaian pertandingan yang padat dalam rentang waktu kurang dari dua bulan.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Van Gastel untuk menjaga kebugaran dan konsistensi skuad.
Di sisi lain, PSIM justru tidak memiliki pertandingan liga sepanjang Januari. Setelah itu, pada Maret, Laskar Mataram hanya dijadwalkan menjalani dua pertandingan lawan Bhayangkara dan PSM Makassar.
“Januari kami tidak bermain, lalu Maret hanya dua pertandingan. Jadi jadwalnya benar-benar gila. Saya tidak tahu apakah pernah ada situasi seperti ini sebelumnya, tetapi bagi saya ini sangat tidak biasa,” tuturnya.
Di tengah kalender kompetisi yang padat tersebut, Van Gastel tetap memasang target untuk musim keduanya bersama PSIM. Ia membagi target tim menjadi dua, yakni target realistis dan ambisius.
Target realistisnya adalah memastikan PSIM tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Sementara target ambisiusnya adalah membawa Laskar Mataram finis lebih baik dibandingkan musim lalu.
“Ada dua target. Yang pertama target realistis, yaitu tidak terdegradasi. Yang kedua adalah target ambisius, yaitu tampil lebih baik dari musim lalu,” kata Van Gastel.
Meski memiliki ambisi untuk memperbaiki pencapaian musim lalu, Van Gastel meminta timnya tetap fokus pada target utama. Sebab, ia menilai persaingan Super League 2026/2027 bakal jauh lebih berat.
“Namun mari fokus pada target pertama, karena saya rasa kompetisi musim ini jauh lebih kuat dibanding musim lalu,” tegasnya.