SURYA.co.id, SURABAYA – Bertahun-tahun mengawal pengembangan pabrik di berbagai negara membuat Ir. Rudy Hartono Prayogo, S.T., M.T., ASEAN Eng, APEC Eng. terbiasa menghadapi persoalan bisnis yang kompleks.
Sebagai Planning & Controlling Project Manager, Rudy terlibat dalam proyek sejak tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, hingga pengendalian. Pengalaman tersebut kini ia bawa ke ruang akademik melalui Program Doktor Manajemen dan Entrepreneurship Universitas Ciputra (UC).
Bagi Rudy, pendidikan doktoral bukan sekadar mengejar gelar.
Studi tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus memperluas cara pandang dalam menjalankan profesinya.
Baca juga: Akademisi Universitas Ciputra Surabaya : Potensi Batik Ngentrong Trenggalek Besar
“Keinginan saya adalah mengembangkan diri menjadi lebih baik, termasuk untuk karier. Saya ingin mengembangkan pola pikir dan mindset yang lebih luas,” ujar Rudy.
Rudy memiliki pengalaman menangani proyek pengembangan fasilitas manufaktur di sejumlah negara, di antaranya Nigeria, Pakistan, dan Myanmar.
Proyek tersebut umumnya bermula dari aktivitas ekspor produk. Ketika penjualan menunjukkan performa positif dan proyeksi pasar memperlihatkan peluang pertumbuhan, perusahaan kemudian mempertimbangkan pembangunan fasilitas produksi di negara tujuan.
“Setelah dilihat dari sisi penjualan dan forecast-nya bagus, kami kemudian menginisiasi pengembangan proyek baru, yaitu pembangunan pabrik,” jelasnya.
Fasilitas yang dikembangkan Rudy mencakup berbagai sektor produksi, mulai dari pabrik mi instan, sabun batang, powder detergent, hingga liquid detergent.
Keterlibatannya dimulai sejak tahap awal. Setelah proses inisiasi dan perencanaan, ia turut mengawal eksekusi serta pengendalian proyek hingga fasilitas produksi selesai dan memasuki tahap operasional.
“Dari situ kami menginisiasi proyek tersebut. Setelah itu, kami mengeksekusi pengembangan pabrik baru dan melakukan pengendalian. Setelah pabrik selesai dan beroperasi, saya kemudian terlibat di bagian operasional,” tuturnya.
Mobilitas pekerjaan membuat Rudy terbiasa berpindah dari satu negara ke negara lain untuk memastikan proyek berjalan sesuai perencanaan.
Pengalaman berhadapan dengan karakter organisasi, lingkungan bisnis, dan dinamika proyek yang berbeda turut memengaruhi arah penelitian disertasinya.
Dalam studi doktoralnya, Rudy mengangkat penelitian mengenai pengaruh keunggulan kepemimpinan digital dan orkestrasi transformasi adaptif terhadap peningkatan kinerja serta keberlanjutan organisasi.
Menurut Rudy, transformasi digital tidak cukup hanya dengan menerapkan teknologi.
Perubahan juga membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyelaraskan berbagai unsur dalam organisasi agar transformasi benar-benar berdampak terhadap kinerja.
“Melalui disertasi saya nanti, saya ingin melihat bagaimana transformasi digital dapat tersinkronisasi dan sekaligus meningkatkan kinerja serta sustainability perusahaan,” ungkapnya.
Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas, terutama bagi organisasi yang sedang menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi dan tuntutan bisnis.
“Dari aspek kepemimpinan, transformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja sekaligus sustainability perusahaan,” tambahnya.
Keputusan Rudy melanjutkan pendidikan doktoral di UC juga dipengaruhi faktor akademik.
Ia mengaku telah mengenal sejumlah guru besar yang terlibat dalam program doktoral tersebut. Menurutnya, pengalaman dan keilmuan para pengajar relevan dengan kebutuhan studinya.
“Saya memilih UC karena mengenal beberapa guru besar. Mayoritas pengajar S3 merupakan guru besar yang memiliki kapabilitas sangat kuat,” ujarnya.
Selain perkuliahan, diskusi dengan dosen dan guru besar menjadi bagian penting dalam proses studinya.
Forum tersebut menjadi ruang bagi Rudy untuk menguji gagasan penelitian, mempertajam analisis, sekaligus mendapatkan perspektif berbeda.
“Saya sangat puas dengan proses brainstorming dan diskusi yang dilakukan. Saya bisa mengembangkan analisis dan menghasilkan output yang sangat baik,” katanya.
Menjalani pendidikan doktoral sembari tetap aktif menangani proyek membuat Rudy harus disiplin mengatur waktu.
Rutinitas pekerjaan berlangsung pada hari kerja. Sementara malam hari dimanfaatkan untuk membaca, melakukan analisis, dan mengembangkan penelitian disertasi.
“Saya membagi waktu. Senin sampai Jumat saya tetap menjalankan kegiatan pekerjaan. Di sela-sela kesibukan, malam hari saya gunakan untuk mengerjakan disertasi,” ungkapnya.
Jadwal bimbingan pun menyesuaikan aktivitas profesional. Untuk asesmen tertentu, Rudy terkadang berdiskusi dengan dosen setelah jam kerja, sekitar pukul 17.00 hingga 18.00.
Pada akhir pekan, bimbingan bersama dosen maupun guru besar juga menjadi bagian dari agenda studinya.
Saat ini, Rudy telah menyelesaikan tahap proposal disertasi. Pada semester berikutnya, ia akan melanjutkan penelitian ke tahap analisis sebelum menghadapi sidang kelayakan dan sidang tertutup.
Rudy berharap penelitian yang dikembangkan selama studi doktoral tidak berhenti sebagai persyaratan akademik.
Ia ingin hasil penelitian tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia industri, terutama dalam menghadapi transformasi digital dan perubahan lingkungan bisnis.
Pengalaman menempuh pendidikan doktoral juga membuka kemungkinan bagi Rudy untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman profesionalnya melalui dunia akademik.
“Tidak menutup kemungkinan saya juga berkarier sebagai dosen,” ujarnya.
Bagi Rudy, pendidikan doktoral di UC menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman panjang di dunia industri dengan perspektif akademik.
Berbagai persoalan yang ditemuinya saat mengawal proyek lintas negara kini menjadi bahan refleksi dan kajian untuk memperdalam pemahaman tentang manajemen, kepemimpinan, transformasi digital, serta keberlanjutan organisasi.